
Akhirnya, aku memutuskan tetap mengunjungi apotek. Di jalan banyak orang; pria itu tidak mungkin menculikku, jika itu yang direncanakannya. Untuk apa dia melakukannya? Aku membantah dalam hati. Siapa yang ingin menculikku atau bahkan mengikutiku? Aku bukan orang penting, tidak lagi.
Apotek berada di jalan dekat kampus yang menampung beberapa toko lain yang sering dikunjungi penyihir. Pemiliknya, yang tubuhnya memang cukup tinggi hingga aku harus menjulurkan leher agar bisa melihatnya dengan jelas, mengisi stoplesku & menerima uangnya tanpa banyak bicara. Aku berterima kasih padanya, lalu mengintip jendela dulu sebelum pergi. Aku tidak melihat pria itu lagi, yang membuatku berpikir mungkin aku memang hanya mengada-ada.
Kau beraikap konyol, batinku. Kendalikan dirimu & pulang.
Namun, saat keluar dari toko aku lupa mencari pria itu di jalan, karena tiba-tiba perhatianku teralihkan oleh sensasi yang sangat aneh. Rasanya seakan-akan aku sebuah boneka bertali, & ada seseorang yang menarik talinya, mengarahkan kepalaku sesuai keinginan mereka. Aku tidak bisa mencegah diriku berbelok ke kiri. Sejenak aku tidak melihat apa pun selain jalan yang sepi, lalu ada seseorang yang keluar dari balik bayangan bangunan terdekat. Bukan pria yang tadi mengikutiku, atau mungkin juga tidak. Orang ini mengenakan sebuah jubah cokelat panjang, & potongannya mengingatkanku pada pakaian yang dikenakan di sebuah biara. Ada sebuah kenangan yang menggelitik benakku, tapi sebelum bisa mengingatnya, orang itu membuka tudung kepalanya, & aku nyaris menjatuhkan stoples berisi biji ara.
__ADS_1
Kami tidak mirip, tidak terlalu. Mungkin cukup mirip untuk menjadi sepupu, tapi tidak untuk menjadi saudara kembar atau bahkan kakak adik. Diana lebih tinggi dariku, & memiliki tungkai yang lebih panjang, rambutnya berwarna cokelat terang, sedangkan rambutku cenderung lebih menyerupai warna teh gelap, wajahnya berpotongan lebih tegas, hidungnya lebih tajam & alisnya lebih melengkung, bibirnya yang penuh & berwarna merah muda. Memang ada kemiripan, tapi rasanya seperti menatap diriku di atas permukaan air, dengan bagian yang sudah diubah oleh gelombang.
Kami berpandangan sangat lama, lalu aku berkata, “ Kita bisa menarik perhatian kalau terus berdiri di sini. & aku menduga hanya Devan yang mengetahui keberadaanmu, jadi kau takkan menginginkan hal itu terjadi.”
Sedikit rona muncul dengan cantiknya di atas wajah Diana. “ Kalau begitu maukah kau berjalan bersamaku? tanyanya.
Kami berjalan tanpa bersuara, masing-masing saling mencuri pandang dari sudut mata, sebelum aku berkata, “ Kurasa di sana ada sebuah patung Ratu Caroline, di sudut jalan itu. Dialah yang….”
__ADS_1
“ Memberikan lahan untuk kampus penyihir,” Diana menyelesaikan ucapanku. Saat melihat ekspresiku yang terkejut, dia mengedikkan bahu dengan lembut. “ Aku dididik dengan baik saat di panti biara, & lebih baik lagi sejak tinggal di sini. Sepertinya mereka ingin aku mengetahui semua yang kau…. semua yang harus di ketahui seorang putri, & mereka pikir aku harus mengetahuinya secepat mungkin.”
Sunyi lagi, kali ini terasa lebih tegang. “ Disana ada bangku,” ujarku. “ Kita bisa duduk di sana.”
“ Tunjukkan jalannya,” ujar Diana.
Patung Ratu Caroline terletak di sebuah area jalan buntu kecil yang tidak jauh dari jalan. Patung itu berukuran seperti aslinya, atau mendekati. Sang ratu sedang menatap ke arah kampus penyihir, kedua tangannya terulur sebagai isyarat memberi. Diana berhenti saatbkami berjalan menuju bangku yang di letakkan di sekeliling patung, kepalanya menengadah untuk menatap wajah yang terbuat dari batu. Sulit untuk dipastikan, karena patungnya berusia lebih dari dua ratus tahun, tapi kurasa kau bisa melihat kemiripan, terutama pada tulang pipi mereka yang tajam. Aku mendesah.
__ADS_1
Bersambung