PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 123


__ADS_3

Melani menggelengkan kepala, cahaya dari jendela menyinari jepit di rambutnya hingga berkelip bagaikan bintang. “ Karena mereka. Kerajaan memanfaatkanmu dan membuangmu setelah tidak membutuhkanmu. Tapi mereka tidak perlu melakukannya. Mereka bisa saja membantumu, bukannya mengirimmu ke sebuah desa terbelakang pada hari yang sama kau diberitahu siapa dirimu yang sesungguhnya. Apa karena itulah kau ingin mengembalikan Diana ke tahtahnya? Demi semua semua kebaikan yang diberikan keluarganya padamu?”


Rasa semangat di dalam diriku menghilang saat aku mencari kata-kata untuk menanggapi ucapan Melani, untuk membuktikan dia salah. “ Tidak, mereka memang benar. Aku bisa saja berbahaya—“


“ Berbahaya?” Melani tertawa. “ Kau? Amelia yang malang dan canggung, tidak pernah dianggap sebagai gambaran putri sejati oleh siapa pun. Amelia, yang pergi tanpa melawan sedikit pun, yang tidak meminta apa pun untuk mengganti kehidupan yang sudah mereka rampas? Sangat pemalu, sangat hebat menaati aturan.” Wajah Melani mengeras. “ Mereka ingin menyingkirkanmu, dan mereka tak pernah memikirkanmu lagi setelah kau pergi.”


Aku tidak menjawab. Aku berusaha menggelengkan kepala, tapi yang kuinginkan hanya memeluk lututku dan meringkuk seperti bola yang merana. Memang cukup benar, sebagian diriku berbisik. Yang diucapkannya cukup benar.


Tidak, ujarku dalam hati. Tidak semuanya.

__ADS_1


Tetapi cukup banyak. Cukup banyak yang benar.


Melani menatapku saat smua pikiran itu berkecamuk di dalam kepalaku, menatapku sangat lama. Kemudian, sedikit demi sedikit, wajah Melani melembut, senyum tersungging di mulutnya.


“ Mereka salah, Amelia,” ujar Melani.


“ Mereka berbuat salah dengan mengusirmu. Kau pun punya kekuatan, ya kan? Kekuatanmu hanya tersembunyi oleh mantra yang membuatmu terlihat seperti sang putri. Sekarang kau memilikinya, semua itu bergulung di dalam dirimu. Aku bisa mengajarimu cara menggunakan kekuatan itu, lebih baik dari yang bisa dilakukan Paula. Kau bisa menjadi orang kuat, Amelia, sebuah kekuatan untuk kebaikan di Thorvaldor. Itulah yang kauinginkan, ya kan, saat menjadi putri? Untuk melakukan hal yang benar?”


Melani berjalan mendekatiku, cukup dekat hingga aku bisa mencium aroma manis kulitnya. “ Aku ingin orang sepertimu ada di dekat Riana. Orang-orang yang bisa menjadikannya seorang ratu yang kuat. Dan kau, dengan sihir yang kaumiliki, dengan semua hal yang perlu diketahui seorang putri, kau bisa menjadi sekutu terhebat yang dimilikinya. Seorang penyihir, seorang konselor.” Melani tersenyum lembut. “ Seseorang yang bahkan oleh Earl of Rithia pun akan di nilai cukup pantas untuk mendampingi putranya.”

__ADS_1


Melani sedang melukis gambaran indah di dalam kepalaku, yang bisa kaulihat dengan sangat jelas. Aku, tidak lagi canggung dan tak diinginkan, melainkan kuat, berjalan melintasi istana dengan balutan jubah penyihir, bahagia, setelah akhirnya mendapatkan tempat di dunia ini. Tanpa ada perseteruan lagi antara aku dan Devan, karena aku jauh dari bahaya. Itulah yang kuinginkan, ya kan?


Ya, jauh di dalam lubuk hatiku, ya. Aku ingin di hormati, ingin berguna, ingin dicintai. Aku memejamkan mata, membayangkan semua itu.


Kemudian aku memaksa mataku agar terbuka, bayangan yang ada di dalam kepalaku hancur berantakan. “ Kau tak bisa menemukannya, ya kan?” tanyaku.


“ Kau tak bisa menemukannya,” ulangku. “ Dia ada di luar sana bersama Devan, dan kau tak bisa menemukan mereka. Itu maksud dari semua ini, ya kan? Kau ingin kuberitahu ke mana mereka pergi. Yah, aku tak tahu. Mungkin sekarang Devan membawanya pulang ke kota. Mungkin dia sudah ada di sana. Mereka akan memberitahu raja dan ratu dan—“


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2