
Paula menggelengkan kepala saat menatapku. “ Aku heran sungguh, sihirnya tidak menunjukkan diri sebelum ini, biasanya penyihir dengan potensi sebesar dirimu memperlihatkan tanda-tandanya saat masih kecil. Aku hanya menduga penyebabnya mantra yang mereka gunakan, mantra yang berfungsi agar semua orang menganggapmu sebagai sang putri. Mantra itu sangat cerdas, sangat kuat. Mantra itu mencegah sihirmu menunjukkan diri, & cukup kuat menahannya agar tidak muncul sampai mantranya di lepas. Sejujurnya, itu sebuah kerja keras karena jumlahnya sangat besar.”
Aku ketakutan, merasa sama sekali tidak bisa mengendalikan sesuatu yang sangat berbahaya di dalam diriku. Untuk mengimbangi rasa takut ini, aku mendapati diriku tidak hanya berusaha mengendalikan tapi mencengkeramnya erat-erat. Sedikit demi sedikit, benda-benda mulai jarang meledak. & itu bagus, namun karena aku mencengkeram sihirku dengan sangat erat, sering kali mantraku gagal.
“ Kau harus bekerja sama dengan sihir,” Paula sering mengatakannya hingga aku tertidur dengan ucapannya terngiang-ngiang di dalam kepalaku.
__ADS_1
“ Kau berusaha terlalu keras untuk mengendalikannya. Biar sihirnya mengalir melalui dirimu. Anggap dirimu sebuah sungai. Jangan bendung airnya, tapi jangan biarkan mengalir ketepian juga. Percaya pada sihirnya, & percaya pada dirimu. Bersikaplah lebih santai, Amelia.”
Ini membuatku frustrasi, membuatku bertanya-tanya bisakah aku mendapatkan keahlian yang sesungguhnya lagi. Aku terbiasa hebat dalam belajar; aku ingin hebat dalam urusan sihir. Aku mendorong diriku lebih keras dari yang dilakukan Paula, bahkan meskipun aku tahu aku masih menahan diri dalam beberapa hal penting, tidak mau melepas sihirku & mencari tahu apa yang terjadi. Dorongan & tarikan terus-menerus ini membuatku tegang setiap kali kami memulai pelajaran, & menyebabkanku gugup selama berjam-jam sesudahnya.
Aku belum berhasil memulihkan semua bagian diriku, tapi pecahan yang masih tercecer tergeletak dengan lebih tenang daripada saat di Treb, sedikit demi sedikit diperluas hingga tidak terlalu sering melukaiku.
__ADS_1
Namun, seiring minggu-minggu yang berlalu, ada bagian diriku yang baru terbentuk ini yang tidak berjalan lancar. Awalnya, aku berusaha mengabaikannya. Namun seiring waktu yang terus berjalan, bukannya membaik dalam semua pelajaranku, aku malah memburuk. Beberapa kali Paula terpaksa menegurku agar memperhatikannya. Aku tidak sengaja meninggalkan noda terbakar pada sampul sebuah buku yang sedang kusalin di perpustakaan, & menyebabkan badai angin di kamar tidurku hingga nyaris membuat tempat tidurku terlempar keluar jendela. Ujung-ujungnya aku tidak bisa tidur, melainkan hanya berbaring nyalang, merana di balik selimut hangat.
Aku tahu penyebabnya, meskipun sudah berusaha mengabaikannya. Namun, rasanya seperti berusaha mengabaikan sebuah luka yang tidak berhenti meneteskan darah, seperti berusaha mengabaikan hatimu yang patah. Bahkan setelah merasa lega karena mendapatkan sebuah tempat bersama Paula, dunia mulai terasa membosankan & menjemukan, kurang berwarna & merdu. Aku bertahan melewatinya, dengan keras kepala, selama berminggu-minggu, meyakinkan diri bahwa aku bahagia, tapi pada akhirnya aku harus mengakui kenyataannya. Tak peduli betapa nyamannya perasaanku di rumah Paula, tak peduli berapa banyak sihir yang kupelajari, semua itu tidak akan ada artinya sampai aku memperbaiki hubunganku dengan Devan.
Bersambung
__ADS_1