PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 117


__ADS_3

“ Kau benar,” ujarnya datar. “ Kurasa kau gila. Atau lebih dari itu, kupikir kau mengelabuiku, cucu sang perempuan hutan gila. Sangat aneh, sangat miskin, tinggal di pondoknya yang terpencil. Lucu, ya kan, kalau membuatnya beranggapan dirinya sang putri?


“ Aku tidak bodoh!” bentak Bella sambil menghampiriku dengan sangat cepat hingga aku cepat-cepat berdiri dan mundur dari kursiku. “ Dan kau bisa mengatakannya pada Porter! Keluar!”


“ Aku mengatakan hal yang sebenarnya,” desakku. Aku memaksa diriku agar tidak mundur lagi, padahal aku ingin mengernyit atau menghindari amarahnya. Bahkan dengan tubuh sekecil itu, sekurus itu, Bella memancarkan semacam kekuatan amarah karena merasa tersinggung. “ Kumohon, kau harus mendengar ucapanku! Aku tak kenal Porter Andover—aku tak kenal siapa pun di March holings. Yang kukatakan memang benar.”

__ADS_1


Bella menggelengkan kepala, wajah tirusnya terlihat kaku. “ Aku tak percaya.”


“ Kalau begitu bagaimana aku bisa tahu soal tanda lahirmu, kecuali selama ini kau memamerkannya pada semua orang? Aku berani bertaruh nyaris tidak ada yang mengetahuinya. Dan mantra yang kaurasakan tadi, aku bisa menjelaskannya. Saat mereka menukar kita—kita bertiga—mereka harus memasukkan sedikit… inti sarimu, jiwamu, ke dalam tubuhku dan Riana agar mantra yang membuat kami terlihat mirip denganmu bisa bertahan. Itulah yang terasa seperti menarik kita, karena ada sedikit bagian dirimu di dalam tubuhku.”


Bella berhenti mendekatiku, tapi wajahnya masih memperlihatkan ekspresi menggeram. Aku melirik sekeliling dengan membabi buta untuk mencari sesuatu yang bisa membujuknya agar mau mendengar ceritaku. “ Aku berani bertaruh orangtuamu sudah mati, atau kau beranggapan begitu. Dan aku berani bertaruh mereka bukan berasal dari sini, dan seseorang membawamu ke sini saat masih bayi. Kaubilang kau tinggal bersama nenekmu.”

__ADS_1


Sebuah bayangan sang raja yang sedang sekarat di istana melintasi benakku, dan aku memeluk tubuhku sendiri. “ Aku ikut sedih.”


Bella mengedikkan bahu, sebuah gerakan kecil. “ Dia sudah lama sakit. Batuk menyerang dadanya. Tidak mau pergi. Kami audah mencoba semua pengobatan yang di ketahuinya, tapi itu hanya tradisi hutan, bukan obat yang sesungguhnya. Tak punya uang untuk membelinya. Kau lihat, Amelia,” ujar Bella sambil mengempaskan tubuh di atas kursinya lagi dan mengayunkan tangan ke sekeliling ruangan, “ itulah yang membuatku meragukanmu. Lihat sekelilingmu. Aku bukan seorang putri. Aku nyaris tidak punya cukup uang untuk makan—hampir sebagian hidupku aku kelaparan. Setengah penduduk di desa ini bahkan tidak mau bicara padaku, karena kami sangat aneh dan miskin. Aku sempat berpikir untuk pergi, tapi aku bahkan tak bisa mengumpulkan cukup banyak uang untuk pindah. Jadi bagaimana mungkin aku sang putri?”


“ Ada orang yang melakukan semua ini,”aku berkeras. “ Dia pasti mengirimmu ke sini, tempat yang bisa dipantaunya. Tapi dia tak mau kau punya kekuatan apa pun, bahkan sedikit pun, jadi dia—entahlah—meminta penduduk desa agar tidak membantumu dan nenekmu, atau menggunakan sebuah mantra agar mereka tidak menyukaimu. Sesuatu yang bisa menahanmu di sini, tapi sangat terpuruk hingga kau takkan bisa meninggalkan tempat ini.”

__ADS_1


Dukung Author dengan cara; like, vote, dan komen ya guys. Terima kasih, salam sayang, sehat sll. 🙏😇🥰😘🌹


Bersambung


__ADS_2