
Sambil berteriak, Devan melompat maju dengan pedang terhunus. Biarawan itu terlonjak mundur, sambil mengangkat tongkat untuk menghalau serangan. Namun Devan tidak berusaha menyerang biarawan itu. Alih-alih, Devan melakukan gerakan tipuan ke samping dan menyodok biarawan itu dengan tangan kosongnya. Tongkat sang biarawan membelah udara saat pria itu tersungkur ke samping, tapi tidak mengenai Devan. Biarawan itu menabrak dinding, dan Devan membuntutinya, menepis tongkat dengan pedangnya. Tongkatnya terjatuh ke lantai dengan suara berkelontang dan mendarat di dekat kakiku, dan aku menendangnya ke dalam kegelapan.
Biarawan itu merunduk di dinding tapi tidak bergerak, matanya tertuju pada pedang Devan. “ Maafkan aku,” ujar Devan, dan menghantam kepala pria itu dengan gagang pedangnya. Bola mata biarawan itu mendelik, dan dia tersungkur dalam keadaan pingsan.
“ Apa kau baik-baik saja?” Devan bertanya setelah memasukkan pedang ke dalam sarungnya.
__ADS_1
“ Ya,” jawabku dengan suara serak, kerongkonganku kering. Benakku berpacu. Kami menyerang seorang biarawan sang Dewa Tanpa Nama…. Sang peramal memberikan ramalan palsu pada raja dan ratu…. Seandainya seorang biarawan mendengar sesuatu yang aneh, cukup untuk membuatnya mendatangi pemakaman untuk memeriksanya, mungkin banyak biarawan lain yang mendengarnya juga …. Sang peramal bersekongkol dengan Omar dan Melani , tapi tidak tahu yang mana…. Kami harus pergi , sebelum biarawan itu terbangun.
“ Amelia.” Devan sudah mencengkeram sebelah tanganku. “ Bisakah kau melakukan sesuatu, sebuah mantra, untuk membuatnya lupa bahwa kitalah yang ditemukannya di sini?”
Aku tersadar tubuhku gemetar, bergetar bagaikan sebuah ranting kecil di tengah angin kencang. Namun, aku menghela napas dalam dan berusaha memusatkan perhatian pada Devan . “ Mungkin,” akhirnya aku berkata. “ Paula, dia sedang berusaha mengajariku sebuah mantra untuk membuat bingung. Tapi aku tidak pernah berhasil melakukannya—aku terus-terusan membuatnya melupakan semua yang sedang kami lakukan, bukan hanya kebingungan.”
__ADS_1
Setelah mengangguk dan menyerahkan kertas dan wadahnya pada Devan, aku berjongkok di hadapan biarawan itu dan meletakkan kedua tanganku di kedua sisi kepalanya. Aku bisa merasakan sihir di dalam diriku seperti yang tadi kurasakan saat berada di luar; sihir itu ingin keluar dari diriku, berlari kencang melalui aku. Tetapi aku tidak bisa mengeluarkannya begitu saja seperti yang kulakukan di luar, atau aku bisa menyakiti biarawan itu hingga tak terselamatkan. Jadi aku berkonsentrasi, memusatkan pikiran hanya untuk mengeluarkan sedikit sihir dari dalam diriku.
Kau tak tahu kenapa kau mendatangi tempat ini, batinku pada biarawan itu. Kau melihat sekeliling dan menemukan kain kafannya sudah terbuka, tapi selain itu tidak ada yang salah. Kau lelah, jadi duduk sebentar dan tertidur.
Aku tidak tahu apakah mantranya berhasil atau tidak, tapi akhirnya aku menurunkan kedua tanganku saat tekanan sakit kepala yang terus memuncak membuat pandanganku dibayangi titik-titik berwarna hitam. Apa pun yang di katakan biarawan ini, kuil tidak akan memercayainya; pada akhirnya seseorang akan menyadari bahwa kuncinya di buka paksa. Biarawan ini pun mungkin sudah menyadarinya saat keluar dari sini. Namun, mungkin itu bisa memberi kami waktu untuk pergi, dan mudah-mudahan nama palsu kami akan membingungkan siapa pun yang mencari pelakunya.
__ADS_1
Aku mengambil pengakuan sang peramal dari tangan Devan dan menggulungnya lagi ke dalam wadah logam. Kemudian, sambil menyelipkannya ke dalam saku gaunku, aku berkata, “ Ayo pergi dari sini ,”
Bersambung