
Lidahku terasa kelu dan kering, jadi aku meneguk teh, lalu nyaris meludahkannya lagi saat terasa membakar lidahku. “ Bolehkah aku melihat lengan kirimu?” tanyaku setelah bicara lagi.
“ Kenapa?”
“ Bolehkah aku melihatnya saja?”
Ekspresi tajam itu terarah padaku lagi, tapi akhirnya Bella mengulurkan lengannya. Dengan hati-hati, seperti yang kulakukan saat menghampiri hewan yang terluka, aku memutar lengannya hingga telapak tangannya menghadap ke atas. Bella mengenakan gaun cokelat bertambal, lengannya sedikit pendek. Nyaris tanpa bernapas, aku mendorong lengan baju yang menutup lengan kiri Bella.
__ADS_1
Tiga buah titik kecil berwarna kemerahan, tersusun membentuk sebuah segitiga kasar, terletak tepat di bawah cekungan sikunya.
Aku membiarkan lengan Bella turun, menahan desakan untuk mengusap tempat yang sama pada lenganku, dan berpikir dengan panik.
Rencanaku, yang muncul saat duduk di bangku luar kedai minum sambil menunggu kemunculan seorang gadis yang terlihat seperti Riana, sekarang terasa sangat konyol. Lebih buruk lagi, tanpa ragu sedikit pun aku tahu seandainya berbohong pada Bella, seandainya aku memberitahunya sesuatu selain kebenaran yang sesungguhnya, kami tidak akan punya kesempatan. Seandainya aku menceritakan kisahku mengenai seorang kerabat dan warisan di Vivaskari, saat mengetahui kebenarannya, Bella tidak tidak akan pernah memercayaiku lagi. Aku baru menghabiskan sedikit waktu bersama Bella, tapi aku sudah tahu gadis ini diperlakukan dengan lebih kasar dari dugaanku semula. Tatapan matanya mengatakan semua itu, gerakan kecil dan tajam yang dilakukannya saat terkejut mengatakan semua itu, dan ucapan kasarnya saat terpojok memberitahu semua itu. Seumur hidupnya Bella sudah sering ditipu dan diserang, dan jika berbohong padanya, aku akan kehilangannya.
Aku sudah melatih diri, sejak melihat Riana sedang dimantrai di balik jendela istana, untuk bungkam. Hanya ada dua orang lainnya yang mengetahui gambaran kasar mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi enam belas tahun yang lalu—Devan, yang lebih kupercaya dari diriku sendiri, dan sang peramal Dewa Tanpa Nama yang sudah membungkam dirinya sendiri. Hari-hari panjang penuh kerahasiaan itu membuatku gemetar ketakutan hingga tidak sanggup mempertimbangkan untuk memberitahu orang lain, bahkan sang putri asli, yang menjadi inti semua permasalahan ini.
__ADS_1
“ Bella,” aku berkata pelan, “ yang ingin kukatakan ini akan terdengar gila. Tapi kau harus percaya padaku.”
Dia menunggu tanpa bicara, dan aku menelan ludah. Tidak ada cara mudah untuk mengatakannya, aku hanya perlu mengucapkannya. “ Sampai berusia enam belas tahun, aku juga punya tanda lahir yang sama sepertimu. Atau kelihatannya aku punya. Sesungguhnya, itu hanya bagian dari mantra yang membuatku terlihat seperti sang putri .”
Lagi-lagi Bella menunggu. “ Sekarang gadis yang berada di istana memiliki tanda yang sama, tapi miliknya juga bukan asli. Karena sama sepertiku, dia juga bukan putri yang asli. Ada yang mengelabui raja dan ratu, mengkhianati mereka dengan menukar sang putri, tidak hanya satu kali melainkan dua kali.”
Aku meletakkan cangkir teh di atas meja reyot yang berada di smpingku. “ Bella, hanya ada satu orang yang punya tanda lahir asli. Kau. Kaulah putri yang asli. Kau Diana.”
__ADS_1
Bella terdiam sangat lama hingga kupikir tidak mendengarku. Namun saat aku bermaksud untuk mengulanginya, dia berdiri dari kursinya.
Bersambung