
Aku cepat-cepat mendekat, dan melihat Paula terbaring di sisi lain meja yang terguling.
Paula terlihat pucat, sangat pucat hingga butiran darah yang menetes dari hidung dan mulutnya terlihat mencolok bagaikan sarang laba-laba. Paula berbaring menyamping, satu lengannya tertekuk di bawah tubuhnya, seakan-akan ada seseorang yang mendorongnya lalu meninggalkannya. Aku bisa melihat lebam gelap yang ditinggalkan tangan-tangan itu di sekitar lehernya.
“ Tidak,” bisikku saat berlutut di sampingnya. Aku mengulurkan tangan untuk mencengkeram pundak Paula, melepas lengannya dari belakang punggungnya. Aku tidak sanggup memeriksa napasnya, seperti yang tadi kulakukan pada Gema.
“ Seharusnya aku memberitahumu.” Aku berdiri di ruangan ini sebelum berangkat dan nyaris, nyaris memberitahu Paula ke mana aku akan pergi. Tetapi aku dibutakan oleh keyakinanku sendiri bahwa aku belum cukup bukti. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku membahayakan Paula jika memberitahunya. Namun itu bukan alasan yang sesungguhnya. Seperti yang dikatakan Devan, diam-diam aku ingin, di dalam lubuk hatiku tersalam, menemukan Bella sendirian. Jadi aku pergi tanpa mengatakan apa-apa. Bukannya melindungi Paula, aku malah meninggalkannya dalam keadaan rentan dari hal yang kukhawatirkan itu. Paula tidak mendapat peringatan, tidak tahu ada seseorang yang mungkin datang menyakitinya.
Air mata menggenangi mataku, dan pundakku mulai gemetar. “ Semua ini salahku,” gumamku. “ Seharusnya aku memberitahumu.”
Aku mengulurkan tangan untuk menyingkirkan rambut dari kening Paula, dan saat aku menyentuh wajahnya, Paula terbatuk.
__ADS_1
“ Paula,” desahku. Kemudian, berkata ka balik pundak, “ Devan, Bella! Di sini! Aku berpaling pada Paula lagi, dan menggenggam tangannya. “ Paula, apa kau bisa mendengarku?”
Kelopak mata Paula bergetar, lalu membuka membentuk celah kecil. “ Amelia?” ujarnya dengan serak.
“ Ini aku,” aku membenarkan pertanyaannya. “ Apa kau—“ rasanya aneh kalau aku bertanya apakah dia baik-baik saja. “ Apa yang terjadi?”
“ Pria,” Paula berkata lemah. “ Dua orang. Mereka menggunakan… benteng sihir. Mantraku memantul begitu saja.” Paula memejamkan mata saat gelombang sakit seakan mencengkeramnya. “ Gema?” ujar Paula dengan gigi terkatup. “ Aku mendengarnya….di koridor.”
“ Masih hidup,” ujarku. “ Terluka—tidak separah dirimu—tapi masih hidup. Mana yang lain?”
“ Aku tahu,” jawabku. “ Maafkan aku. Seharusnya aku…” Aku mendengar Devan dan Bella di belakangku. “ Kita membutuhkan seorang tabib,” aku memberitahu mereka.
__ADS_1
“ Aku akan mencari seseorang untuk dipanggil ke sini,” Devan berkata sebelum cepat-cepat keluar dari ruangan.
“ Aku tak punya banyak waktu,” aku memberitahu Paula. “ Aku tak bisa menjelaskannya sekarang, tapi kami harus pergi ke istana sebelum penobatan.”
Mata Paula, yang terlihat buram akibat syok dan kesakitan, sejak tadi bergantian menatapku dan Bella. “ Mantra. Aku merasakannya… antara kalian berdua. Kuat. Sesuatu yang menghubungkan….”
Aku mengangguk. “ Dia sang putri, Paula. Putri yang asli. Dan sebentar lagi mereka akan menobatkan gadis yang salah. Kami harus menghentikan mereka, tapi kami harus ke sini dulu, lalu… “ Aku kebingungan lagi,
masih tidak yakin apa yang akan kami lakukan setelah berada di sana.
Paula menyandarkan kepala di lantai. “ Tepat seperti dugaanku,” gumamnya. “ Inti sarinya, masih ada di dalam dirimu. Hampir bisa melihatnya. Itu… hubungan.”
__ADS_1
“ Kau benar,” ujarku. Pintu berderit saat Devan masuk.
Bersambung