PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 3. PART 3


__ADS_3

Pencarian pun dimulai. Raja Ardan, aku menjelaskan pada Devan, memerintah selama masa bergejolak dalam sejarah Thorvafor, sebuah era saat berbagai rencana jahat untuk menggulingkan pemerintahannya, oleh karena itu, beliau memerintahkan penyihir terbaiknya untuk menciptakan sebuah pintu sihir rahasia pada dinding luar istana agar dia bisa melarikan diri saat di serang. Namun, menurut tulisan misterius karya sang penyihir, keadaan sudah damai saat pintunya selesai dibangun & tidak pernah digunakan. Meskipun begitu, Raja Ardan tetap seorang pria yang penuh rasa curiga, & dia hanya menceritakan pintu imi pada beberapa orang saja. Setelah kematiannya, lokasi pintu rahasia terlupakan.


Nah, peta itu, yang selama berabad-abad juga terlupakan di dalam tumpukan bacaan yang tidak diinginkan, membuatku sakit kepala. Aku memejamkan mata untuk menghalau teriknya matahari.


“ Ini rahasia yang benar-benar hebat,” gumanku.


“ Tak heran Raja Ardan tidak keberatan salah seorang penyihirnya membuat peta, itu pun jika mengetahuinya. Tak ada yang bisa membacanya, jadi apa salahnya?”


“ Mungkin itu sebuah kode. Atau sebuah bahasa sihir,”

__ADS_1


Devan memberi sebuah masukan sambil mencabut sehelai daun muda yang menghijau & memutirnya diantara jemari. Dengan cuek dia bersandar pada batang pogon berukuran raksasa yang menaungi kami, rambut pirang gelapnya tergerai ke wajahnya, gambaran sempurna seorang bangsawan santai.


“ Mungkin,” kuakui.


Devan menggembungkan pipi sambil mengembuskan napas, “ Kau yakin kita ada di tempat yang benar? Karena di sisi lain dinding ini hanya ada jalan kota. Apa untungnya membuat sebuah rute pelarian sihir kalau kau tetap berada di dalam kota setelah melewatinya?”


” Yah, kota ini berukuran lebih kecil saat Ardan bertahta sebagai raja. Dulu ada hutan terbuka di sisi lain dinding ini. Tapi ada usaha pelebaran besar-besaran selama kepemimpinannya”


Saat melirik ke balik pundak aku melihat Ronald kepala rumah tangga kerajaan, melintasi taman untuk menghampiri kami. Ronald seorang pria tua, rambut kelabunya dipangkas hingga menyapu pundak dengan gaya kuno. Dia sudah menjadi kepala rumah tangga kerajaan sejak era nenekku, lalu ayahku. Pria itu selalu bersikap baik padaku, & salah satu kenangan pertamaku bersamanya adalah saat dia menyelundupkan permen sambil mengedipkan sebelah mata padaku dalam sebuah seremoni yang sangat membosankan.

__ADS_1


“ Selamat pagi, yang mulia,” Ronald berkata resmi saat tiba di depan kami.


Aku tersenyum padanya. Senyuman kecil, bibirku tetap rapat, bukan karena aku tidak menyukai Ronald, tapi karena hanya sedikit orang selain Devan yang sanggup membuatku tersenyum lebar sampai memperlihatkan gigi. “ Selamat pagi, paman Ronald.” Sambil bicara, dengan santai aku menyelipkan peta sampai tersembunyi di belakang tubuhku agar Ronald tidak melihat isinya. Lagi pula, ini rahasia kami, rahasiaku dengan Devan.


“ Orangtuamu menunggu kehadiranmu di Aula Thorvaldor,” lanjut Ronald.


“ Mereka memintamu datang secepatnya.”


Keningku berkerut, tatapanku beralih ke pangkuan. Matahari terasa hangat di pundakku, aku mengingatnya di kemudian hari, & bangku batu terasa keras di bawah tubuhku.

__ADS_1


Seekor serangga belang-belang merangkak di atas rumput, berhenti karena kebingungan saat mendapati jalannya terhalangi oleh kaki kiriku.


Aneh sekali, batinku, orangtuaku ingin menemuiku di Aula Thorvaldor sebelum tengah hari, & aneh sekali mereka mengutus Ronald untuk mencariku. Biasanya orangtuaku sangat sibuk hingga kadang-kadang aku tidak bertemu mereka selama berhari-hari.


__ADS_2