
Devan, akhirnya terpikir olehku. Devan memang bukan penyihir atau anggota keluarga kerajaan, tapi dia temanku. Dan dia orang yang, kuharap, akan memercayaiku. Untuk sekarang, seharusnya itu sudah cukup.
Merasa sama lemahnya seperti seekor anak kuda yang baru dilahirkan, aku keluar dari tempat persembunyian di antara semak-semak, kembali ke salah satu jalan setapak yang melintasi taman-taman istana. Namun taman-taman itu, yang biasanya tampak sangat indah di mataku seakan-akan dipenuhi tempat-tempat gelap yang bisa dijadikan tempat mengintai oleh siapa pun atau apa pun tanpa ketahuan. Aku merasa tidak terlindung saat berjalan menuju kediaman keluarga Devan. Siapa pun sosok yang menggunakan perisai memainkan sebuah permainan yang berbahaya, dan aku tidak punya alasan untuk percaya bahwa orang itu tidak akan melukai siapa pun yang mengetahuinya. Leherku merinding saat melewati beberapa orang tukang kebun yang sedang bekerja, sehingga aku merunduk, berusaha tidak dikenali. Kuharap aku punya kekuatan…. dan kendali…. untuk memasang perisai penglihatan pada diriku, tapi aku tidak memilikinya.
Akhirnya, rasanya seperti sudah berjam-jam, aku memasuki tempat yang kutuju dan berbelok dua kali menuju kamar Devan. Sekarang dia sudah punya ruang pribadi, tidak di dalam kediaman keluarganya tapi masih terhubung. Aku melirik sekeliling dan, setelah tidak melihat siapa pun, mengetuk pintunya keras-keras sebanyak empat kali. Aku juga mengirimkan ucapan terima kasih pada sang Dewa Tanpa Nama karena Devan tidak mengizinkan pelayan keluarga menemaninya pada malam hari…. kejahilan lebih sulit dilakukan dengan adanya para pelayan. Setidaknya aku tidak perlu mengkhawatirkan kendala untuk menemuinya.
Devan membutuhkan beberapa saat untuk menjawabnya, cukup lama hingga aku memindahkan tumpuan dari satu kaki ke kaki lainnya dengan gugup saat membukakan pintu.
“ Amelia?” Devan bertanya bingung, sambil mengerjap menatapku.
“ Biarkan aku masuk,” ujarku dengan terengah-engah, lalu melangkah masuk Tanpa menunggunya memberi jalan. “ Tutup pintunya!” desakku setelah berbalik dan melihat Devan masih berdiri terpaku, pintu setengah terbuka.
__ADS_1
Wajah Devan terlihat kesal, tapi dia menutup pintu. Devan masih mengenakan kemeja tidur panjang, dan kaki telanjangnya mengerut di atas lantai batu yang dingin. “ Kupikir kita sedang bermusuhan,” ujar Devan. “ Apa kau datang untuk meminta maaf karena sudah bertingkah seperti seorang….” Devan mengedikkan bahu, jelas-jelas sedang mencari kata yang tepat…” Seorang putri?”
Rahangku ternganga, hanya sedikit. Di tengah luapan semangat, aku benar-benar luoa mungkin Devan tidak akan senang melihatku. “ Aku… ya, tidak… aku,” ujarku tergagap, lidahku terasa kelu dan tidak berguna “ Maksudku…”
“ Itu apa?” sela Devan sambil menunjuk peta yang masih kugenggam.
Aku juga sudah melupakannya. “ Peta Raja Ardan. Aku menerjemahkannya, bagian yang sebelumnya tidak bisa kita baca, tapi bukan itu…”
“ Kau menerjemahkannya?” Kekesalan Devan sedikit berkurang saat kilatan nakal yang terasa akrab membuat matanya berbinar.
“ Aku tak percaya! Apa isinya?”
__ADS_1
“ Devan, kumohon, dengarkan….”
“ Apa itu artinya kita bisa menemukannya?”
“ Mungkin, tapi….”
“ Kita bisa pergi sekarang! Aku ganti baju dulu…”
“ Dia bukan putri!” aku berteriak.
Devan sedang meraih celana selutut yang tergantung di punggung kursi, tapi tangannya yang sudah terulur tiba-tiba berhenti, wajahnya terlihat bingung. “ Apa?”
__ADS_1
Napasku berat, tersengal-sengal, dan kegelapan mulai menari-nari di sudut mataku. Setelah menjatuhkan peta ke atas tempat tidur Devan, aku merangkul siku berusaha menghentikan lenganku yang gemetar.
Bersambung