
Setelah semuanya selesai, aku pulang ke rumah Paula. Mereka pasti menyediakan tempat untukku di istana, memberiku satu sayap penuh jika aku memintanya, tapi rasanya salah jika aku tetap berada di sana. Aku ingin memastikan tabibnya datang. Ingin memberi tahu guruku apa yang terjadi. Lagi pula, di tengah kekacauan yang terjadi setelah acara nyaris penobatan itu, hanya ada beberapa orang yang menyadari kepergianku. Ratu, yang meremas tanganku tanpa berbicara. Bella, yang meninggalkan para penyihir, bangsawan, dan konselor untuk menghampiriku.
“ Kau tidak bilang akan memantraiku,” dengusnya.
“ Aku tak menyadarinya. Aku tak tahu aku bisa melakukannya, sampai itu terjadi.”
Bella mengangkat alis. “ Sihir hebat, untuk seseorang yang nyaris tidak sanggup menyamarkan kita tadi pagi.”
Aku mengedikkan bahu dengan lelah. Setelah mengeluarkan sihir sebanyak itu, aku merasa siap ambruk, “ itu ada di dalam diriku. Kepingan jiwamu itu. Jadi itu aku. Dan itu artinya bisa dibilang, kau dan..”aku menelan ludah. “ Kau dan Riana, kalian berdua adalah aku juga. Kita semua sama. Itu nyaris mustahil dilakukan orang lain, selain Melani dan Omar. Tapi memantrai dirimu sendiri sangat mudah dilakukan. Dan kupikir… yah, kupikir aku takkan kehilangan apa pun.”
__ADS_1
Kami berpandangan, sengaja tidak menatap podium tempat Riana gugur. Tak seorang pun dari kami mengatakan aku salah, bahwa ada yang hilang.
“ Aku akan mengunjungimu,” ujar Bella sebelum dia di panggil lagi. “ Jangan pikir aku takkan melakukannya.”
Tidak ada orang lain yang melihatku pergi. Hanya Devan, yang memelukku erat-erat tanpa mengatakan apa-apa, lalu membiarkan aku pergi. Sejak dulu dia selalu tahu apa yang kubutuhkan, bahkan lebih dari aku sendiri.
Di rumah Paula, aku menemukannya terbaring di tempat tidur, terbalut salep dan mantra penyembuh. Gema mendapat perawatan setupa tapi tidak seintensif itu, dan dia menceritakan peristiwanya pada para pelayan dan kepala pelayan yang sudah kembali ke rumah. Aku memeriksa keadaan mereka berdua, memberitahu kepala pelayan agar memperingatkan penjaga kota mengenai kehadiran dua oranf begundal yang mungkin masih mengawasi rumah ini, lalu tidur.
Paula, dalam sosok aslinya yang keras kepala, bangun pada hari kedua, terbungkus selimut di atas salah satu kursi ruang kerjanya dan memberikan pengarahan untuk membersihkan ruangan. Dia mengendus udara saat pertama melihatku, lalu tersenyum.
__ADS_1
“ Ada yang berubah,” ujarnya. “ Aku bisa merasakannya, dan tahu tidak, aku tidak pernah salah mengenai hal semacam ini.”
“ Aku tahu,” jawabku sambil tersenyum. “ Dan memang sudah berubah.”
“ Bagus,” hanya itu yang dikatakan Paula. Kemudian dia memintaku membersihkan ruang kerja menggunakan sihir, bukan tanganku.
Paula benar. Ada sesuatu yang berubah. Aku merasa…lebih longgar, lebih santai menjadi diriku sendiri. Sihir yang selama ini berusaha untuk kukendalikan, dan malah meletup-letup kacau, sepertinya sudah tenang di dalam diriku. Sihirnya ada di sana, dan terkadang berkeras ingin digunakan, tapi lebih damai.
Jangan lupa; like, vote, dan komen ya guys. Terima kasih🙏🥰😘🌹
__ADS_1
Bersambung