PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 56


__ADS_3

Wajahku terasa bengkak, seperti saat menahan tangis. “ Contohnya?


Devan menggelengkan kepala & mengedikkan bahu. “ Hal-hal yang kaulakukan. Kau seperti apa.” Dia tersenyum padaku, tapi senyum lemah. “ Aku tidak menceritakan bahwa kau ceroboh, kau tidak bisa berjalan tanpa melukai dirimu sendiri.”


Aku berusaha menanggapinya dengan santai, & menjulurkan lidah pada Devan, tapi aku melakukannya dengan setengah hati.


“ Awalnya aku merasa mengkhianatimu. Aku tidak mau menyukainya. Tapi kemudian kupikir, yah, kalian berdua sebenarnya berada dalam posisi yang sama. & aku berharap ada seseorang yang bersikap baik padamu, jadi kupikir sebaiknya aku bersikap baik padanya.”


“ Oh, ya,” aku berkata masam. “ Dia tiba-tiba menjadi putri & aku tiba-tiba bukan siapa-siapa, & kami berada pada posisi yang sama.”


“ Yah, memang,” Devan berkata lebih tegas dari dugaanku. “ Kalian sama-sama tidak mengharapkannya. Dia juga kebingungan. Semua orang berusaha membuatnya senang, tidak ada yang benar-benar mengobrol dengannya. Dia butuh teman.”

__ADS_1


Aku ingin membentak Devan, atau mungkin naik ke tempat tidur & menutup telingaku dengan selimut, tapi aku hanya menunduk. Dengan sedikit malu aku tersadar bahwa aku cemburu. Cemburu karena Devan menyukai Diana, menganggapnya, meskipun sedikit, bisa menggantikan aku. Inikah yang dirasakan Devan saat aku memamerkan Jose saat di Treb, merasa panas dingin saat bersamaan? Tetapi aku sudah berusaha bersikap penuh kebencian, sedangkan Devan tidak. Bahkan di tengah rasa sakit ini, aku harus mengakui perbedaannya. Meskipun begitu, itu tidak mencegahku untuk berkata, dengan agak cemberut, “ Apa sekarang kau lebih senang bersamanya? Kalau mau, kau boleh pergi. Aku yakin di istana ada acara yang lebih menarik daripada di sini.”


“ Sebenarnya ada acara pertunjukan sandiwara,” ujar Devan “ Ada sekelompok aktor Farvasee yang menginap di istana. Malam ini mereka menampilkan komedi baru, seharusnya lumayan bagus.”


Aku bisa merasakan keningku berkerut saat menatap pangkuanku dengan keras kepala.


“ Demi Dewa Tanpa Nama, kadang- kadang kau seperti seekor sapi bodoh.”


Aku langsung mendongakkan kepala. “ Beraninya” semburku, tapi Devan menggelengkan kepala & tersenyum.


Ketulusan suara Devan membuatku sadar betapa keras kepalanya aku di matanya. “ Maaf,” gumamku.

__ADS_1


“ Tak apa-apa,” Devan berkata santai. “ Aku sudah menunggumu menanyakannya sebelum ini.” Cukup lama kami menyesap minuman tanpa bersuara, lalu Devan menambahkan,” Tapi kurasa dia sudah menduga kau ada di sini. Tempo hari dia mengatakan sesuatu yang membuatku mempertanyakannya.”


Aku menelan ludah, tidak ingin memperlihatkan betapa takutnya aku. “ Apa dia akan melaporkannya?” tanyaku. “ Aku tak mau… aku hanya tak mau ada yang tahu. Dimana aku berada, bahwa aku di sini. Entah kenapa.”


“ Kurasa tidak. Meskipun begitu, aku takkan kaget jika dia datang mencarimu. Kurasa dia punya pertanyaan untukmu.”


Dan itu masalah yang bahkan tidak kupertimbangkan sebelumnya. Aku tidak tahu apakah aku ingin bicara dengan Diana, aku tidak yakin apakah aku siap untuk mencari tahu soal itu. Tetapi aku sudah cukup mengacaukan malam ini, jadi aku hanya berkata, “ Yah, kita lihat saja saat hal itu terjadi.”


Namun, tidak sesederhana itu. Pada pertemuan kami berikutnya, aku & Devan bertengkar mengenai hal itu.


“ Dia sudah tahu,” Devan memberitahuku.

__ADS_1


Kami sedang duduk di taman belakang rumah Paula, saat Devan memberitahuku, sambil mengamati air mancur yang menciprat ke dalam kolam di dasarnya.


Bersambung


__ADS_2