
Wajah Devan memucat. “ Kau. Mereka akan menyakitimu.”
“ Kita,” aku meralatnya. “ sekarang kau juga mengetahuinya. Mereka akan menyakiti kita, atau keluargamu, atau siapa tahu berapa banyak lagi. Resikonya terlalu tinggi, dan ketakutan mereka akan kekalahan terlalu tinggi.”
Aku berbalik di ujung langkah, lalu berhenti. Sambil menegakkan pundak, aku menatap Devan. Aku menginginkan dukungannya, sangat menginginkannya hingga terasa bagaikan api di dadaku. Aku tidak mau memasuki jalinan kusut intrik dan kekuasaan ini sendirian, aku akan melakukannya, jika terpaksa, tapi aku tidak mau. Aku menginginkan Devan, temanku, yang selalu bisa menyelamatkan kami sebelumnya, sambil tertawa-tawa.
“ Aku tidak mengada-ada, Devan. Kuharap… demi Dewa Tanpa Nama… aku hanya mengada-ada. Tapi tidak. Dan aku takut . Kumohon, kau harus percaya padaku.”
Devan menundukkan kepala dan memejamkan mata, seperti seseorang yang memasang tirai di sebuah rumah saat badai mendekat. “ Aku percaya padamu,” ujarnya lembut. Kemudian, sambil mengangkat kepala dan menatapku, Devan mengatakannya lagi, lebih tegas. “ Aku percaya.”
__ADS_1
Aku tidak menyadari betapa besar tekanan yang kupikul di pundakku selama ini, tapi semua itu tersapu pergi dalam gelombang besar, membuatku merasa lemah dan lunglai. Sejenak, aku tidak sanggup bicara, tapi kemudian aku berdehem dan berkata, “ Yah, bagus. Sekarang kita hanya perlu mencari tahu apa yang akan kita lakukan.”
“ Tadi kau bilang di mana kamarnya?” Devan bertanya sambil menatapku dari lantai kamarku di rumah Paula. Kami meninggalkan istana secepat mungkin. Mau tidak mau aku membayangkan mantra-mantra yang ditanam di seluruh ruangan istana, semuanya dirancang untuk melaporkan siapa pun yang membicarakan masalah itu pada orang yang tadi kulihat. Mungkin itu konyol, tapi aku tak bisa menahan diri. Untungnya, Paula meninggalkan pesan untukku yang mengabarkan dia akan mengunjungi seorang teman di Flower dan baru kembali malam hari, jadi tidak akan ada yang peduli jika seharian ini kuhabiskan bersama Devan.
“ Aku dalam perjalanan menuju kamarmu dan sedang berjalan di dekat semak-semak tinggi. Kau tahu kan, tempat kau menyembunyikan bonekaku saat berumur delapan tahun.” Devan memgangguk, sebuah senyuman membuat bibirnya berkedut saat mengenangnya.
Devan menyapukan tangan pada rambutnya. “ Kurasa itu kamar kamar Alex yard.”
“ Ilmuwan itu?”
__ADS_1
Devan mengangguk. “ Tapi sekarang dia sedang tidak ada. Dia pergi beberapa minggu yang lalu. Sebuah perjalanan untuk meneliti karakteristik lumut Farvasee.” Devan mendengus. “ Aku mendengar salah seorang pustakawan berkata dirinya menerima surat darinya beberapa hari yang lalu, dan kemungkinan dia akan berada di sana sampai musim gugur. Lagi pula, pria itu…. membosankan. Kau nyaris tidak akan melihatnya bahkan saat mengobrol dengannya. Kurasa dia tak punya nyali untuk melakukan pemberontakan.”
Aku merengut. Aku tahu tidak akan semudah itu. Entah siapa pun yang menggunakan mantra pada Riana, dia tidak melakukannya di kamarnya sendiri. “ Apa menurutmu dia akan mengizinkan orang lain menggunakan kamarnya, mungkin jika mereka mengancamnya?”
“ Kurasa dia akan kencing di celana dan pingsan kalau ada orang yang menyebut-nyebut soal kudeta di hadapannya,” Devan berkata datar. “ Kemungkinan besar orang itu hanya menggunakan kamarnya, jadi tidak akan ada yang melihat Diana…. Riana…. mendatangi kamarnya. Sehingga tersisa….”
“ Melani dan Omar,” aku menuntaskan ucapannya. “ Aku tahu.”
Bersambung
__ADS_1