PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 43


__ADS_3

Mungkin sebagian orang tidak tahu, atau jika pernah mendengar nama si putri palsu, mereka sudah melupakannya. Tetapi perempuan di hadapanku memicingkan mata, jelas-jelas sedang berpikir.


“ Amelia,” ujarnya sambil memalingkan wajah. “ Di mana aku pernah mendengar nama…. Ah.”


Perempuan itu menepuk-nepuk dagunya, sambil mengamatiku. “ Aku pernah bertemu denganmu, saat kau masih kecil. Aku mengunjungi istana untuk meminta izin memetik Anggrek darah dari taman untuk salah satu eksperimenku. Di bagian Thorvaldor ini tidak ada tempat lain yang memiliki tanaman itu, sangat sulit dibudidayakan… Kau sedang bermain, bersama seorang bocah lelaki, seingatku begitu. Kau memberitahuku di mana letak anggreknya.”


Perempuan itu melirik gedung yang tadi kutinggalkan & menggelengkan kepala lagi.


“ Aku tidak terlalu peduli aturan mereka, sejak dulu juga tidak,” tiba-tiba dia berkata. “ Jadi aku akan mengajarimu.”


“ Kau akan mengajariku apa?” tanyaku.

__ADS_1


“ Sihir,” bentaknya, “ Kecuali kalau aku salah & otakmu selamban yang terlihat sekarang. Mungkin penampilanku tidak memperlihatkannya, tapi aku seorang Master, kalau itu ada artinya bagimu. Tapi tidak secara cuma-cuma. Aku butuh seorang penyalin. Kurasa saat di istana kau belajar cara menulis dengan rapi?”


Aku mengangguk.


“ & kau juga harus bisa melakukan penelitian.”


” Aku bisa melakukan keduanya,” aku berkata takjub.


“ Bagus. Aku sangat sibuk dengan semua eksperimenku, jadi takkan punya banyak waktu untukmu, tapi itu lebih baik daripada membiarkan sihirmu membunuhmu. Omong-omong, namaku Paula. Aku tidak tinggal di kampus. Sudah bertahun-tahun keluargaku memiliki sebuah rumah di kota G, & aku merasa tidak ada yang lebih buruk dari hidup berdempetan dengan sekelompok penyihir lain.”


Namun, aku tidak punya waktu lama untuk memikirkan karena angin topan yang baru saja menghantamku.

__ADS_1


“ Kau mau ikut tidak, Amelia Muller?” dengan tidak sabar Paula memanggilku dari balik pundaknya.


Kali ini aku tidak ragu menjawab. “ Ya,” seruku,& bergegas membuntutinya.


Begitulah ceritanya hingga aku bisa tinggal di Vivaskari untuk kedua kalinya. Sebagai imbalan atas tugasku sebagai penyalin &, sebenarnya, asisten peneliti, setengah pustakawan, & melakukan apa pun yang diminta Paula saat itu, aku diberi tempat menginap, pelajaran sihir, & gaji sebesar dua keping perak setiap minggunya.


Penghasilan seorang penyalin asli tidak sekecil itu, tapi sebagian besar penyalin tidak mendapat pelajaran sihir sepertiku. Lagi pula, aku belum pernah mendapat penghasilan sendiri, & bahkan dua keping perak itu membuatku nyaris mabuk kepayang dengan penghasilan yang kudapat dengan kerja keras.


Rumah Paula berada di distrik Goldhorn yang terletak di samping benteng istana & distrik Sapphire,& merupakan provinsi yang dihuni para saudagar kaya & orang kaya baru yang tidak memiliki gelar kebangsawanan. Tempatnya tidak semewah Sapphire tapi cenderung lebih terhormat daripada di Guildhall atau South Gate.


Rumahnya sendiri terdiri atas tiga lantai. Lantai pertama digunakan Paula untuk menemui teman-temannya & beberapa penyihir yang mau menerima sikap eksentriknya. Aku mengetahui bahwa Paula tidak terlalu dianggap di kampus, tapi setidaknya ada segelintir penyihir yang tidak meremehkannya, & terkadang mereka berkunjung untuk membicarakan sihir bersamanya.

__ADS_1


Lantai dua ditujukan khusus untuk pekerjaannya, terdiri atas ruang kerja & berbagai ruang eksperimen. Lantai tiga merupakan tempat tinggal para pegawainya, termasuk aku. Kamarku tidak luas tapi lebih besar dari kamar yang kubagi bersama Bibi Vania. & aku menempatinya sendirian. Selain aku, Paula mempekerjakan seorang tukang masak, kepala pelayan, bocah istal yang bertugas mengurusi dua ekor kuda, & dua orang pelayan . Namun, akulah satu-satunya penghuni rumah berkekuatan sihir selain Paula.


Bersambung


__ADS_2