
Rasanya badai itu mengamuk selama berjam-jam, tapi aku tahu itu hanya berlangsung selama beberapa menit. Sedikit demi sedikit anginnya menghilang, hujannya turun lebih lembut. Saat tidak ada lagi serpihan yang tertiup ke dalam kamar selama beberapa saat, Devan akhirnya mendorong tubuhnya bangkit dari atas tubuhku. Awalnya semua terasa sunyi setelah kegaduhan badai, lalu aku mendengar langkah kaki berlari di dalam rumah, suara para pelayan memanggil-manggil, berusaha menemukan semua orang.
“ Apa kau terluka?” tanya Devan.
Aku menggerakkan kepala dalam gerakan yang bisa berarti ya maupun tidak. Devan sendiri dipenuhi sayatan kecil di seluruh bagian kulitnya yang terbuka, dan aku tahu tidak mungkin terlihat lebih baik darinya. “ Tergores,” akhirnya aku sanggup berkata. “ Dan punggungku sakit karena jatuh. Tapi kurasa tak ada yang serius.”
Sekarang suara Paula mengalahkan semua suara. “ Kita harus keluar dan menghampirinya,” ujarku.
Devan mengangguk sebelum berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantuku bangun. Kaca terinjakkaki kami saat berbalik untuk mengamati keadaan.
__ADS_1
Jendela kamarku benar-benar hancur, jadi sekarang pada salah satu dindingku ada sebuah lubang besar yang menganga keluar. Dahan, daun, dan kelihatannya serpihan dari rumah terdekat tercecer di seluruh penjuru kamar. Ada sesuatu yang menghantam petiku hingga terjungkal; isinya tumpah di depannya. Hujan membuat semua yang berada di sisi jendela basah kuyup, termasuk tempat tidur. Rambutku, aku tersadar, meneteskan air, dan Devan mengelap wajah dengan tangannya untuk menyingkirkan air, dan menyisakan noda darah.
Aku menjilat bibir dan merasakan darah yang beraroma tembaga. “ Kurasa kita beruntung.”
“ Beruntung,” ulang Devan, tapi tatapannya kelam.
Kami tersuruk-suruk keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju pintu masuk utama menuju ruang keluarga. Di sana seluruh penghuni rumah Paula sudah berkumpul, gemetar bersama dalam lingkaran kecil. Paula bertutut di lantai, tangannya bekerja gesit untuk mengikat perban pada lengan seorang pelayan yang terluka. Paula menggumamkan beberapa patah kata dan cahaya muncul di sekitar tangannya menyelimuti perban.
Aku mengayunkan tangan ke arah wajah dan lenganku. “ Hanya yang terlihat olehmu. Jendelanya pecah. Kurasa ada sebuah dahan yang masuk melaluinya.” Aku tidak akan bilang jendelanya sudah meledak sebelum dahan pertama melayang ke dalam kamar. “ Tapi kami baik-baik saja.”
__ADS_1
Paula menggelengkan kepala, bibirnya merengut. “ Seumur hidupku belum pernah terjadi. Badai seperti ini. Untungnya jendela kaca di ruang kerjaku hanya satu yang pecah, kalau tidak mungkin rumah ini hanya akan menyisakan sebuah kawah besar.”
Tubuhku terhuyung ke arah Devan, lalu mendongak menatapnya saat dia menyentuh pundakku untuk menahan tubuhku. Tidak terpikir olehku apa yang akan terjadi seandainya badai menyerang ruang kerja Paula seperti yang terjadi di kamar tidurku. Sebuah kawah, batinku, bisa lolos dari masalah dengan mudah.
“ Paula,” ujar Devan, “ Apa menurutmu badainya—“
Aku menyodok Devan cukup keras hingga dia mendengus. “ Yang terburuk yang pernah kausaksikan?” aku menyelesaikan kalimatnya.
“ Jelas salah satu yang terburuk, tapi aku pernah berada di pantai saat terjadi badai angin, dan itu mengalahkan badai ini dalam satu tingkatan penyihir,” ujar Paula.
__ADS_1
Devan memelototiku, tapi tidak bertanya lagi. Namun, aku tahu apa yang hendak dikatakannya. Tetapi jika Paula menganggap badainya alami, aku tidak akan membiarkan Devan membuatnya berpikir sebaliknya.
Bersambung