
Perasaan itu membebaskan diri dari dalam tubuhku, bergulung disekitarku bagaikan seekor ular saat menghilang ke tengah malam, & mendesiskan kata ya.
Sihir. Ternyata yang kurasakan selama ini adalah sihir, sihir yang tidak kusadari kumiliki.
Aku berlari. Aku berlari pulang ke rumah Bibi Vania, tidak peduli apakah Jose mendengarku atau ada orang lain yang melihatku. Aku berlari dengan lengan terayun,& kakiku membawa tubuhku dalam keadaan gemetar, rambutku melayang lepas dari kepangannya.
Setelah tiba di pondok & bergegas ke sudut ruangan untuk bersembunyi, barulah aku berhenti, dengan napas tersengal-sengal, & berpikir.
Aku yang melakukannya. Entah bagaimana, aku sudah membunuh tanaman itu, dalam sekejab mengubahnya dari sesuatu yang hidup menjadi abu. Aku menghanguskan rumput tempatku berpijak. Satu-satunya cara melakukan hal semacam itu adalah menggunakan sihir.
Tetapi aku tidak punya sihir apa pun, tidak ada seorang pun di keluarga kerajaan yang memilikinya, semua orang sudah tahu bahwa selama ratusan tahun tidak ada raja atau ratu yang memiliki kekuatan sihir.
Aku meletakkan satu tangan di atas dada & tangan lainnya pada dinding pondok, tiba-tiba menyadari kesalahanku. Aku bukan keluarga kerajaan, jadi mungkin saja keluargaku memang punya kekuatan sihir. Tetapi mengapa aku baru mengetahuinya sekarang? Mengapa hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya ?
Benakku langsung berputar, berusaha untuk mencari jawaban, tapi aku memaksanya untuk melambat. Tidak. Meskipun aku tergoda untuk mencari petunjuk akademis, merenungkan mengapa sihir itu tersembunyi selama ini, ada satu pertanyaan lain yang harus kutanyakan dulu pada bibiku.
__ADS_1
Saat aku masuk, Bibi Vania sedang berjalan mondar-mandir di ruang utama. Dia berhenti sambil memgentakkan kaki saat melihatku.
“ Amelia!” bentaknya.
“ Kau dari mana saja? Celupan gagal, & kau tak ada di rumah. Ini bukan…..”
“ Dari mana datangnya?” Aku merasa dipenuhi emosi, diluciti seutuhnya. Pertama, kunjungan Devan yang berubah menjadi bencana, lalu pengkhianatan Jose, & sekarang ini. Semua ini terlalu berat; aku sama tegangnya seperti sebuah busur yang siap di tembakkan. Saat itu aku tidak merasa malu atau pendiam. Aku hanya merasa marah & sakit hati.
“ Apa yang datang dari mana?”
“ Sihirnya.”
“ Kau sudah tahu,” ujarku, tapi aku tidak mau memercayainya.
“ Kau sudah tahu ini bisa terjadi, yang kurasakan selama ini, & kau tidak memperingatkanku.”
__ADS_1
“ Aku tidak tahu. Kau tidak memberitahuku, & aku berharap…” Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Bibi Vania terlihat bingung, meragukan diri sendiri.
“ Aku berharap itu takkan terjadi padamu. Berharap kau tidak mewarisinya.”
“ Yah, aku baru saja menghanguskan tanaman karena menyentuhnya,” ujarku.
“ Kelihatannya begitu.” Pintu rumah masih terbuka, & aku membantingnya hingga menutup. Kakiku gemetar, tapi sepertinya aku tidak ingin duduk.
“ Dari mana aku mendapatkannya ? Ayahku atau ibuku?”
Tatapan Bibi Vania beralih ke bWah saat bergumam,
“ Ibumu.”
Ibuku, yang sudah menelantarkan aku, yang sudah menyebabkan ayahku sangat berduka hingga dia bersedia menyerahkan aku. Semula aku berharap, sedikit saja, bahwa aku mendapatkannya dari ayahku. Dengan begitu setidaknya mungkin bibiku mengetahui sesuatu soal sihir. Namun sekarang, aku benar-benar sendirian.
__ADS_1
Aku mendongak menatap langit-langit saat merasa kerongkonganku tercekat. Sendirian, selalu sendirian. Entah apa pun yang kulakukan, pada akhirnya aku memang ditakdirkan untuk sendirian, tanpa ada seseorang pun tempatku berpaling & meminta tolong.
Bersambung