
Aku melongo menatapnya. Setelah semua yang kami lalui, ternyata itu tetap belum cukup baik untuk sebagian bangsawan? “ Memangnya mereka pikir siapa lagi yang pantas mendapat tugas itu?”aku bertanya dengan bingung. “ Kerabat terdekatmu adalah sepupu kedua dan ketiga—itu artinya mereka punya hak yang sama untuk menduduki tahta. Akan terjadi kekacauan kalau mereka berusaha memilih salah seorang di antara mereka, belum lagi sangat konyol. Kau sang putri, yang asli.”
Bella mengedikkan sebelah bahunya. “ Itulah yang terus dikatakan ratu—maksudku—ibuku.” Bahwa cepat atau lambat mereka akan menyadarinya, karena aku putri yang asli dan berhak menjadi ratu. Tapi, Sejujurnya, aku tidak merasa seperti itu. Tapi kurasa mungkin aku akan merasa seperti itu, suatu hari nanti, kalau kau membantuku.”
“ Dan setelahnya?” aku bertanya muram. “ Kau takkan membutuhkanku selamanya. Setelah itu aku akan tetap berada di posisi ini, tanpa rencana.”
Sebuah ekspresi licik terpancar pada wajah Bella. “ Aku sudah memikirkannya. Seperti yang sudah kita bahas, saat di jalan. Ada yang salah di sini, di Thorvaldor, di balik semua hal yang sudah benar. Banyak orang tidak punya kesempatan apa pun untuk memgubah hidup mereka. Orang-orang seperti nenekku, dan kita. Dan aku sudah merenungkannya, mungkin ini, semua ini, mungkin ini terjadi agar aku mengetahuinya. Karena aku takkan mengetahuinya jika tumbuh seperti yang seharusnya. Mungkin ini terjadi agar aku bisa mengubahnya.” Saat itu Bella melirikku diam-diam, wajahnya memperlihatkan sifat enggan mengakui kesalahan sebagai bentuk pertahanan diri (defensif) dan pertanyaan jujur. “ Apa menurutmu ini konyol? Bahwa aku hanya mencari cara untuk memahami semua ini?”
__ADS_1
Sang Dewa tidak peduli pada hal-hal duniawi seperti tahta, dan siapa yang mendudukinya. Ucapan sang peramal melayang-layang di balik kerongkonganku, tapi tersangkut di sana. Mungkin, kali ini, sang Dewa peduli, setidaknya sedikit saja.
“ Tidak,” aku menjawab, seperti yang kukatakan dalam perjalanan. “ Kurasa itu tidak konyol.”
Bella mendesah, seakan-akan ada beban yang baru saja terangkat dari tubuhnya, lalu berkata, “ Bagaimanapun, itulah yang kupikirkan. Sementara sesudahnya, setelah aku tahu apa yang harus kulakukan, kurasa ada orang lain sepertimu. Orang-orang yang terlalu miskin untuk diterima kampus penyihir, tapi mereka punya sihir. Mereka butuh sekolah sendiri. Tentu saja, harus ada yang mengelolanya. Kalau kau sudah cukup banyak belajar dari Paula…”
Harga yang harus dibayar memang tinggi, dan bahkan lebih tinggi lagi bagi sebagian orang. Namun saat menatap Bella, aku merasa yakin akan satu hal.
__ADS_1
Berapa pun harga yang harus dibayar, aku sudah membuat pilihan yang tepat.
“ Baiklah,” ujarku. “ Aku akan melakukannya.”
Bella balas menyeringai padaku dan melompat bangun. “ Bagus. Tapi sekarang aku harus pergi. Aku harus mengancam akan menurunkan pangkat para penjaga agar mengizinkanku keluar gerbang sendirian. Kalau begitu kau akan datang besok?”
Aku merasa limbung. Aneh, betapa cepatnya keadaan bisa berubah. Pagi itu aku merasa bingung, tidak yakin mengenai jalan hidupku. Namun sekarang aku sudah mendapat jalur, sebuah jalan untuk melakukan keahlian yang selama ini diajarkan padaku, untuk membantu Thorvaldor. “ Aku bisa ikut sekarang,” ujarku. “ Saat ini Paula tidak membutuhkan aku. Aku bisa memberitahunya soal pembicaraan kita dan—“
__ADS_1
Bersambung