PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 91


__ADS_3

“ Tapi kita semua sudah mengetahuinya,” Devan berkata dengan marah dari balik pundakku. “ Apa dia tak bisa menulis lebih banyak? Sesuatu yang berguna? Demi Dewa Tanpa Nama, ini mengenai hidup sang putri !”


“ Sang Dewa tidak peduli siapa yang menduduki takhta. Itu yang dikatakan sang peramal, apa kau ingat? Kurasa baginya itu tidak lebih penting dari ramalan lainnya.” Aku tersadar bahwa aku sedang menahan tangis. Ternyata aku benar. Mengunjungi tempat ini sama sekali tidak membantu.


“ Coba kulihat,” pinta Devan, dan aku menyerahkan buku padanya tanpa berjata apa-apa. Aku bisa melihat matanya bergerak saat membaca, tapi kemudian dia mendesah, dan sambil mengedikkan bahu meletakkan bukunya di atas meja dalam posisi menelungkup. “ Harus ada yang memberitahu mereka lebih menyeluruh.”


Aku mengangkat sampul belakang buku, membuarkannya membuka dan menutup lagi, dalam kekecewaan aku tidak peduli apakah aku akan menimbulkan kerusakan. Aku harus berusaha mencegah sedu sedan pada suaraku, jadi akhirnya suaraku terdengar seperti sedang flu berat. “ Aku hanya berpikir di sini pasti ada sesuatu, dan itu bisa membantu…” Namun, tepat pada saat itu ada sesuatu yang tertangkap oleh mataku. Aku menatap halaman terakhir di dalam buku. Tulisannya, tidak seperti tulisan tangan rapi yang digunakan sejak awal, berubah acak-acakan dan sulit dibaca, seakan-akan sang peramal lemah dan gemetar saat menulisnya.

__ADS_1


Penyakitnya tumbuh dengan cepat. Sepertinya aku tidak akan hidup lebih lama lagi, tidak dengan penyakit yang mencengkeramku dengan seerat ini. Lagi pula ramalannya sudah menghilang, sekarang sudah berhari-hari, dan aku tidak bisa melihat akhir hidupku sendiri. Mungkin ini memang pantas, keadilan sang Dewa.


Hal-hal yang belum sempat kutulis, akan kutuliskan sekarang—aku takut pada amarah sang Dewa jika tidak melakukannya, tapi kurasa memang sudah marah karena perbuatanku. Aku sudah memerintahkan agar catatannya dikubur bersamaku, dikunci dalam sebuah wadah. Para biarawan tidak mempertanyakannya, karena ini kehendakku. Dan mungkin, jika aku mengakuinya di suatu tempat, sang Dewa akan mengasihani pelayannya saat aku bertemu dengannya.


Aku mengerutkan kening, lalu membacanya lagi. Ini tidak masuk akal. “ Ada sesuatu yang tidak dilakukan, atau dikatakan olehnya,” gumamku, berusaha memahaminya. “ Apa pun itu sudah membuatnya ketakutan. Kurasa dia menulisnya saat sekarat dan meminta dikubur bersamanya.”


“ Apa menurutmu ada hubungannya dengan sang putri?” tanya Devan.

__ADS_1


Devan menggelengkan kepala dengan jijik, lalu menyelipkan jurnalnya ke dalam lemari lagi. “ Kalau dua menguburnya bersama dirinya, maka tak ada gunanya untuk kita, kecuali kau berencana untuk menggali mayat yang sudah membusuk, dan bahkan itu pun…. “ Devan meringis jijik.


Aku mengerutkan kening dan menjilat bibir, sebuah gambaran terbentuk di dalam benakku. “ Kurasa kita tak perlu melakukannya,” aku berkata pelan.


“ Aku akan merasa jauh lebih baik mengenai semua ini kalau mantranya bekerja,” desis Devan.


“ Jangan bilang aku harus menyeretmu,” aku balas berbisik. “ Ini petualangan yang sesungguhnya, Devan. Coba pikir, kalau kita berhasil lolos dari semua ini tanpa terbunuh atau dipenjara, kau akan punya kisah hebat untuk diceritakan pada gadis-gadis di istana.

__ADS_1


“ Apa kau yakin ini bukan penghujatan pada sang Dewa? Sebentar lagi kita akan merusak makam orang pilihan sang Dewa Tanpa Nama.”


Bersambung


__ADS_2