PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 41


__ADS_3

Melani pasti mengenaliku jika melihatku. Aku mengenalnya, setidaknya dari jauh, sejak kecil. & aku tidak ingin dikenali. Mungkin aku tidak akan memedulikannya seandainya aku duduk di tepian air mancur sambil menikmati kenyataan bahwa aku akan segera mendapat tempat di kampus, yakin bahwa aku mendapat tempat dalam kehidupan. Namun sekarang, dengan keadaanku saat ini, aku sangat peduli. Aku tidak mau terlihat sebagai orang yang kalah & tersesat yang memang akan segera menjadi kenyataan.


Cadar yang kugunakan untuk menutupi rambut sudah berantakan karena aku menarik-nariknya dengan gugup saat berada di kantor Petugas Penerima. Aku membiarkan cadarku menjuntai ke depan untuk mengaburkan wajah & membungkukkan kepala saat Melani lewat. Meskipun begitu, aku tidak bisa menahan diri agar tidak melirik perempuan itu, jantungku berdebar saat menunggunya mengenaliku.


Namun tidak ada yang terjadi. Tatapan matanya melintasiku lalu menjauh seakan-akan aku hanya bagian dari kolam. Melani mengangkat tangan saat menyapa seseorang di seberang halaman, lalu pergi.


Seharusnya aku merasa lega, tapi entah mengapa aku merasa sedih.

__ADS_1


Masalahnya sama, Melani yang sama sekali tidak mengenaliku & penolakan kampus. Tanpa gelar bangsawan atau uang yang bisa menutupi kekurangan itu, aku bukan siapa-siapa. Aku tidak punya kelas sosial & tidak punya kesempatan untuk mendapatkannya. Semula aku menduga kampus penyihir akan mengizinkanku untuk mendapat tempat di dunia, tak peduli aku dilahirkan dari kelas sosial mana. Namun sekarang, saat duduk di halaman, tidak dianggap oleh siapa pun, aku menyadari bahwa selama ini aku belum pernah mendengar seorang penyihir Thorvaldian beraksen khas seseorang yang berasal dari kelas bawah, belum pernah mendengar ada murid yang masuk karena mendapat beasiswa.


Sebelumnya aku tidak pernah memikirkan ini, sama halnya seperti orang-orang yang ada di sekelilingku sekarang. Namun tentunya itu hal tang gila, membiarkan orang-orang memiliki sihir liar di dalam diru mereka, hanya karena mereka bukan bangsawan atau lahir dari keluarga kaya? Tentunya raja & ratu akan menyadari akan hal itu & memerintahkan kampus untuk mengubah aturan mereka?


Tidak, bisik sebuah suara pelan di dalam kepalaku. Untuk apa mereka memedulikan seorang pria miskin yang menyakiti dirinya sendiri atau keluarganya dengan sihir yang tidak bisa dikendalikannya? Bagaimanapun, mereka bersedia membiarkan anak seorang penenum terbunuh agar putri sesungguhnya bisa hidup. & tidak keberatan mengusirnya setelah selesai memanfaatkannya.


Airnya meletup & bergolak di sekitar jemariku, mengirim gelombang ke sisi lain air mancur. Karena takut & kaget, aku menarik lengan kuat-kuat hingga terjatuh dari tepian air mancur & mendarat di atas permukaan batu halaman dengan suara keras. Telingaku seakan menderu & kilat menyambar-nyambar di dalam ototku. Aku menyakiti diriku sendiri, ini kali ketiga aku menggunakan sihir tanpa sengaja selama tiga hari terakhir, mungkin aku akan membunuh diriku sendiri sebelum sempat menemukan seorang penyihir Farvasee yang bisa melatihku.

__ADS_1


“ Nah, itu mengesankan, yah, mengesankan.”


Kalimat itu menyela pikiranku yang kacau balau, & saat mendongak aku melihat seseorang berdiri di atasku.


Orang itu tergelak sambil menatapku.


“ Sungguh, kau tak boleh duduk di atas tanah lebih lama lagi. Aku tak bisa menerima kotoran atau orang kotor. Berantakan, ya, & orang yang berantakan, kecuali aku mencari tanaman, maka itu tak tertolong lagi.”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2