PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 21


__ADS_3

Ada ucapan bibiku yang mengganggu pikiranku. Apakah aku terlalu mudah menyerah seperti ayahku? Apa aku membiarkan diriku diusir dari kehidupanku, padahal aku bisa berjuang untuk mempertahankan sebagian? Sejak dulu aku tidak suka berdebat, selalu mundur dari konfrontasi. Namun, apakah seharusnya aku membela diri, menuntut sesuatu sebagai imbalan enam belas tahun yang kuberikan pada kerajaan?


Tidak, ujarku dalam hati. Saat raja bilang kau harus pergi, maka kau pergi. Aku bukan seorang putri, atau bahkan bangsawan; aku tak punya kekuatan. Tak ada yang bisa kulakukan untuk mengubah semua yang terjadi.


Aku mengulangnya dalam hati, tapi bahkan saat itu pun, ada sebagian kecil diriku yang seakan-akan menggelengkan kepala, tidak percaya.


Dengan adanya jarak dengan bibiku, kurasa sebaiknya aku mencari pertemanan dari orang lain yang ada di Treb. Namun, aku juga tidak berhasil mendapat penghiburan di sana. Dengan berbagai pelajaran yang diberikan bibiku, aku hanya punya sedikit waktu luang, & jelas tidak cukup untuk berkeliaran di desa & mencari teman. Selain itu, tiga orang gadis seumurku memiliki kesibukan sendiri, dua diantara mereka sudah bertunangan & akan segera menikah, Namun, bukan itu yang mencegahku berbuat lebih banyak selain mengangguk pada mereka saat berpapasan di jalan.

__ADS_1


Mereka mengetahui apa yang terjadi pada diriku, mereka mengetahuinya dari seorang penjual keliling yang berada di Vivaskari saat putri sesungguhnya kembali. Raja & ratu juga memgirim pengumuman untuk dibacakan di semua sudut kota besar, & kota-kota yang terlalu kecil untuk didatangi kurir sehingga menyebar sampai ke Treb.


Kisah ini, mengenai seorang putri yang disembunyikan tanpa memgetahui identitas yang sesungguhnya, menimbulkan kehebohan di seluruh penjuru negeri.


Di sebagian besar tempat, kurasa rumormya berkisar tentang Diana, Diana yang sesungguhnya. Namun, di Treb ada hal lain yang harus dipikirkan, sesuatu yang hampir terlupakan di tempat lain. Aku; si putri palsu.


Beberapa orang ada yang berhasil mengumpulkan keberanian untuk mendekatiku & menanyakan hal itu, tapi hanya mendapat senyuman dengan bibir tertutup & gelengan kepala dariku.

__ADS_1


“ Aku tidak ingin membicarakannya,” biasanya aku menjawab, & aku selalu melihat kekecewaan yang terpancar dari mata mereka, ketidaksukaan, seakan-akan aku punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan mereka. Namun, semua itu masih terlalu baru, terlalu perih bagiku, & bahkan berkata sejauh itu pun membuat tubuhku gemetar saat beranjak pergi.


Hanya ada dua hal yang melanggar pola harianku di Treb. Yang pertama adalah .. aku tidak tahu apa itu sebenarnya. Sesuatu yang tidak punya nama, sesuatu yang tidak bisa kusentuh, atau kutunjuk, lalu berkata,


“ Ah ini dia yang sudah mengangguku.” Itu hanya sebuah perasaan, perasaan yang muncul kira-kira beberapa minggu setelah kedatanganku ke tempat ini.


Diawali dengan rasa terimpit di dadaku, seperti saat kau ingin menangis & tidak membiarkan hal itu terjadi. Semula aku mengabaikannya; rasanya tidak aneh jika kau merasa seperti itu, tidak setelah semua yang terjadi. Namun beberapa waktu kemudian, semua itu berubah tumbuh & bergerak hingga terkadang aku merasa aneh, seperti ada yang panas & meruap di dalam tubuhku & ingin keluar.

__ADS_1


__ADS_2