PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 82


__ADS_3

Sebenarnya aku tidak keberatan. Dari V jalannya memotong ke selatan, sedikit berliku melewati tanah pertanian, lalu hutan yang mengelilingi kota. Namun sebagian besar hutan terbentang ke utara kota, jadi tidak lama jalannya sudah memasuki pedesaan terbuka lagi, dipenuhi pertanian yang pada hari ketiga sedikit demi sedikit berganti perbukitan yang terbentang tanpa ujung. Desa bukit Thorvaldor merupakan rumah bagi para pengembala, kambing, dan domba, tertarik oleh rerumputan dan ruang tempat para pengembala berkeliaran.


Aku belum pernah mengunjunginya; jika keluar kota, keluarga kerajaan bepergian ke utara, ke danau-danau sejuk dan hutan lebat. Daerah ini berbeda, lebih lapang dan berbatu. Tapi bukan berarti tidak memiliki keindahan tersendiri. Aku menyadari, alam terbuka dan penduduknya yang berjumlah sedikit lebih cocok dengan suasana hatiku saat ini. Aku bagaikan jalinan saraf tegang, tapi membayangkan akan melihat seseorang datang dari jauh membuatku lebih tenang.


Ada hal lain yang membuatku lebih tenang; Devan. Dia yang mengendalikan sisi praktis dalam perjalanan kami, memilih tempat dan waktu untuk berhenti, memastikan kami memiliki cukup banyak air dan makanan hingga tiba di kota selanjutnya, memeriksa telapak kuda kami untuk mencari batu setiap kami istirahat.

__ADS_1


Pada malam pertama Devan meminta salep dari penjaga penginapan, setelah aku tergelincir dari kudaku dan nyaris tidak bisa berjalan ke dalam penginapan karena kakiku mulai ngilu, karena sudah tidak terbiasa dengan perjalanan panjang mengendarai kuda. Bukan berarti sifat alaminya yang penuh semangat menghilang tapi karena dia memiliki tanggung jawab.


Devan bernyanyi selama kami berkuda, menggoda putri pemilik penginapan agar kami mendapat kamar yang lebih murah, dan seperti biasa menjadi tontonan. Saat aku merasa bersalah, Devan memberitahuku bahwa berbohong pada Paula terpaksa dilakukan demi kebaikan negeri.


Devan juga mengarang cerita yang akan kami sampaikan di Siderros. Sebagai sepasang kakak beradik, kami adalah Lord Aldorick dan Nona Varil yang agak miskin. Aku akan mengaku sedang menulis sebuah buku mengenai sejarah para peramal di Siderros, dan Devan akan mengaku menemani untuk melindungiku di perjalanan.

__ADS_1


Sekarang, saat kami mendekati benteng Siderros, aku bertanya-tanya apakah orang-orang akan memercayai cerita kami. Aku merasa kotor. Padahal sebelum meninggalkan penginapan aku sudah mandi, dan aku tahu angin dataran terbuka sudah meniup rambutku hingga membentuk bola kusut yang menggembung di sekitar wajahku. Aku tidak merasa seperti seorang bangsawan ilmuwan, tapi aku menegakkan pundak dan terus maju.


Jalannya mengarah tepat ke depan kuil, lalu berkelok menuju perbukitan. Ada sebuah benteng yang mengelilingi Siderros, bagian depannya terbuka oleh dua pintu besar polos. Kedua pintunya terbuka dan memperlihatkan sebuah halaman yang terbuat dari tegel batu, dan kami mengarahkan kuda ke sana. Siderros, aku langsung menyadarinya, bukan struktur tunggal, melainkan sebuah komunitas yang terdiri atas banyak bangunan, seperti sebuah desa kecil. Di ujung halaman berdiri sebuah bangunan yang kuanggap kuilnya. Anak tangga rendah yang panjang mengarah ke sebuah paviliun bertiang, yang kemudian terhubung pada sebuah bangunan berkubah, mirip dengan kuil-kuil di kota.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2