PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 35


__ADS_3

Mengapa? Karena sebuah ramalan yang tidak ada hubungannya denganku, karena kebetulan aku lahir pada saat yang tepat dari seorang pria yang merasa sangat tidak bahagia sehingga tidak peduli padaku. Hanya karena itu, aku tidak akan pernah…


“ Amelia!”


Suara tajam Bibi Vania menyentakku dari perasaan bingung yang menyelubungiku. Pada saat itu barulah aku melihat angin yang berputar di dalam rumah, menarik rok Bibi Vania, rambutku, & tanaman herbal yang tersebar di meja.


Sihir lagi. Tetapi aku tidak tahu cara mengendalikannya, cara menghentikannya. Aku tidak bergerak, nyaris tidak bernapas saking kagetnya, & sedikit demi sedikit sensasi sihir yang terasa sesak di dadaku mulai berkurang lagi saat sihirnya mengalir keluar dari tubuhku.


Perlahan-lahan, anginnya berkurang, & saat akhirnya benar-benar menghilang, aku terduduk lemas di atas kursi terdekat.


Sang Dewa Tanpa Nama, aku membahayakan diriku sendiri & semua orang yang ada di sekitarku. Lihat saja apa saja yang sudah kulakukan saat merasa sakit hati & marah. Apakah aku akan membakar rumah saat tidak bisa mengendalikan emosi lagi? Aku cepat-cepat menelan ludah saat mimikirkan kemungkinan itu.

__ADS_1


Bagaimana kalau aku melakukannya sekarang? Sepertinya tidak mungkin; aku merasa lelah, sama lelahnya jika aku harus berlari ke Vivaskari & kembali lagi ke sini. Namun, tidak ada seorang pun yang bisa memberitahuku apa yang mungkin terjadi, tidak seorang pun yang bisa membantuku mengendalikan diri.


Bibi Vania berdehem.


“ Seperti yang tadi kubilang, ibumu, memiliki kekuatan. Menurut pengamatanku, sebagian besar kekuatannya digunakan untuk menjerat orang, untuk memaksa mereka melakukan kehendaknya. Itu salah satu alasan mengapa aku….. tidak menyukainya. Aku selalu menduga dia menggunakan sihir pada ayahmu, itu membuatnya jatuh cinta padanya.”


Aku tidak mendongak & terus menatap pangkuanku.


“ Apa dia terlatih?”


“ Bukan di kampus di Vivaskari. Dia mengaku pernah belajar dengan seorang penyihir selama di perjalanannya. Dia bilang orang-orang yang tinggal di sana tidak terlalu mementingkan seremoni seperti kita.”

__ADS_1


Itu memang benar, jika mengacu pada semua yang kuketahui soal praktik sihir Farvaseen. Mereka tidak memiliki kampus ; alih-alih, siapa pun yang memiliki kemampuan sihir hanya perlu mencari seorang penyihir yang mau menerima mereka sebagai anak didik.


Para penyihir di Vivaskari selalu bersikap angkuh saat mendengar gagasan seperti ini, mereka bilang itu pendekatan yang tidak disiplin & karena itulah tidak ada penyihir Farvaseen yang benar-benar terkenal selama dua abad terakhir. Bagaimanapun, itu tidak membantu.


“ Seharusnya Bibi memberitahuku,” aku berkata lelah.


“ Aku…sekarang aku berbahaya. Aku membunuh sulur yang sedang berbunga. Tanaman itu berubah menjadi abu di tanganku. Aku nyaris menciptakan sebuah angin badai di ruangan ini tanpa berniat melakukannya. Seandainya kau memberitahuku…”


Aku berhenti berbicara, tidak yakin. Apa yang terjadi? Aku tetap tidak punya siapa pun untuk dimintai tolong. Di Treb bahkan tidak ada penyihir tradisional.


“ Aku tak suka sihir,” jawab Bibi Vania.

__ADS_1


Aku mendongak menatapnya. Aku belum pernah mendengar siapa pun mengatakan hal semacam itu. Kau tidak punya pilihan untuk menyukai atau tidak menyukai sihir. Sama saja seperti kau mengatakan tidak menyukai udara; itu sesuatu yang sudah ada, sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat. Sebagian orang memilikinya & sebagian lainnya tidak, seperti rambut berwarna merah atau jarak pandang lemah.


Bersambung


__ADS_2