
“ Dengar,” ujar Paula sambil menyelipkan rambut hitamnya yang terlepas ke belakang telinga, “ karena mungkin aku takkan ingat untuk memberitahumu lagi untuk waktu yang sangat lama—hanya Dewa Tanpa Nama yang tahu bahwa aku nyaris tidak ingat pelajaran apa saja yang kuberikan padamu, apalagi memberimu pujian. Kau punya kekuatan, Amelia, dan bukan salahmu jiaka kekuatan itu tidak aktif selama bertahun-tahun. Kalau kau seperti penyihir normal lainnya dan menemukan bakatmu saat masih kecil, aku yakin sekarang kau sedang merintis jalan menuju posisi penting.”
Aku duduk tanpa bersuara saat Paula berbalik dan berkutat dengan panci-pancinya selama beberapa saat. Aku hampir memutuskan untuk bertanya apakah dia masih membutuhkan bantuanku untuk hal lain saat tiba-tiba kepalanya bergerak khas seperti burung dan menatapku. “ Aku tak tahu apakah aku pernah memberitahumu, tapi terakhir kalinya aku punya anak didik adalah lima belas tahun yang lalu. Dia seorang pemuda yang baik, sangat kuat, tapi keluarganya memiliki darah Farvasee, dan aku belum pernah bertemu orang Farvasee yang ceroboh. Sejujurnya, itu membuat mereka membosankan. Tapi dia akan melakukan mantra apa pun yang kuminta—dia bagaikan anak penurut dan manis, terdidik dengan sangat baik.”
“ Kurasa aku tidak seperti itu,” gumamku.
__ADS_1
“ Aku membiarkannya pergi,” uja Paula. “ Keesokan harinya tidak kurang dari empat orang penyihir kampus mendatangi rumahku, memohon agar aku berubah pikiran. Tapi aku tidak melakukannya. Tidak ada potensi pada dirinya, tak ada ruang imajinasi.”
“ Aku tak peduli berapa lama waktu yang kaubutuhkan untuk mengendalikan sihirmu, Amelia.” Paula menyeringai dan menjulurkan kepalanya, menatap kejauhan. “ Karena aku ingin ada disampingmu saat hal itu terjadi. Kurasa—dan, tahukah kau, tebakanku mengenai hal seperti ini jarang meleset—itu akan menjadi sesuatu yang hebat untuk disaksikan.”
Namun, aku bukan jenis orang yang senang menunda pekerjaan terlalu lama; sifat itu sudah terpatri di dalam diriku sebagai seorang putri, dan sepertinya tidak mau hilang menjadi seorang penyalin. Jadi, setelah memeriksa semua buku baru dan memutuskan buku-buku itu tidak berisi mantra kuat, aku meminta libur di sore hari dan mengirim pesan pada Devan.
__ADS_1
Devan menemuiku di luar gerbang, dia menggenggam sebuah jubah panjang. “ Kupikir sebaiknya jangan terlalu banyak yang melihatmu berkeliaran di sini,” Devan berkata sambil mengedikkan bahu. “ Kalau pelakunya Melani, kemungkinan besar dia ada di istana, dan kalau Omar, mungkin dia akan meninggalkan seorang mata-mata.”
Aku mengambil jubah itu dan memasangnya di pundakku, menarik tudungnya di sekitar wajahku. Jubahnya terasa panas, terlalu panas untuk cuaca yang hangat, dan kurasa aku pasti terlihat aneh. Namun para penjaga nyaris tidak melirikku saat berjalan di belakang Devan—sebuah keuntungan melewati gerbang bersama putra Earl of Rithia.
Bersambung
__ADS_1