
Namun Devan bergeming; dia memelototiku di bawah cahaya malam yang temaram, wajahnya penuh tekad. “ Itu terlalu berbahaya. Sekarang dia pasti lebih seksama mengawasimu, kalau dia tidak berusaha menyakitimu lagi. Entah kita melaporkannya, atau kita sungguh-sungguh melupakan semuanya, Amelia.”
Aku merasa seakan-akan Devan baru saja menendang perutku dengan keras; aku sungguh-sungguh merunduk sambil memegangi perut. “ Melupakannya?” aku terkesiap. “ Apa yang kaubicarakan,”
“ Apa bedanya kalau Riana atau Diana yang duduk di atas takhta? Mereka sama-sama anggota kerajaan, ya kan? Dan Riana…. baik. Dia tidak tahu apa-apa mengenai semua ini. Dia akan menjadi ratu yang baik.”
Aku menggelengkan kepala, lalu berdiri dari kursi. Aku tidak memercayai semua ini, tidak bisa memercayai apa yang dikatakan Devan. “ Kita tak bisa—Melani—mereka pengkhianat! Keluarganya berusaha untuk menggulingkan ratu yang asli.”
“ Lebih dari seratus tahun yang lalu!” Devan berkata marah. “ Sudah sangat lama hingga nyaris tak ada yang mengingatnya.”
__ADS_1
“ Tidak! Ada bedanya!” sekarang aku berjalan mondar-mandir, lenganku memeluk tubuh erat-erat. Bagaimana mungkin Devan berkata seperti itu? Bagaimana dia berpikir aku bisa melupakan semua ini begitu saja? “ Ada bedanya ! Kalau kita tak bisa menemukannya, kalau begitu semuanya—hidupku—“
suaraku tercekat. Aku nyaris tidak bisa bernapas; rasanya paru-paruku terlalu kecil untuk menghirup udara yang kubutuhkan.
Namun Devan merengut dan memejamkan mata. “ Jadi itu inti dari semua ini, ya kan? Karena itulah kita tak bisa melaporkannya. Ini bukan soal bukti yang belum cukup, atau bahkan kemungkinan Paula terluka. Kau ingin menemukannya sendiri. Kni bukan hanya soal negeri, atau takhta. Jni soal membuktikan bahwa dirimu bukan orang yang tidak penting. Kalau kau tak bisa menjadi putri, kau akan menjadi penyelamat sang putri.”
“ Kau tak bisa hanya menjadi seorang penyalin, atau penyihir. Demi Dewa Tanpa Nama,” Devan berteriak sambil menyapu rambutnya. “ Kuharap mereka tak pernah menemukanmu, tak pernah membuatmu beranggapan kau seorang putri. Takkan ada yang cukup baik untukmu,sekarang tak ada. Kau takkan pernah bahagia. Kau menempatkan dirimu dalam bahaya, menanggung semuanya sendirian, hanya untuk membuktikan bahwa mereka semua salah menilaimu. Dan aku hanya—aku hanya—“
Lalu tiba-tiba, Devan melangkah ke hadapanku, mencengkeram pundakku untuk menghentikan langkahku yang sedang mondar-mandir, dia menciumku.
__ADS_1
Jika dulu aku beranggapan dicium Jose merupakan gambaran umum sebuah ciuman, maka aku salah. Ciuman ini mengalahkan ciuman Jose, rasanya seperti dicium sinar matahari, atau kebahagiaan. Lengan Devan memelukku, menggenggamku sangat erat hingga kupikir tangannya bisa meninggalkan bekas di punggungku. Tetapi bibirnya lembut, bergerak bersama bibirku seakan-akan sudah melakukannya selama bertahun-tahun, hangat dan lembut. Gelenyar kecil penuh kenikmatan menjilat sekujur tubuhku, dari bibir hingga jemari kakiku. Aku merasakan tanganku sendiri merayap ke leher Devan, dan kupikir aku akan tenggelan dalam sensasi ini.
Kemudian, muncul hawa dingin saat udara menyapu di antara tubuh kami. Devan memyapukan ciuman lagi, lalu mundur. Aku terkesiap, seperti seorang perempuan tenggelam yang baru saja tidak bisa bernapas karena ditelan ombak.
“ Aku mencintaimu, Amelia,” ujar Devan, tidak gemetar melainkan penuh keyakinan. “ Aku sudah mencintaimu selama—oh, bertahun-tahum—bahkan sebelum aku menyadarinya. Aku mencintaimu saat masih menjadi putri, dan aku mencintaimu sekarang. Aku hanya ingin kau bahagia. Dan aku ingin kau selamat. Aku tak peduli apakah kau Ratu atau bukan.”
Devan membelai sisi wajahku, jempolnya menyapu bibirku. “ Tapi kau peduli, ya kan?”
Bersambung
__ADS_1