PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 45


__ADS_3

“ Baiklah kalau begitu, kurasa sudah saatnya untuk sebuah kuliah. Tahukah kau, dulu aku sering memberikan kuliah, saat masih tinggal di kampus, yang ternyata sudah lebih lama berlalu dari yang mau kuakui. Tapi mulai dari mana, mulai dari mana?”


Paula mengembuskan napas ke atas hingga meniup rambut di atas keningnya, lalu berkata, “ Sihir adalah sebuah bakat, seperti kemampuan menyanyi atau mempelajari bahasa dengan cepat. Sebagian orang memilikinya, & sebagian besar tidak. & sebagian orang memiliki bakat yang lebih besar dari yang lain, sama halnya penyanyi yang lebih hebat dari penyanyi lainnya.”


Mungkin karena menganggapnya sebagai kuliah Paula menyingkirkan cara bicara tersengal-sengal yang biasa dilakukannya. Penjelasannya, sejauh ini cukup jelas, & aku mengembuskan napas lega.


“ Namun analoginya hanya sampai sini, karena sihir, tidak seperti kemampuan menyanyi, memiliki semacam…. kesadaran. Nah, kau akan melihat tidak semua orang setuju dengan pendapatku, tapi aku merasa cukup yakin soal ini. Aku melakukan beberapa penelitian mengenai subjek ini saat mengajar di kampus, & menurutku banyak penyihir, terutama yang lebih kuat, merasakan sensasi yang sama saat meraih sihir mereka. Mereka merasa seakan-akan sihir itu ingin digunakan, seakan-akan sihir itu harus digunakan.”

__ADS_1


Paula terdiam & aku, teringat pada sensasi yang kurasakan selama berminggu-minggu, sensasi dari sesuatu yang ingin keluar dari tubuhku, lalu berkata, “ Apa yang terjadi kalau kau tidak menggunakannya ?”


Paula bersedekap, keningnya berkerut. “ Sihir akan mencari jalan keluarnya sendiri. Terutama saat si penyihir merasakan emosi kuat, & biasanya dengan cara yang sangat primitif. Contohnya, kau bisa membakar sesuatu. Kau tahu, sihir itu ingin digunakan, & kalau kau tidak menggunakannya secara sukarela, ia akan memaksamu menggunakannya. Jadi, aku merasa sihir … berbeda dari bakat lainnya.”


Aku tidak tahu sensasi macam apa yang dirasakan penyihir lain di kampus dari sihir mereka, tapi bagiku pendapat Paula masuk akal. & itu membenarkan ketakutanku bahwa, jika aku tidak meninggalkan rumah Bibi Vania, dalam waktu singkat aku akan berbahaya.


Paula menambahkan sambil menunjuk ke sekeliling ruang kerjanya, “ seperti ramuan, tanaman herbal, atau cawan ramalan, untuk membantumu memusatkan energi.”

__ADS_1


Paula menatapku dengan ekspresi tidak sabar. “ Kau tau cawan ramalan, kan?” aku berusaha cepat-cepat mengangguk, tidak ingin membuat Paula beranggapan aku benar-benar bodoh, tapi dia sudah melanjutkan ucapannya.


“ Itu sebuah cawan, sangat dangkal, yang menampung air, kau melihat kedalamnya &, kalau kau punya bakat, kau akan melihat hal-hal yang akan terjadi, atau sudah terjadi, atau mungkin terjadi. Sihir yang sensitif, aku sendiri jarang menggunakannya. Tetapi prinsipnya tetap sama, baik kau menggunakan sesuatu sebagai alat pembantu atau tidak. Pada akhirnya, inti dari semua sihir adalah apakah kau memiliki kekuatan & pengalaman untuk melakukan hal yang kau inginkan atau tidak.”


Paula terdiam, menatap sekeliling ruangan dengan gerakan kepala gesit bak seekor burung, sebelum akhirnya menemukan sesuatu yang dicarinya. Sebuah piala perak berdiri di atas meja di dekat kami, Paula mengambilnya, & meletakkannya di lantai di depan bangku yang kududuki. Pialanya dipenuhi air hingga ketepian.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2