PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 9


__ADS_3

Aku menduga tidak akan mungkin merasakan sakit hati. Dadaku terasa sesak, seakan-akan diimpit batu besar, & mataku terasa membara akibat air mata yang tak tertumpahkan. Tentunya tidak ada hal lain yang bisa membuatku merasa lebih buruk lagi, lebih tersesat & sendirian , daripada yang kurasakan sekarang. Namun, rasanya lebih menyakitkan saat berdiri di depan kerumunan & mendengar pria yang kupikir ayahku mengambil kembali namaku.


Di luar, dayang yang berbicara dengan penyihir berjubah hijau tertawa. Aku tidak bisa mendengarnya, tapi aku bisa membayangkan betapa santai & riang suaranya. Sekarang sakit hati yang kurasakan di aula sudah berganti menjadi mati rasa, hingga rasanya mungkin saja selama ini aku menjelajahi dunia di dalam bungkusan wol tebal.


Aku takkan pernah berdiri di sini lagi, batinku, Aku takkan pernah berjalan-jalan di taman lagi, atau makan bersama Devan di meja makan, atau tidur di tempat tidurku.


Aku harus pergi. Ayahku bukan, sang raja, aku mengingatkan diriku, sudah menjelaskan bahwa tidak boleh ada kerancuan saat Diana tiba. Jadi,aku harus pergi. Bibiku masih hidup & tinggal di Treb, & aku bisa diantar padanya. Dia bilang semua akan dilakukan dengan cepat, seperti mengamputasi sebuah tungkai, agar lukanya lebih cepat pulih.

__ADS_1


Terdengar ketukan di pintu, & aku tersentak kaget, satu tanganku melayang & menghantam ambang jendela batu. “ Masuk,” aku berkata setelah giginya tidak mengertak lagi, & sesaat kemudian, dua orang pelayan perempuan yang nyaris tidak kukenal masuk kamar.


“ Kami akan membantumu berkemas, My Lady.”


Ujar pelayan pertama. Dia lebih tua dari pelayan satunya, rambut hitamnya bersemburat kelabu, & dia bicara dengan nada tegas. Pelayan kedua, yang lebih muda, menatapku dengan mata terbelalak. Biasanya, dayang-dayangku yang membantuku mempersiapkan sebuah perjalanan. Namun semuaya tidak bisa, setidaknya tidak sekarang & mungkin mereka mempersiapkan diri untuk kedatangan Diana yang asli.


Si pelayan pertama mengangguk, tapi wajahnya terlihat khawatir. “ Sesuka hatimu saja, Miss.”Dia melirik temannya dengan tatapan penuh makna, & keduanya mulai bekerja, mengumpulkan beberapa pakaian yang lebih sederhana & memasukkannya ke dalam sebuah peti kecil.

__ADS_1


Saat menatap mereka aku menyadari tanganku masih terasa sakit, & aku mengangkat tangan lain untuk memijatnya agar tidak nyeri lagi. Aku memang tidak penah terlihat seperti putri sungguhan, batinku. Selama ini aku terlalu pemalu, terlalu canggung, terlalu udik. Merasa lebih nyaman berada di perpustakaan daripada jamuan makan, sangat mungkin tersandung saat menuruni tangga atau membentur tulang kering saat berdiri dari kursi. Rambutku selalu berantakan, mata & jemariku selalu berlumuran tinta. Seorang putri sungguhan tidak akan seperi itu. Seharusnya aku menyadarinya. Seharusnya aku sudah menduganya.


Ternyata mereka hanya membutuhkan waktu singkat untuk mengemasi barang-barang yang boleh kubawa. Setelah selesai, kedua pelayan mengangkat peti, mengangguk padaku, & pergi. Karena kedua pelayan itu tidak mengisyaratkan aku harus mengikuti mereka,, aku tetap berada di tempatku, menatap keluar jendela . Beberapa saat kemudian terdengar ketukan lain di pintu. Saat membukanya aku terkejut mendapati Ronald berdiri di sana.


“ Sudah saatnya pergi,” hanya itu yang dikatakannya. Ronald bersandar pada sebuah tongkat tinggi, yang tidak di gunakannya saat memanggilku di taman tadi pagi.


Aku mengangguk, menatap kamarku untuk terakhir kalinya, & melangkah ke koridor.

__ADS_1


Aku tahu kabar burung menyebar dengan cepat di istana, tapi aku tidak tahu secepat apa.


__ADS_2