PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 40


__ADS_3

“ Kumohon, apa ada orang lain yang bisa kutemui?”


“ Tidak ada. Aku sangat sibuk, jadi aku terpaksa memintamu pergi.”


Aku berdiri gemetar, mengangguk pada pria itu, & membuka pintu menuju selasar, nyaris bertabrakan dengan tiga orang pelajar. Salah seorang gadis itu mendengus saat berjalan menghindariku, tapi aku nyaris tidak menyadarinya. Aku berjalan tanpa melihat arah, bahkan saat benakku tidak sanggup berpikir, tubuhku sudah mengingat setiap belokan yang kulewati saat mencari kantor sang Petugas Penerima. Beberapa saat kemudian, aku mendapati diriku berada di sebuah halaman luas yang berfingsi sebagai pintu masuk kampus.

__ADS_1


Di tengah halaman terdapat sebuah air mancur yang menyemburkan air ke udara, lalu meluncur turun ke sebuah kolam jernih berukuran besar. Kolamnya terbuat dari batu putih seperti yang terdapat di sebagian besar bangunan & menara kampus, & memiliki tepian tebal.


Meskipun para penyihir berjubah hijau, biru, ungu, bahkan ada beberapa yang berwarna hitam, & orang-orang biasa berdiri sambil mengobrol di halaman atau berjalan melintasinya menuju salah satu bangunan yang mengelilinginya, tidak ada seorang pun yang duduk di tepian air mancur. Karena merasa kakiku tidak akan sanggup menopang tubuhku lebih lama lagi, aku duduk di tepian air mancur & membiarkan salah satu tanganku menyentuh air sejuk. Yang membuatku lega, tidak ada seorang pun yang melarangku atau bahkan menyadari keberadaanku.


Apa yang akan kulakukan sekarang? Meskipun aku memberitahu Bibi Vania bahwa aku akan mencari jalan lain jika kampus penyihir menolakku, aku tidak pernah sungguh-sungguh menduga mereka akan melakukannya. Beberapa malam yang lalu, semuanya terasa lebih sederhana. Bagaimanapun, aku memiliki kekuatan sihir, & aku membutuhkan petunjuk untuk mengendalikannya.

__ADS_1


Yang tidak terpikir olehku adalah aturan & regulasi yang berkaitan dengan penerimaan penyihir. Bagaimana mungkin aku tidak pernah menyadari bahwa hanya keturunan bangsawan yang bisa memasuki kampus dengan bebas? Bahwa yang lain harus membayar biaya tahunan yang sangat tinggi, yang jumlahnya jauh lebih besar dari uang yang ada dalam periku. Rasanya salah mengingat selama ini kerajaan tidak berpikir agar kampus bisa menerima siapa pun yang bukan bangsawan atau orang kaya.


Pikir, aku memerintahkan diriku sendiri, Pikir! Pasti ada sesuatu yang bisa aku lakukan, seseorang yang bisa kautemui. Namun, gagasan itu sama licinnya dengan seekor ikan, tidak ada yang bisa kujadikan pegangan, & semua itu terus menyelinap pergi saat aku teringat pada sikap dingin & malas sang Petugas Penerima. Apa ini yang dimaksud Bibi Vania saat mengatakan aku terlalu mudah menyerah?


Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan, sebuah tindakan yang sanggup kulakukan tapi terlalu takut kupertimbangkan? Aku tidak sanggup memikirkan gal lain, tapi mungkin itu artinya aku memang selunak yang dikatakan bibiku.

__ADS_1


Saat menatap hampa ke sekeliling halaman, ada sebuah gerakan cepat tiba-tiba tertangkap mataku. Seorang perempuan yang mengenakan jubah hitam seorang Master sedang berjalan gesit menuju air mancur. Bahkan dalam situasiku sekarang, wajahku memucat, rasa mual naik ke kerongkongan saat aku mengenali perempuan itu sebagai Melani Enderson. Terakhir kalinya aku bertemu dengannya, dia berdiri di samping Omar, dengan tenang menatap pria itu melepas mantra yang dipasang padaku agar terlihat seperti Diana.


Bersambung


__ADS_2