
Beberapa hari berikutnya berlalu dalam kilasan buram. Bibi Vania terus memarahiku karena sering melamun, & aku hampir tertabrak sebuah kereta berisi kandang ayam yang sedang melintasi jalan utama kota.
Tetapi aku tidak melamunkan Jose, bukan melamun seperti yang dilakukan para gadis mengenai pemuda yang disukainya. Bukan, aku mengkhawatirkan Jose, & mengkhawatirkan aku. Apa arti semua ini, menjalin hubungan seperti ini dengannya? Apa aku menginginkannya? Apakah orang-orang akan membicarakannya? Bagaimana kalau itu akan merusak pertemanan kami?
Mengapa, mengapa aku teringat Devan saat Jose menciumku?
Pikiran-pikiran semacan ini terus berputar di dalam kepalaku, membuatku sangat ceroboh hingga kakiku dipenuhi lebam. Saat aku memecahkan tiga buah piring dalam dua hari, bibiku membentakku lalu melarangku membantu menyiapkan makan malam sampai aku bisa melakukannya tanpa celaka. Semua itu tidak membantu memperbaiki suasana hatiku, yang semakin hari semakin kelam & penuh kecemasan.
Pada hari ketiga setelah ciuman kami, aku sedang berada di halaman belakang rumah, setengah mati berusaha menyelamatkan satu tong celup ungu. Bibi Vania pergi ke hutan mencari kulit pohon dedalu & memercayakan proses mencelup padaku.
“ Sekarang kau cukup sering membantuku,” bibiku berkata sambil berjalan pergi, dengan keranjang di pinggul.
__ADS_1
“ Sudah saatnya kau belajar melakukannya sendiri.”
Semuanya berjalan lancar sampai, karena alasan yang tidak bisa kujelaskan, airnya berubah dari ungu pucat menjadi coklat tua buram. Aku panik, mati-matian berusaha mengingat cara mengatasi masalah ini, sekaligus bertanya-tanya bisakah aku berlari cukup cepat untuk menemukan Bibi Vania sebelum celupannya tidak terselamatkan. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengeluarkan tanaman dari dalam air lebih awal &, dalam keadaan bingung, bukannya mengambil penyaring, aku malah langsung mencelupkan tangan ke dalam cairan celup. Aku sedang mengambilli potongan dedaunan yang mengambang & menjatuhkannya ke atas tanah saat mendengar seseorang mengetuk pintu rumah keras-keras & berseru
“ Halo? Ada orang di rumah?
Aku terdiam dengan lengan terbenam di dalam tong hingga sebatas siku. Aku sangat mengenal suara itu.
Aku cepat-cepat berdiri, mencipratkan air kecokelatan ke udara & ke atas tubuhku, & tepat pada saat itu aku melihat Devan muncul dari samping pondok.
Devan mengenakan sebuah tunik biru tipis & celana berkuda berwarna gelap. Rambut pirang tuanya tersapu ke belakang & kusut karena angin. Devan terlihat ragu saat menatap ke sekeliling pondok, tapi saat melihatku wajahnya berbinar sangat terang hingga kurasa bisa terbakar. Kemudian dia bergegas maju, kaki panjangnya membawa Devan melintasi jarak yang terbentang di antara kami dalam beberapa langkah saja.
__ADS_1
Dia merangkulku dalam pelukan yang sama lebarnya dengan seringainya & memutar tubuhku, tanpa memedulikan cairan celup pada lenganku maupun air yang menetes di bagian depan gaunku. Devan tertawa di samping telingaku, & aku merasa senyuman membara di atas wajahku.
Rasanya bernapas lagi setelah hampir tenggelam, seperti diberi air setelah merangkak melintasi gurun pasir. Semua kekhawatiran yang menderaku menghilang begitu saja, hingga aku merasa tungkaiku lemas & benar-benar hidup lagi untuk pertama kalinya sejak aku naik kereta di samping istal & meninggalkan istana. Devan adalah sahabatku, & dia datang untuk mencariku.
Akhirnya, Devan menurunkan aku & menyentuh pundakku, mendorongnya agar bisa melihatku.
“ Demi Dewa Tanpa Nama, aku merindukanmu,
Diana,” desahnya.
Dan Jantungku, yang semula melesat hingga ke udara, yang semula terasa ringan & menari-nari bagaikan sehelai daun di atas angin, tiba-tiba meluncur ke dalam perut.
__ADS_1
Bersambung