
“ Itu tidak benar,” aku berteriak, tapi Melani sudah bicara lagi, suara kelamnya terdengar sangat tenang dan membuai.
“ Yang Mulia,” Melani berkata sambil menundukkan kepala ke arah ratu lama. Lalu melirik Riana. “ Putriku. Rakyat Thorvaldor. Mana yang lebih bisa dipercaya? Sebuah rencana jahat yang kuramu selama enam belas tahun? Yang membuatku membunuh saudara perempuanku sendiri, memalsukan kematian anakku sendiri. Rencana yang kujalankan sendirian, tanpa diketahui satu orang pun.” Melani tersenyum. “ Rekanku sesama penyihir di kampus bisa memberitahu kalian aku memang cerdas. Tapi aku tidak secerdas itu.
“ Jadi… mana yang lebih bisa dipercaya? Kisah aneh ini, atau jawaban lain? Bahwa gadis ini, setengah gila akibat dunianya yang jungkir balik—memang, kisah yang menyedihkan, tapi dilakukan demi kebaikan negeri ini—hingga datang kemari dan berusaha mengganggu acara penobatan?”
Gumaman terdengar semakin nyaring saat orang-orang menjulurkan leher agar bisa menatapku dengan lebih jelas. “ Aku sudah mendatangi Siderros,” aku berteriak mengalahkan kebisingan. “ Aku sudah melihat tulisan tangan sang peramal. Sekarang aku membawa pengakuannya.” Itu tidak ada gunanya. Sepertinya tidak ada seorang pun yang mendengarkan aku. “ Kami masuk melalui Pintu Raja Ardan. Hanya putri sejati yang bisa melakukannya!”
__ADS_1
“ Fantasi lagi,” jawab Melani. “ Kau datang bersama Devan Dulchessy, yang terbukti bersedia melakukan apa pun untukmu, karena dia sudah terperangkap tipu muslihatmu selama bertahun-tahun.”
“ Dia memiliki tanda lahir,” aku berteriak, sambil bergerak maju untuk menarik Bella ke depan, aku merenggut lengannya dan mengangkatnya ke udara. “ Tanda lahir sang putri.”
“ Sebuah trik,” Melani berkata santai. “ Trik yang sudah kausiapkan, Amelia.”
Mereka tak mau memercayainya, batinku dengan putus asa. Ini terlalu berat, terlalu sulit , dan Melani terlalu hebat.
__ADS_1
Aku menyadari kami sudah gagal. Sesaat lagi, seseorang akan memanggil penjaga yang akan menahan kami dengan tuduhan makar. Aku harus melakukan sesuatu, tapi apa? Sekarang tidak ada yang bisa mendengarku di tengah suara teriakan—tidak ada yang mau mendengarku. Aku sudah kehabisan pilihan.
Aku menatap Bella yang cepat-cepat naik ke panggung untuk menghindari Melani yang mendekatinya menuju Riana yang kelihatannya terpaku di tempatnya. Sekarang ada tiga orang pria yang memegangi Devan, dan tubuhnya terayun-ayun saat dia berusaha membebaskan diri, tatapan matanya berpindah-pindah dari Bella pada Riana lalu padaku. Devan, yang seharusnya berada di pihak bangsawan, mengenakan pakaian terbaiknya, siap membuat keonaran pada jamuan makan yang akan segera dilaksanakan. Tempat dia seharusnya berada, kalau bukan karena aku. Alih-alih, Devan berada di pihakku, di dalam segitiga aneh yang terdiri atas Riana, Bella, dan aku.
Like, vote., dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🌹
Bersambung
__ADS_1