PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 61


__ADS_3

Iklan dulu yah guys πŸ™πŸ˜πŸ₯°



Istana Thorvaldor dari jauh πŸ™πŸ˜



Amelia


__ADS_1


Devan



Amelia & Diana ( putri asli yang mana hayo ) πŸ˜πŸ™


Suaraku sepertinya mengingatkan Diana bahwa aku sedang menunggunya, karena dia tersenyum meminta maaf & duduk di sampingku. Tetapi bukannya bicara, kami justru tidak mau saling menatap, & hanya menatap pangkuan. Diana mengenakan gaun biru gelap, lengannya jatuh tepat di bawah lekukan sikunya. Jika dia bergerak, mungkin aku bisa melihat tanda lahirnya, tanda lahirku dulu, tiga buah titik kecil kemerahan yang berada di lengan dalamnya.


Suara Diana bergetar, sangat samar hingga aku tidak yakin apakah aku benar-benar mendengarnya, & saat meliriknya, aku melihat bagian putih matanya sedikit terlalu besar, & ada sedikit ketegangan mencengkeram mulutnya. Rapuh, aku tersadar. Sang putri Thorvaldor merasa sama asingnya seperti yang kurasakan, sama-sama tidak yakin harus berkata apa, ini membuatku ingin memeluknya sekaligus menampar pipinya yang anggun.


β€œ Mulai dari awal,” ujarku, tapi suaraku terdengar sedikit serak. β€œ Kenapa kau mencariku, Yang Mulia?”

__ADS_1


Diana mengernyit saat mendengarnya ; kata-kata terakhir terdengar lebih tajam dari yang kumaksudkan. β€œ Kumohon jangan panggil aku dengan nama itu. Aku datang bukan untuk itu.”


β€œ Kalau begitu untuk apa?” tanyaku, menahan desakan untuk menggosokkan tangan pada lengan.


β€œ Untuk menemuimu. Hanya kau yang ada dalam pikiranku, selama perjalanan dari panti asuhan di biara. Kupikir mungkin aku bisa menemuimu, mungkin kau masih ada di sini, tapi ternyata tidak. & saat kesepian, saat merindukan rumahku, aku terus bertanya-tanya kau ada di mana & apakah kau merindukan rumahmu tempat kau di besarkan.”


β€œ Yah, kalau hanya itu yang ingin kauketahui, aku bisa memberitahumu.” Kalimat itu meluncur deras dari mulutku, tajam & menyerang. β€œ Kalau kau ingin tahu bahwa aku menangis sampai tertidur karena merindukan teman-teman, kamarku, & …. semuanya, aku bisa memberitamu. Kalau kau ingin tahu bahwa aku bahkan tak bisa membangun sebuah kehidupan untukku sendiri bersama satu-satunya anggota keluargaku yang tersisa, aku bisa memberitahumu. Aku bisa memberitahumu mengenai satu-satunya yang kupikir temanku ternyata sama sekali bukan teman, mengenai kampus penyihir yang tidak mau menerimaku karena aku terlalu miskin. Apa kau akan merasa lebih baik setelah mendengar semua itu?”


Sejenak Diana terlihat terkejut seakan-akan aku baru saja menamparnya. Namun kemudian dia menegakkan tubuh, pundaknya mengeras, & dagunya terangkat. β€œ Kau tahu kan, aku tidak meminta semua ini, aku tidak meminta mereka untuk datang & memberitahuku bahwa aku seorang putri. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku, aku tidak menginginkan kehidupanmu ! & sekarang aku hanya… berusaha memahami, & kupikir….” Diana mengembuskan napas tajam, seraya mendongak menatap langit kelabu. β€œ Kupikir aku akan merasa lebih baik, sedikit lebih baik, jika aku bertemu denganmu.”


Serangkaian serangan lain sudah terpikir di dalam benakku, & aku nyaris mengucapkannya. Namun, tepat pada saat itu, aku melihat salah satu tangan Diana mencengkeram kain kasar jubahnya, menggosoknya naik turun di antara jemari seakan-akan gerakan itu bisa menenangkannya. Aku menyadari jubahnya berbau harum. Sama sekali tidak berbau apek khas pakaian yang di masukkan ke dalam peti oleh pelayan istana karena tidak pernah digunakan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2