PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 15


__ADS_3

Ada dua kursi diletakkan di sekitar meja kecil, & kami duduk di atasnya. Saat aku mulai makan, Bibi Vania menatapku seperti seseorang yang sedang mengamati seekor hewan aneh yang baru saja dikeluarkan dari kandang.


“ Kita harus mencari tahu apa ada yang punya tempat tidur kosong,” ujarnya.


“ Alvi Mayona sepertinya punya. Putrinya baru saja


pindah ke kota bersama suami barunya.”


Dengan kaget aku melirik ke pintu satunya, yang semula kuduga kamar Bibi Vania. Namun, kemudian mataku melihat selimut terlipat di atas sebuah kursi di samping perapian. Aku merasakan hawa panas menguar dari wajahku, & aku sadar wajahku pasti merona lagi. Semalam aku tidur di kamar Bibi Vania, aku baru menyadari dengan malu, & ternyata bibiku tidur di lantai.


“ Kamar itu terlalu sempit untuk dua tempat tidur, & kurasa kita berdua tidak akan cukup dalam satu tempat tidur,” lanjutnya .


“ Tapi, tentu saja, mungkin kita bisa mencari tempat tidur yang lebih besar. Serta beberapa pakaian, & sepatu bot. Kau takkan bisa melakukan banyak hal dengan pakaian itu.”


Sekarang tatapanku tertuju ke pangkuan & kain biru gaunku. Beberapa saat yang lalu aku menganggapnya sederhana, tapi sekarang, saat dibandingkan dengan gaun yang dipakai bibiku, aku baru menyadari gaun ini ternyata terlihat berlebihan.

__ADS_1


Bibi Vania masih mengamatiku lekat-lekat. & itu membawa kita pada pertanyaan berikutnya.


“ Apa yang bisa kau lakukan?”


Aku menguyah potongan keju di mulutku, berusaha untuk berpikir mengenai apa yang bisa kulakukan.


“ Aku bisa bicara empat bahasa,” aku berkata pelan.


“ Aku bisa membordir & aku bisa melukis. Aku hafal sejarah & tradisi Thorvaldian, matematika, & teori perang. Para tutorku bilang tulisan tanganku….”


“ Aku bersedia belajar.”


Akhirnya aku berkata.


“ Aku tidak …. aku tidak tahu apa-apa soal mencelup atau memasak, tapi aku bisa belajar.”

__ADS_1


“ Kau harus belajar,” Bibi Vania berkata serius.


“ Musim panas sebentar lagi datang, & itu saat tersibuk untukku, mengingat banyaknya tanaman yang tumbuh. Aku harus memanen cukup banyak bahan untuk menyibukkanku selama musim dingin. Kau terlalu tua untuk jadi anak didik, tapi tak ada yang bisa dilakukan soal itu. Kau harus membantuku bekerja. Aku tidak bisa memberi makan seseorang yang tidak bekerja.”


“ Aku akan berusaha sebaik mungkin,” aku berkata sedikit kaku.


“ Bagus,” ujar bibiku. “ Kalau begitu ayo kita kerumah Alvi & mencari tahu apakah putrinya meninggalkan pakaian.”


Desa ini memang kecil & sederhana seperti yang terlihat dari jendela kereta kemarin malam. Sebuah jalan tanah memotong pusat kota, lalu berkelok menuju jalan besar di kejahuan yang mengarah kembali ke Vivaskari.


Treb terdiri atas kira-kira dua puluh rumah, sebuah penginapan berkamar dua yang disewakan pada para pengelana yang mampir ke desa ini, sebuah kuil kecil untuk sang Dewa tanpa Nama, & sebuah toko kecil yang menjual beberapa barang yang tidak dibuat oleh penghuni desa atau dibawa oleh penjual keliling.


Sebuah apartemen, berukuran lebih besar dari sebagian besar rumah, terletak di atas toko, & aku beranggapan pemiliknya tinggal di sana.


Beberapa lahan pertanian terlihat di kejahuan, di dekat hutan, tapi semua rumah penduduk di desa memiliki kebun kecil, atau kandang kambing & ayam .

__ADS_1


Udahan dulu yah, jangan lupa di like, vote, & komennya author tunggu.. 🙏🌹


__ADS_2