
“ Yah, kita semua ada di sini.” Paula mengamati kami, dengan tangan diletakkan di pinggul. “ Kita harus keluar dan mencari tahu apakah ada orang lain di jalan yang terluka. Gema, ikutlah denganku. Kita ambil peralatan. Devan, Amelia, kalian tetap di sini dan bersihkan tubuh kalian sebelum ikut membantu. Tak ada gunanya membuat para tetangga lebih takut dari yang sudah terjadi sekarang, dan kalian berdua terlihat seperti habis berguling-guling di atas kaca.”
Beberapa jam kemudian, aku dan Devan duduk di salah satu kamar kosong yang tidak tersentuh badai. Kami berdua memakai banyak perban; Devan terus-terusan menyentuh perbannya. Barang-barangku tertumpuk di lantai atau dihamparkan agar kering, aku terlalu lelah untuk menyusunnya di kamar baru. Dua kertas yang berasal dari perpustakaan, yang tertiup dan kusut akibat angin dan hujan, tergeletak di atas sebuah meja rendah bersama empat buku yang menahan ujungnya agar lurus kembali seperti semula.
“ Itu perbuatan Melani,” geram Devan. “ Kau tahu itu, dan aku tahu. Di jalan ini hanya rumah Paula yang terkena badai sebesar itu, dan kamarmu yang paling parah. Kita harus memberitahu Paula.”
“ Tidak.” Aku bersedekap, berusaha agar tidak mengernyit saat gerakan itu menarik sayatan yang terdapat di kulitku. “ Sepertinya Paula tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh, tak seorang pun di jalan ini yang menganggapnya aneh.”
__ADS_1
“ Itu bukan badai biasa!”
“ Aku tahu. Tapi kita tak punya bukti apa pun, dan kalau kita memberitahu Paula kita mencurigai Melani, kita juga harus menceritakan semuanya.”
“ Dan aku setuju melakukannya,” ujar Devan. “ Sekarang sudah tak ada alasan untuk tidak melakukannya. Kita tahu pelakunya bukan Omar, jadi Paula tidak akan memilih temannya daripada kita. Dan kau tidak pernah bilang dia dekat dengan Melani.”
“ Aku tahu, tapi…” Aku menggelengkan kepala, merasa bingung. Devan benar, kami harus memberitahu Paula, tapi ada sesuatu yang tidak bisa kujelaskan mencegahku untuk melakukannya. “ Itu bisa membahayakan Paula,” akhirnya aku berkata.” Kalau Melani tahu Paula sudah tahu, dia akan berusaha …. melakukan sesuatu padanya.”
__ADS_1
“ Mungkin dia tidak berusaha membunuhku,” dengan keras kepala aku berkukuh, meskipun aku tahu itu tidak mungkin. “ Mungkin saja dia hanya berusaha menakutiku. Agar tidak ikut campur.”
Dengan kesal Devan mengembuskan napas ke atas hingga rambutnya tertiup di atas kening. “ Itu tidak penting. Hari ini kau membuatnya takut hingga bertindak gegabah. Kalau ketakutan, dia bisa lebih berbahaya. Setelah menyadari tidak berhasil menghentikanmu, dia pasti akan mencobanya lagi. Dan kali berikutnya dia takkan gagal. Perempuan itu sudah berada di pengujung sebuah rencana untuk merebut kembali takhta keluarganya. Dia takkan membiarkan seorang gadis menghalangi rencana itu.”
Ini dia. Kami kembali ke posisi sebelum badai menjungkirbalikkan kamarku. Aku menatap Devan. Wajahnya benar-benar jujur; aku bisa melihat kecemasan dan ketakutan terpancar darinya. Devan tidak akan menyerah.
“ Sekarang kita bisa menceritakannya,” Devan berkukuh. “ Raja dan ratu. Paula. Seseorang yang bisa membantu kita. Katakan padaku kenapa kita tak bisa melakukannya.”
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala. “ Kumohon, Devan. Kita tak bisa memberitahu siapa pun. Paula—dia bisa terluka. Sementara yang lain, kita masih belum punya cukup bukti. Mereka takkan mempercayainya; mereka takkan mau mempercayainya. Kita tidak boleh menarik perhatian, harus membuat Melani berpikir kita takut melaporkannya, lalu, saat dia tidak menduganya, kita menyelinap ke Saremarch dan mencari—“
Bersambung