
Seharusnya aku menangis. Batinku, saat mendongak ke arah istana. Angin kencang, mengentak rokku di atas kaki & meniup rambutku ke mata. Awan berarak di langit, mengaburkan cahaya terang mentari.
Lama aku berdiri di sana, menunggu, tapi aku tidak tahu menunggu apa. Mungkin, menunggu air mataku tumpah, atau terbangun dari mimpi mengerikan yang mencengkeramku. Namun, aku tetap tidak terbangun, hanya seorang gadis yang berdiri di balik bayangan sebuah istana raksasa.
Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku mengangguk pada paman Ronald & menerima uluran tangannya untuk membantuku naik ke kereta.
“ Bawa dia ke Treb, “ aku mendengarnya berkata pada kusir saat berusaha duduk dengan hati-hati.
“ Bibinya seorang tukang celup di sana.” Jeda sebentar, lalu “Jaga dia.”
Kusir mengentakkan tali kekang, & kereta bergerak maju. Sambil menekan wajah sedekat mungkin pada jendela kaca, aku bersiap-siap melihat istana, tempat aku di besarkan untuk terakhir kalinya. Saat melakukannya, aku mendengar sebuah suara akrab berteriak, “ Diana! Diana!”
Devan muncul dari sudut istal, berlari secepat mungkin, kedua lengannya melambai untuk menghentikan kereta. Namun kuda-kuda sudah mulai berderap, bahkan kaki panjang Devan tidak sanggup menyusul mereka. Saat aku menatapnya, Devan tersandung hingga berhenti, napasnya tersenggal-senggal, kedua tangannya bertumpu di atas lutut. “ Diana,” panggilnya untuk terakhir kali, tapi kereta tidak berhenti.
__ADS_1
Aku mengangkat tangan untuk menggedor jendela & memaksa kusir berhenti, tapi tepat sebelum tanganku mengenai kaca, aku membiarkannya,
Devan memanggil Diana, memanggil gadis yang menyangka dirinya sang putri.
Selama ini aku bukan Diana. Tapi mereka hanya memanggilku dengan namanya.
Aku bersandar di kursi, berat & lelah. Kereta melewati dinding luar istana menuju Vivaskari, & baru pada saat itulah aku menangis.
Aku berhenti menangis sesaat setelah meninggalkan istana. Sejak dulu aku jarang menangis, terakhir saat masih kecil. Seorang putri, dulu aku beranggapan, harus mengendalikan emosiku karena aku seorang putri. Bahkan, aku tidak yakin ada orang selain Devan yang pernah melihatku menangis setelah berumur tujuh tahun.
Perutku melilit saat teringat bagaiman terakhir kalinya aku melihat Devan, kedua tangannya bertumpu di atas lutut, wajahnya memerah akibat berlari. Kemudian, aku menyingkirkan pikiran itu, kerongkonganku tercekat.
Aku berusaha berdoa setelah berhenti menangis, tapi pikiranku terus beralih dari sang Dewa tanpa Nama ( yang ada di novel Author aja ) pada Devan, atau mantan orangtuaku, atau kosong. Namun, akhirnya kereta berhenti, menyela pikiranku yang kacau balau , & aku mendengar kusirnya berkata,
__ADS_1
“ Apa ini Treb?”
“ Iya.” Suara itu berasal dari sisi kanan kereta, & aku menyelinap ke seberang kursi untuk mengintip keluar jendela. Pemilik suara itu seorang pria tua yang sedang mengisap pipa, bersandar pada dinding yang tampaknya adalah bengkel pandai besi.
“ Kami mencari rumah si tukang celup. Apa kau bisa menunjukkannya?”
Pria itu memiringkan kepala untuk mengisyaratkan kami harus jalan terus.
“ Sama seperti yang kukatakan pada kurir tadi sore. Rumahnya ada di sebelah kiri, di depannya ada kebun bunga, “ Aneh juga, begitu banyak orang kaya yang datang mencari Vania dalam satu hari.”
Kusir melempar sebuah koin pada pria tua itu, dia mengulurkan tangan dengan kegesitan yang mengejutkan untuk menangkapnya. Saat kereta mulai bergerak, aku bersandar lagi, jantungku berpacu. Vania. Itu pasti nama… bibiku.
Jangan lupa like, vote, & komen yah.. Kasih support untuk author, jika masih ada salah dalam penulisan mohon maaf yah guys🙏🌹
__ADS_1