
Apakah raja masih hidup atau sudah meninggal? Apakah Riana masih menjadi putri, atau hanya perlu menunggu beberapa hari sebelum menjadi ratu?
Aku memeriksa ruang kecil ini, mencari jalan keluar. Namun, sel ini sama sempitnya seperti penjara bawah tanah pada umumnya. Tidak ada jalan keluar dari tempat ini selain menggunakan sihir, dan sekeras apa pun aku berusaha, aku tidak bisa meraih sihirku. Mungkin ruangannya dimantrai, atau mungkin Melani memasangkan sebuah mantra pada tubuhku setelah aku pingsan di luar rumah Bella.
Selama dua hari pertama—atau menurut perhitunganku sudah berhari-hari—aku hidup dalam perasaan takut tak berujung. Takut untuk diriku sendiri, untuk Devan dan Bella. Tubuhku gemetar ketakutan, merasakan ketakutan mencengkeramku sejak aku bangun sampai aku tidur. Apakah Melani akan membunuhku, atau menyiksaku, atau hanya mengurungku di dalam sel ini sampai aku menjadi perempuan tua renta? Aku tidak tahu, dan ketidaktahuan itu yang paling buruk.
Namun bahkan rasa takut pun ada batasnya. Sedikit demi sedikit, saat tidak ada yang berubah, aku merasakan diriku mulai tenang dan menunggu. Melani bisa membunuhku saat aku berbaring di tanah di depan rumah Bella. Melani sudah menyebabkan Omar sakit, dan membunuh saudara perempuannya sendiri. Dia tidak akan meninggalkanku dalam keadaan hidup jika bisa melakukannya. Melani adalah seorang penyusun rencana yang hati-hati, berusaha tidak meninggalkan jejak pemberontakannya. Selama enam belas tahun ini, satu-satunya tindakan gegabah yang dilakukan Melani adalah saat mengirim badai padaku. Melani sudah merencanakan kudeta ini sampai ke detail yang terkecil. Namun, bahkan sikap hati-hatinya pun tidak akan sanggup mencegahnya untuk membunuhku sekarang, karena aku terlalu banyak tahu.
__ADS_1
Maksudku, kecuali dia menginginkan sesuatu. Mengingat aku masih hidup, putusku, Melani pasti membutuhkan sesuatu dariku. Dan itu memberiku sebuah benang harapan tipis untuk kucengkeram, satu-satunya hal yang menjauhkanku dari keputusasaan mendalam.
Jadi aku menunggu. Dan akhirnya, setelah dua hari atau empat hari, Melani Enderson datang menemuiku.
“ Aku minta maaf karena mengurungmu dengan cara seperti ini, Amelia,” ujar Melani. “ Bahkan rumah bibimu di Treb, kurasa lebih mewah dari tempat ini.”
Melani mengenakan sebuah gaun sederhana berwarna biru tua, rambutnya digulung di atas kepalanya bagaikan sebuah mahkota. Namun, bahkan gaunnya pun tidak kelihatan salah tempat seperti suaranya. Suaranya merdu hingga kau ingin tenggelam di dalamnya dan tidak pernah keluar lagi. Aku memaksa diriku agar tidak bergerak, berjuang agar tidak jatuh ke dalam mantranya.
__ADS_1
Melani mengedikkan bahu, sebuah gerakan lembut yang menutupi sikap keras yang terdapat di balik penampilannya. “ Meskipun begitu, ini satu-satunya ruangan di Puri Sare yang bisa mencegahmu menggunakan sihir untuk melarikan diri, jadi apa lagi yang bisa kami lakukan?”
Aku mengembuskan napas keras-keras. “ Puri Sare? Bukankah seharusnya kau menamainya Puri Feidhelm?”
Aku melihat lehernya bergerak saat Melani menelan ludah, tapi selain itu kelihatannya dia tidak mendengar ku. Melani mengamatiku dan aku, menyadari penampilanku pasti terlihat sangat mengenaskan setelah menghabiskan entah berapa hari dan malam di tempat ini, terpaksa menahan desakan untuk duduk lebih tegak. “ Amelia, sebenarnya tidak perlu seperti ini.”
Bersambung
__ADS_1