PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 55


__ADS_3

“ Tidak, aku tidak melakukannya,” akhirnya Devan berkata. “ Aku tidak bilang apa-apa pada mereka. Kau lupa, Amelia, hanya beberapa bulan lagi aku berusia delapan belas tahun. Sepertinya orangtuaku merasa aku harus, bagaimana ayahku mengatakannya, ‘memuaskan hasrat kelayapan di dalam diriku’ sebelum menyusun hidup sebagai orang dewasa yang sepantasnya. Akhir-akhir ini mereka membiarkanku bersikap cukup liar.”


“ Memangnya sebelum ini tidak,” dengusku.


Devan mengedikkan bahu. “ Beberapa hari terakhir ini mereka cukup senang melihatku melakukan sesuatu, selain merengut & uring-uringan di kamar. Aku sering melakukannya selama kau pergi.”


“ Kupikir kau mencium Nona Ivia selama aku pergi.”


Devan membungkuk di atas meja, & mengedikkan sebelah mata padaku. “ Ya, tapi hanya satu kali, sangat disayangkan.” Devan bergeser, seakan-akan hendak bersandar lagi, tapi kemudian dia berkata, dengan lebih serius, “ Kenyataanya, selama kau tidak ada aku merana. & terutama setelah, um, pertemuan kita di Treb. Orangtuaku mengancam akan mengajakku ke rumah peristirahatan keluarga Rithia, untuk mencari tahu apakah udara segar di sana bisa menyadarkanku dari keputusasaan.


Saat itulah aku mencium Nona Ivia. Kupikir sebuah skandal bisa membuktikan bahwa aku masih sama seperti dulu, & memastikan mereka tidak menggangguku. Aku sempat berharap mungkin kau akan mencariku, membutuhkanku, bahkan setelah semua yang terjadi, & aku tidak tidak mau kau mendapatiku tidak ada di sini.”

__ADS_1


Kehangatan menyelinap ke dalam celah-celah di antara tulangku, manis seperti madu. Aku menelan ludah, tidak yakin harus berkata apa. “ Orangtuamu yang malang pasti kebingungan,” akhirnya aku berkata. “ Seumur hidup kau tak pernah sakit bahkan sehari pun.”


“ Oh, mereka tahu penyebabnya. Mereka hanya menduga…” Devan berhenti bicara, sebuah senyum pura-pura ceria tersungging pada wajahnya. “ Apa kau mau tambah minum? Aku akan memesan lagi, jadi aku bisa mengambilkannya untukmu kalau mau.”


Aku mengangguk, menatapnya saat menyelinap di antara meja menuju bar, Devan membungkuk di atas konter, mengobrol dengan gadis pelayan yang mengelurkan dua cangkir baru. Devan kembali, sambil membawa minuman, dengan langkah bahagia.


“ Gadis itu bilang ada sekelompok pemain sulap menginap di penginapan Flower. Besok mereka akan tampil di pasar tepat sebelum senja. Kalau Paula tidak membutuhkan bantuanmu, mungkin kita bisa menonton mereka.”


“ Apa, Kelopak Mawarku?” Wajahnya memperlihatkan ekspresi bingung, tapi aku tahu yang sebenarnya.


“ Setelah aku pergi. Kaubilang mereka tahu kenapa kau sedih, tapi mereka menduga…..” aku membiarkan kalimatnya menggantung, sambil mengangkat alis dengan ekspresi bertanya.

__ADS_1


Devan mendesah, lalu mendorong cangkir ke arahku. “ Mereka berharap aku bisa berteman dengannya. Berharap aku melupakanmu.”


Kehangatan itu menghilang digantikan dengan terbentuknya es yang rapuh. “ Dengan Diana.”


“ Ya.”


Aku meraih cangkirku & berhasil menumpahkan cairan di atas meja saat mengangkatnya. Aku tidak yakin apakah aku ingin mengetahui jawabannya, tapi rasanya aku tidak sanggup menahan diri. “ & apa kau melakukannya? Berteman dengannya?”


Devan terlihat gundah. Dia menatap cangkirnya, lalu meneguknya cukup banyak hingga tersedak. Matanya berair, lalu dia berkata, “ Bisa dibilang begitu. Dia… dia baik, Amelia. Dia di besarkan di panti Biara, tapi kau takkan menduganya… dia tidak kaku maupun dingin. Dia baik. & ayahku ingin memastikan aku tidak… mengabaikannya. Ayahku bilang semua orang tahu betapa dekatnya aku denganmu, & keluarga kami akan dirugikan jika aku dianggap tidak menyukai sang putri. Jadi, aku datang setiap kali dia mengundang beberapa orang dari kami untuk bermain di aula atau jalan-jalan. & dia juga sudah mendengar kisahmu, & aku, kadang-kadang dia menayakannya.”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2