PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 119


__ADS_3

“ Atau mereka bisa saja menusuk kita,” desis Bella.


Aku menggelengkan kepala. “ Kalau kau mati, mantra pada diri Riana bisa hilang. Dia membutuhkanmu hidup-hidup.”


“ Bagaimana denganmu?”


Di dalam benakku, sang peramal berkata. Aku melihat sebuah segitiga berada dalam badai. Salah satu sisinya runtuh dan jatuh, menyisakan dua sisi lainnya.

__ADS_1


“ Mereka pasti menangkap kita kalau tetap berada di sini,” desakku. “ Dalam hitungan ketiga, kita lari, satu, dua, tiga!”


Kami menerobos pintu bersama-sama dan bertemu dengan sekelompok pria bersenjata.


Kami berhasil mengejutkan mereka, dan mencari kesempatan untuk kabur, di luar pintu ada dua belas orang pria membentuk setengah lingkaran—setengah dari mereka menunggang kuda dan serengah lainnya berdiri, dua orang di antara mereka menggenggam obor, dua ekor kuda meringkik, membuat pria yang tidak berkuda menyingkir dan membuat celah pada benteng mereka.


“ Lari,” aku berteriak pada Bella yang masih mencengkeram penyodok api di tangannya. Dia berlari menuju ruang antara kuda-kuda dan terpaksa mengayunkan tongkatnya pada pria pertama yang mendekatinya. Mungkin mereka hanya diperintahkan untuk membawanya tapi tidak melukainya, karena bukannya menarik pedangnya, pria itu hanya merunduk menghindarinya, gerakan itu nyaris membuat kakinya terpeleset di tengah gelap dan memaksanya bertumpu di atas satu lutut.

__ADS_1


Aku berputar, siap menyusul Bella, dan melihatnya dicengkeram oeh salah seorang pria, penyodok apinya jatuh ke tanah. Pria itu mengangkat tubuh Bella meskipun dia sudah memuntir dan melawan bagaikan seekor kucing liar; Bella membuat wajah pria itu berdarah akibat kukunya, dan aku melihat giginya tertancap pada tangan pria itu. Meskipun begitu, pria itu tetap tak bergeming, tapi tiba-tiba berteriak saat kilasan cahaya perak yang berputar di udara menghampirinya dari arah hutan. Beberapa detik kemudian pria itu menjatuhkan Bella ke tanah, sebuah belati tertancap pada pundak kirinya. Bella berguling saat terjatuh, lalu berdiri dan berlari ke hutan menuju arah datangnya belati. Dari kegelapan, aku mendengar sebuah suara berteriak, “ Sebelah sini!”


Mungkin aku juga akan berhasil, tapi suara itu membuatku tersungkur kaget. Devan? Batinku dengan linglung saat sesuatu mendorongku dan membuatku tersungkur ke atas tanah. Kemudian mantra kedua mengenaiku, versi sesungguhnya dari mantra yang berusaha kugunakan pada para prajurit. Ototku terkunci di tempat hingga aku bahkan tidak bisa memalingkan kepala.


“ Pergilah,” ujarku dengan suara serak, tidak yakin apakah Bella mendengarku atau tidak, tepat sebelum mulutku terkunci rapat.


“ Cari mereka,” bentak suara lain yang sudah terdengar akrab, suara yang terlalu sering kudengar dalam mimpi burukku selama beberapa hari terakhir. “ Dia mengenal hutan, jadi cepatlah, sebelum mereka pergi terlalu jauh.” Sesaat kemudian, kaki kuda bergerak menghampiri sudut mataku. Aku tidak bisa mendongak, tapi aku tidak perlu melakukannya; bahkan saat kepalaku tertunduk dan mataku dibayangi kegelapan, aku tahu siapa yang duduk di atas kuda itu.

__ADS_1


“ Halo, Amelia,” ujar Melani Enderson.


Bersambung


__ADS_2