
Seraya menerawang ke kejahuan, Paula memicingkan mata sambil merenung. “ Sebuah mantra yang aneh, sungguh. Mereka akan mengalami kesulitan seandainya sang putri meninggal saat masih kecil, saat tinggal di panti asuhan biara. Mantranya bisa hancur berantakan, dan sihirmu akan kembali padamu, sama seperti sekarang. Mereka takkan bisa mengakuimu sebagai sang putri. Tapi kurasa tak ada cara lain untuk melakukannya. Tapi sekarang aku benar-benar harus mulai mengerjakan ini,“ Paula mengguncang mangkuk hingga bubuk di dalamnya berputar sebentar ke sisi, lalu jatuh ke dasarnya lagi, “ atau potensinya akan hilang. Biji ara darah terkenal seperti itu.”
Sesudahnya aku berkeliaran, dengan gelisah, di seputar rumah. Aku menginginkan sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian, sesuatu selain renunganku mengenai percakapan bersama Diana atau gagasan menggelisahkan bahwa bagian diri kami sudah ditukar selama mantra terpasang.
Atau gagasan bahwa ada orang tidak di kenal yang mengikutiku. Aku tahu seharusnya aku menggunakan mantra pesan untuk mengirim kabar pada Devan, untuk memberitahunya bahwa ucapannya soal Diana memang benar, tapi setiap kali memulai mantranya, aku berhenti.
__ADS_1
Aku belum siap; semua itu masih terlalu baru, terlalu sensitif, seperti sebuah luka yang perbannya baru dibuka. Sebagian luka di dalam diriku mungkin sudah dibunuh dengan mengobrol bersama Diana, tapi bukan berarti aku ingin ada orang memeriksanya. Jadi, aku membuat onar, menganggu semua orang mulai dari Gema, yang mengusirku dari dapur dalam kepulan awan tepung, hingga Arion, yang menerima kehadiranku di istal hingga aku tidak sengaja menerbangkan beberapa buah sisir kuda, dan menakuti kuda betina Paula. Setelah digiring keluar dari istal, aku kembali ke rumah, berjalan-jalan menyusuri lorong dan sesekali memasuki sebuah ruangan dan keluar lagi hanya beberapa saat kemudian.
Bahkan perpustakaan pun tidak membuatku tertarik, dan akhirnya aku mendapati diriku di depan kamar tidurku. Sambil mendesah dan tidak sanggup memikirkan hal lain, aku membuka pintunya, masuk, dan berbaring di atas tempat tidur untuk menatap langit-langit.
Apa yang sedang dilakukan Diana? Apa dia sudah kembali ke istana? Aku penasaran apakah dia merasakan…. sisa-sisa mantra mereka pasang pada kami.
__ADS_1
Sambil menggeram aku bangkit dan mengamati ruangan, putus asa menginginkan sesuatu yang bisa membuatku berhenti memikirkan banyak hal. Aku lelah setengah mati karena memikirkan keadaanku, karena mengkhawatirkan siapa diriku dan bukan diriku.
Kumohon, batinku, mengirimkan sebuah permintaan pada sang Dewa Tanpa Nama, agar membantuku, aku tahu Sang Dewa Tanpa Nama memiliki banyak hal lain yang lebih pantas untuk dikhawatirkan daripada memikirkan gadis penyalin yang tidak bahagia.
Meskipun begitu aku memejamkan mata dan berdoa. Kumohon izinkan aku berhenti. Aku hanya ingin menjadi diriku, aku hanya ingin berguna dan… puas. Aku ingin berhenti bertanya-tanya apakah aku akan merasa utuh dan benar-benar utuh. Aku ingin memiliki tujuan, tujuan yang bisa kulihat tanpa merasa lebih rendah dari diriku yang dulu.
__ADS_1
Seandainya aku mengharapkan semacam pertanda… gemuruh petir di langit yang diguyur hujan atau getaran ikhlas di dadaku.. aku menunggu dengan sia-sia. Tidak ada yang terjadi, bahkan tiupan angin di jendela pun tidak. Karena merasa konyol, aku menendang sisi tempat tidur beberapa kali hingga mataku tertumbuk ke atas meja, yang dipenuhi kertas dan buku yang kupinjam dari perpustakaan. Yah, batinku, seandainya sang Dewa Tanpa Nama tidak meninggalkan semua urusannya untuk memenuhi kebutuhanku, sebaiknya aku beres-beres saja.
Bersambung