
Aku takut. Mungkin aku berhasil lolos dari kematian di tangan Melani, tapi ramalan sang peramal masih menghantui benakku. Seandainya aku melanjutkan perjalanan ini, kelihatannya akan ada seseorang yang mati. Mungkin hari ini. Aku mencabut sehelai ilalang yang tumbuh di antara rerumputan. Seandainya saja aku tahu siapa di antara kami yang berada dalam bahaya, sisi segitiga mana yang butuh perlindungan utama. Maka aku bisa mempersiapkannya dengan lebih baik, melakukan tindakan pencegahan. Namun, tidak ada pencegahan yang bisa dilakukan, tidak ada yang bisa dilakukan selain berlari ke medan peperangan.
Tetapi apakah aku melakukan hal yang benar? Kupikir aku melakukannya demi kebaikan negeri, tapi mungkin Devan benar. Mungkin semua ini hanya untukku, untuk membuktikan pada diriku bahwa aku bukan seseorang yang tidak berarti. Apakah rasa tanggung jawab yang mendorongku melakukannya, atau kesombongan diri?
Sang peramal melihat jalanku bercabang dalam berbagai pilihan dan kesempatan. Apa aku mengambil jalan yang benar? Seandainya Bella mati, semua itu, seluruhnya akan sia-sia. Tetapi apakah semua itu sepadan dengan kematianku? Seandainya aku mati kehabisan darah, setelah mengetahui bahwa aku sudah berhasil menempatkan Bella di atas tahta, apa aku akan merasa kematianku merupakan sebuah harga yang pantas dibayar?
Dewa Tanpa Nama, doaku, aku tahu kau tidak peduli siapa yang duduk di atas tahta. Tapi peramalmu yang membantuku melalui jalan ini. Jadi kau pasti mengawasi kami, meskipun hanya dari sudut matamu. Kumohon, genggam kami dalam tanganmu hari ini.
Aku nyaris tidak mendengar suara langkah kaki saat tiba-tiba Bella duduk di sampingku, dan itu membuatku terkejut sampai terlonjak. “ Maaf,” ujar Bella. “ Kau tahu kan, karena tinggal di hutan. Nenekku selalu bilang aku harus berpura-pura menjadi seekor rusa agar tak ada seorang pun yang mendengar kedatanganku.”
__ADS_1
Suaranya terdengar santai, tapi saat berbalik menatapnya, aku menyadari wajah Bella terlihat tegang di sekitar mata dan kulitnya lebih pucat dari biasanya. “ Apa Devan masih tidur?” tanyaku.
“ Mendengkur seperti beruang. Kurasa aku bisa menari di atas kepalanya dan dia takkan terbangun karenanya.”
Selama beberapa saat kami duduk tanpa bersuara, lalu Bella berkata, “ Jadi ramalanmu itu. Menurutnya salah seorang dari kita akan mati hari ini.”
“ Dari sudut pandangku, itu kurang baik.”
“ Memang,” aku menyetujuinya. “ Kurang. Tapi setidaknya ramalannya tidak bilang kita kalah.”
__ADS_1
“ Kemenangan tak ada gunanya kalau kau mati, Amelia.”
Tidak lama lagi semua bintang akan menghilang. “ Kali ini mungkin saja ada,” aku berkata pelan.
Bella tidak menjawab. Alih-alih kami duduk di dalam keheningan, dagu kami bertumou di tangan dan lutut tertarik hingga menempel ke daad, menunggu fajar tiba.
Beberapa jam kemudian, aku menunggang kuda menuju kota, punggungku setegak pedang dan perutku terpilin seerat jaring ikan yang sudah usang. Jalan menuju distrik Guildhall dipadati orang-orang yang berusaha masuk kota. Hanya beberapa yang diizinkan untuk masuk ke acara penobatan sesungguhnya, tapi semua orang ingin bisa berkata bahwa mereka berada di Vivaskari saat sang putri menjadi Ratu. Jadi, aku harus berusaha keras mengendalikan kudaku saat orang-orang—menunggangi kuda atau tidak—berdesakan di sekelilingnya. Aku berusaha mengawasi Devan, yang sudah mendahuluiku, tapi aku terus kehilangan jejaknya di tengah kerumunan. Bella berada di suatu tempat di belakangku ; kami merasa cara terbaik adalah masuk satu per satu, untuk berjaga-jaga seandainya para penjaga mencari sebuah kelompok yang terdiri atas dua orang gadis dan seorang pemuda.
Bersambung
__ADS_1