
Langkah kaki bersepatu bot menggema di jalan saat anak buah Melanimelihat kami berdiri di sana. Mereka mempercepat langkah. “ Masuk, masuk,” aku berteriak, dan kami cepat-cepat masuk bergantian. Devan membantingnya sampai menutup saat aku melihat sekeliling dengan panik, menduga ada seseorang yang melihat kami tersungkur ke taman istana dan memanggil penjaga. Namun hari ini tidak ada yang berjalan-jalan; semua orang berada di dalam, menunggu acara penobatan dimulai.
“ Mereka juga bisa ikut masuk,” Devan berkata sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya. “ Kalian berdua, pergilah! Aku akan menahan mereka—“
Namun Bella hanya mundur satu langkah menjauhi pintu,dan, dengan mundurnya darah kerajaan dan kalimat kerajaan, pintunya menghilang dan hanya menyisakan dinding polos.
Aku mengembuskan napas yang sejak tadi kutahan persis berbarengan dengan Devan dan Bella. Kami saling berpandangan, dan di sana, di tengah taman istana, kami mulai tertawa.
Namun kami tidak bisa tertawa lama-lama. Saat cekikikan kami sudah menghilang, aku mengamati taman sambil menggigit bibir, berpikir.
“ Apa mereka akan berhasil masuk?” Bella bertanya pada Devan yang menggelengkan kepala.
__ADS_1
“ Kurasa tidak bisa. Penobatannya akan segera dimulai, bahkan mungkin sudah, dan Melani memastikan tak ada orang aneh yang bisa masuk. Sayangnya bagi Melani, itu termasuk begundalnya. Kurasa kita aman.”
Bella mendengus. “ Tentu saja. Sangat aman.”
Aku mengabaikan mereka. Di dalam benakku aku sedang menyusuri koridor istana, memutuskan koridor mana yang bisa membawa kami ke Aula Thorvaldor sebisa mungkin tanpa menarik perhatian. Aku harus menyingkirkan kenangan yang mengancam akan membuatku kewalahan; aroma taman di musim panas, cahaya matahari yang menyinari bangunan istana. Aku tidak bisa menyelinap kembali pada semua perasaan itu, rasa mendamba akan hal-hall yang sudah berlalu. Aku harus memusatkan perhatian, tapi sulit sekali, karena aku sangat lelah dan takut.
Lonceng mulai berbunyi di suatu tempat di istana. Penobatan akan segera di mulai.
“ Jadi itu rencana kita?” tanya Bella. “ Masuk begitu saja dan memberitahu mereka?”
Aku mengangguk sambil mengedikkan bahu. “ Aku tak punya ide lain. Kita hanya perlu masuk ke aula dan maju ke deretan depan. Kita harus bisa menyampaikan cukup banyak hingga mereka mau mendengar.”
__ADS_1
“ Saat kau menceritakannya,” timbrung Devan, “ pastikan saja mereka tahu bahwa Riana tak ada sangkut pautnya dengan semua ini. Bahwa Riana tidak mengetahuinya. Hal terakhir yang kita inginkan adalah orang-orang menyerangnya atau semacamnya .”
“ Setuju.” Aku menghela napas dalam, tapi itu tidak berhasil menenangkanku seperti yang kuharapkan. “ Ayo.”
Devan mendengar suara lonceng, kami mengambil jalur yang paling cepat. Rute yang persis sama, aku tersadar, dengan yang kulalui bersama Ronald pada hari mereka memberitahuku siapa diriku sebenarnya. Namun, sekarang tidak ada bangsawan yang berjalan di koridor, tidak ada pelayan yang bergegas melaksanakan tugas mereka. Semua orang berada di Aula Thorvaldor atau ruang jamuan, mempersiapkan diri untuk perayaan yang akan dilakukan setelah penobatan.
Namun, dua orang penjaga berdiri di depan salah satu pintu samping menuju aula, seperti biasanya. Salah seorang dari mereka mengulurkan lengan saat kami mendekat, tapi Devan menyelinap ke bagian depan kelompok kami dengan luwes. “ Kau takkan memberitahu ayahku bahwa kami terlambat, kam?” Devan bertanya sambil tersenyum menyesal.
Jangan lupa like, vote, dan komennya author tunggu. Terima kasih.🙏🥰😘🌹
Bersambung
__ADS_1