PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 103


__ADS_3

Aku berusaha mati-matian agar tetap berjalan tegak menyusuri koridor dan keluar menuju gerbang. Namun, setelah tiba di jalanan kota, keberanianku menguap dan aku mulai berlari, dibuntuti oleh Devan.


“ Dia tahu,” ujarku saat kami akhirnya tiba di rumah Paula. Kami berlari menuju taman di belakang rumah, dan dari sana kami menyelinap ke kamarku. “ Dia tahu, Devan.”


Devan mulai berjalan mondar-mandir begitu kami menutup pintu, tapi sekarang dia berhenti. “ Kalau begitu kita harus memberitahu raja dan ratu. Kita tak bisa merahasiakannya, Amelia.”


Aku ingin menyetujui usulan Devan. Aku ingin mengangguk dan berkata, “ Tentu saja. Kita pergi sekarang juga.” Namun aku menatap tempat tidurku, tempat dua lembar kertas yang berasal dari perpustakaan tergeletak di samping potongan kertas berisi pengakuan terakhir sang peramal, dan aku teringat wajah cantik Melani. Sebuah wajah yang ingin kaupercaya. Wajah seorang perempuan yang dipercaya raja dan ratu melebihi siapa pun juga.


“ Ini tidak cukup,” ujarku. “ Ini bukan bukti. Mereka takkan percaya pada kita, dan meskipun mereka percaya, kita tetap tidak tahu di mana putri yang asli berada. Apa menurutmu Melani akan memberitahu mereka, hanya karena ditanya, setelah selama ini, setelah semua rencananya?”


“ Banyak cara yang bisa digunakan untuk membuat seseorang mengatakan rahasianya,” Devan berkata muram, tapi aku menggelengkan kepala.

__ADS_1


“ Apa pun yang mereka lakukan takkan bisa membuatnya mengaku. Melani sudah sangat lama menyusun semua ini. Dia kuat, Devan. Dan cerdas. Bahkan mungkin saja dia sudah punya rencana untuk membunuh sang putri seandainya raja dan ratu mulai menyadari apa yang terjadi.”


“ Kupikir kaubilang dia membutuhkan sang putri dalam keadaan hidup,” balas Devan.


“ Memang, selama tak ada yang tahu bahwa Riana bukan putri yang asli. Tapi kalau mereka tahu, mungkin Melani akan membunuh Diana, agar tak ada pewaris selain Riana. Dia keluarga kerajaan, Devan, atau setidaknya kakek buyutnya yang empat generasi sebelumnya. Riana adalah pilihan terbaik yang mereka punya, kalau Diana meninggal.”


“ Kalau begitu kenapa dia tidak membunuh Diana sekarang?”


Devan berlutut di hadapanku yang sedang duduk di tempat tidur, dan meraih tanganku ke dalam genggamannya. “ Kumohon, Amelia. Aku tahu ini berbahaya, tapi kita harus memberitahu seseorang—“


Bibir Devan merengut. “ Aku takut dia akan berusaha menyakitimu. Dia nyaris meledakkan kita di tengah-tengah koridor umum. Dia takkan keberatan mengirim seseorang untuk mengejarmu.”

__ADS_1


Bagaikan petir yang menyambar di dalam sebuah ruang gelap, ucapan Devan mendadak menyoroti sesuatu yang kulupakan. Butiran es mulai terbentuk di sepanjang tulang punggungku, dan aku menghela napas tajam sebelum sempat mencegahnya.


“ Apa?” tuntut Devan.


Rasa mual menggerogoti perutku. “ Kurasa dia sudah mengirim seseorang.”


Cengkeraman tangan Devan pada tanganku semakin erat hingga aku menariknya lepas jika bisa melakukannya. “ Apa maksudmu? Kapan?”


“ Pada hari pertemuanku dengan Riana. Ada seorang pria mengikutiku. Dia menunggu di depan rumah.”


Sebuah pembuluh darah berdenyut-denyut di kening Devan. “ Dan kau tidak memberitahuku?”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2