PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 120


__ADS_3

Aku terbangun di atas sebuah dipan di dalam kamar sempit dan gelap, dan setiap inci tubuhku terasa sakit. Aku mengangkat kepala, berusaha mengertakkan gigi agar tidak mengerang. Ada yang terjadi, sesuatu yang buruk, dan aku tidak ingat—di dalam kepalaku ada sebuah suara sekelam malam berkata; Halo, Amelia.


Aku terduduk sangat cepat hingga darah rasanya menderu ke kepala, dan aku membutuhkan beberapa saat sebelum bisa melihat lagi. Setelah bisa melakukannya, keringat dingin bermunculan di punggungku saat menatap sekeliling.


Sebuah kamar yang lebarnya tidak lebih dari lima langkah. Dinding batu. Tak ada jendela yang terbuka ke luar, hanya ada sebuah pintu dipasangi jendela kecil berjeruji, dan dari sanalah datangnya cahaya obor berbentuk persegi gompal yang terpancar di atas ruangan.


“ Halo?” aku berkata ragu.

__ADS_1


Tidak ada yang menjawab.


“ Halo?” aku memanggil lebih lantang. “ Kumohon siapa pun—aku terperangkap! Siapa saja, kumohon, tolong aku!”


Lagi-lagi tidak terdengar apa pun. Aku berdiri, terhuyung-huyung menghampiri pintu, tapi ternyata di sisi ini tidak ada gagangnya. Aku menyentuh pintu, meraih sebuah mantra yang serupa dengan kugunakan di pintu makam di Siderros. Namun sihirku tertahan di dalam diriku, terhalang oleh sesuatu yang tidak kulakukan. Aku memanggilnya lagi, gemetar, dan aku tetap tidak bisa memanggilnya ke permukaan. Jadi aku mengedor pintunya sampai tanganku sakit karena terus menghantamnya, dan tidak berhasil menggeser pintunya sedikit pun. Jendela yang berjeruji tidak menawarkan bantuan apa pun. Dengan berjinjit aku bisa melihat sedikit cahaya perak kecil di lorong, tapi hanya itu.


“ Kumohon,” bisikku saat merosot pelan di depan pintu dan mendarat di lantai. “ Kumohon.”

__ADS_1


Bahkan tidak ada seekor tikus pun yang menjawabku.


Aku tidak tahu berapa lama aku menunggu di ruang sempit itu. Pria berseragam kelabu, pedang menggantung dari ikat pinggang mereka, membuka pintu dan masuk sebanyak enam kali. Setiap kali datang mereka meninggalkan baki makanan, dan mengosongkan ember toilet yang berada di sudut. Mereka tidak bicara padaku, bahkan saat aku memberondong mereka dengan pertanyaan pun tidak, dan akhirnya aku hanya meringkuk di atas dipan, menatap mereka. Aku bahkan tidak berusaha menggunakan mantra apa pun; sihirku jelas-jelas dihalangi, sama tak terjangkaunya olehku seperti sisi luar pintu.


Awalnya benakku hanya berputar di tempat. Apa yang kudengar memanggil kami dari dalam hutan sungguh-sungguh Devan? Kedengarannya seperti Devan, dan aku bisa mengenali suaranya di mana pun. Tapi Devan sudah bilang tidak akan membantuku, dia mengkhawatirkan sesuatu semacam ini akan terjadi padaku, dan tidak mau menyaksikannya. Dan tentunya Devan marah padaku karena mantra yang kupasang pada dirinya, terlalu marah untuk memaafkanku semudah itu. Aku melihat ekspresi yang terpancar dari matanya saat menyadari apa yang baru kulakukan, dan ekspresinya memperlihatkan perasaan terkhianati. Namun, setelah semua itu, apakah Devan berubah pikiran dan tetap menyusulku?


Apakah Bella berhasil kabur, dengan atau tanpa Devan? Bella pasti mengenal hutan, mungkin dia mengetahui sebuah tempat yang bisa digunakannya untuk bersembunyi dari Melani dan anak buahnya. Seandainya Devan bersama Bella, apakah Devan akan berusaha membawanya kembali ke kota? Mantra yang kupasang pasti sudah terpatahkan saat aku menemukan Bella, jadi Devan bisa memberitahu raja dan ratu mengenai semua yang terjadi. Atau mereka berdua juga terperangkap sepertiku? Haruskah aku mengetuk dinding, seperti yang dilakukan orang-orang di dalam cerita, dan berharap salah seorang dari mereka balas mengetuk?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2