PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 124


__ADS_3

“ Raja sudah mati,” ujar Melani dengan suara setajam belati. “ Dia meninggal satu hari setelah aku ke luar kota.”


Seandainya berdiri aku pasti terhuyung. Sambil duduk, aku mencengkeram perut. “ Tidak.” Aku menggelengkan kepala. “ Kau bohong.”


“ Aku tidak bohong,” Melani berkata santai. “ Penobatan akan dilakukan empat hari lagi. Aku berhasil meyakinkan ratu sebelum pergi. Bagaimanapun, putrinya mungkin saja selamat dari ramalan yang diberikan pada hari kelahirannya, tapi siapa tahu siapa pun yang dulu gagal melakukannya akan berusaha melakukannya lagi sekarang, saat dia rapuh dan belum dinobatkan. Tidak ada yang bisa menemuinya, tidak sampai dia dinobatkan—tidak kau, tidak Devan, tidak ada seorang pun selain ibunya dan para konselor yang paling dipercaya.”


Melani tersenyum lagi. “ Setelah itu, dia bisa memerintah seluruh pasukan, dan semua bangsawan akan bersumpah setia padanya. Dia akan diberkahi dan direstui oelh seorang pendeta sang Dewa Tanpa Nama. Dia akan menjadi ratu—perwujudan dari Thorvaldor.”

__ADS_1


Melani memiringkan kepala, matanya berbinar menatapku. “ Tahukah kau betapa sulitnya menggulingkan seorang monarki berkuasa dibandingkan seorang putri biasa—Luisamu yang berharga membuktikannya seratus tahun yang lalu. Setelah Riana menjadi ratu, ucapanmu takkan berarti apa-apa, bahkan meskipun kau bisa menemukan seseorang yang mau mendengarnya. Kemudian, aku bisa menemukan Bellamu dengan santai, dan mengirimnya ke suatu tempat yang tidak akan pernah ditemukan lagi oleh siapa pun.”


“ Aku berhasil menemukannya,” ujarku, “ bahkan dengan seluruh perencanaan yang kaubuat.”


Melani mengangguk muram. “ Benar. Aku penasaran bagaimana itu bisa terjadi.”


“ Mantramu sendiri.” Namun tantangan itu terasa hampa. Aku merasa hampa. Melani sudah menyusun rencananya dengan sangat baik. Devan tidak akan bisa membawa Bella menemui ratu, dan kisah apa pun yang disampaikannya bisa dianggap sebagai sebuah rencana busuk. Cerdas, itu yang akan dikatakan Paula, sangat cerdas. “ Saat berada di dekatnya, aku seakan ditarik padanya. Sama halnya dengan Riana. Kau tidak mengeluarkan semua jiwanya dari dalam tubuhku saat melepas mantra.”

__ADS_1


“ Tapi kau agak lambat menghentikanku,” ujarku. “ Aku ada di sini, ya kan? Aku menemukannya.”


Tatapan mata Melani terliihat semakin dingin. “ Aku harus memastikan penyakit raja sudah memburuk sebelum mengejarmu. Namun, cukup membantu juga, agar aku tidak perlu berada di kota saat dia meninggal. Dengan begitu keterkaitanku lebih kecil. Aku harus berterima kasih padamu untuk semua itu.”


“ Kami akan menghentikanmu.” aku berkata gusar. “ Entah bagaimana caranya.”


Melani Sudah menghadap pintu, tapi dia berbalik lagi saat mendengar ucapanku. Suaranya kehilangan sentuhan beledu, sekarang terdengar setegang tali busur. “ Kau sudah kalah. Apa kau tak mengerti, Amelia? Kau bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Tiruan, ditakdirkan untuk diganti oleh yang asli.”

__ADS_1


Melani mengembuskan napas tajam, lalu sengaja merapikan gaunnya, menepis debu khayalan dari permukaannya. “ Aku takkan bertemu denganmu lagi,” ujarnya dengan lebih tenang. “ Aku pulang ke kota hari ini.” Melani tertawa, dan suaranya terdengar seperti lonceng. “ Kau tahu kan, ada upacara penobatan.”


Bersambung


__ADS_2