
“ Mereka bahkan tidak mengizinkan jenazahnya di disemayamkan untuk umum. Alasannya untuk mencegah penyebaran penyakit. Dan acara penobatan akan dilaksanakan besok, sama seperti yang dikatakan Melani. Mereka bahkan tidak menunggu delegasi dari Wenth dan Farvasee. Mereka terpaksa menyampaikan belasungkawa saat tiba beberaoa minggu lagi. Dan penobatannya pun tidak akan dilakukan secara terbuka untuk semua orang—setiap orang yang memasuki gerbang istana akan diperiksa oleh seorang penjaga istana dan penyihir dari kampus. Untuk menjaga keselamatan sang putri.”
Devan duduk di tanah, kakinya terjulur ke depan saat dia menarik lepas sepatu botnya. “ Dan hanya itu yang kita ketahui. Tapi ada hal lain. Gerbang kota juga diawasi, untuk memastikan tidak ada ‘ elemen berbahaya’ yang memasuki kota. Kurasa,” ujar Devan sambil menyapu rambut dengan tangan.
“ Kurasa anak buah Melani tiba di sini sebelum kita dan memberitahunya kau sudah kabur. Kalau seorang kurir menggunakan dua ekor kuda dan memacu mereka habis-habisan, dia pasti bisa mendahului kita. Jadi, mungkin Melani akan mencari kita di gerbang kota.” Devan terdiam, sambil menatapku. Dia kelihatan sama lelahnya seperti yang tiba-tiba kurasakan, sama tercabiknya seperti layar robek di tengah angin.
Cukup lama, tak ada seorang pun dari kami yang bicara. Benakku berpacu lagi, tapi tanpa hsil. Namun, akhirnya, Bella berkata, “ Tapi kau seorang penyihir. Kau bisa menyamarkan kita, atau mengubah kita agar tidak terlihat. Sesuatu yang bisa memasukkan kita ke kota dan istana.”
__ADS_1
“ Aku penyihir yang tak terduga,” jawabku sambil mendesah. “ Aku tak tahu apakah Devan sudah memberitahumu atau belum, tapi aku belum benar-benar bisa mengendalikan sihirku. Sihirku terlalu banyak, dan terlalu lama teekubur di bawah mantra. Seringnya, saat aku berusaha menggunakannya, sihirnya akan bergulung keluar dan aku meledakkan sesuatu.”
Aku bergeser, berusaha duduk nyaman di atas tanah tapi tidak berhasil. “ Mungkin aku bisa menggunakan sebuah mantra agar kita bisa masuk ke gerbang kota,” akhirnya aku mengakui. “ Tapi sihir takkan berhasil digunakan di gerbang istana. Penyihir pasti mengawasi sihir, menunggu untuk mengendus sihir sekecil apa pun. Mereka akan menyadari kalau aku berusaha memasukkan kita dengan samaran sihir, dan para penjaga pasti akan menangkap kita kalau tidak menggunakan samaran sihir.”
“ Yah, kau kan menghabiskan seumur hidupmu di istana itu. Apa maksudmu kau tidak pernah menemukan jalan atau terowongan rahasia? Sesuatu yang tidak diketahui orang lain.”
Aku menggelengkan kepala. “ Tak ada apa pun—“
__ADS_1
“ Demi Dewa Tanpa Nama, kita bodoh sekali,” bisik Devan. “ Pintu Raja Ardan.”
“ Pintunya bisa terbuka dari kedua sisi,” aku cepat-cepat berkata. “ Dan sekarang kita bersama Bella. Pintunya akan muncul kalau ada dia. “ Darah kerajaan.” Tapi kita butuh petanya—tanpa peta, aku tidak yakin bisa menemukan lokasi pasti pintunya dari sisi lain benteng istana.”
Kami saling menyeringai, sangat lebar hingga kami pasti terlihat seperti orang gila.
“ Maaf menyela,” Bella berkata pelan dari kegelapan, “ tapi pintu apa yang kalian bicarakan?”
__ADS_1
Aku terbangun sebelum fajar, saat bintang-bintang masih bertaburan di langit dan orang lain masih terlelap. Saat itu masih terlalu pagi untuk mencoba mantra penyamaran dan memasuki gerbang kota. Aku memejamkan mata rapat-rapat, dan berusaha memaksakan diri untuk tidur lagi tapi tak berhasil. Jadi akhirnya aku berdiri dan, sambil mengendap-endap pelan agar tidak membangungkan Devan dan Bella yang sedang tidur di lumbung jerami, menyelinap keluar untuk melihat datangnya fajar.
Bersambung