
Entahlah, aku tidak akan pernah mengetahuinya. Mungkin semuanya terjadi seperti yang seharusnya, atau mungkin juga tidak. Apa pun yang mungkin terjadi, aku terus mengatakannya ada diriku, akulah yang membantu memulai semua peristiwa ini, dan aku menerima semua konsekuensi atas tindakanku.
Namun apakah semua itu sepadan? Aku tidak yakin. Aku sedang duduk di taman saat dia datang, jemariku bermain-main di air mancur kecil. Hari itu cerah, dan aku hampir memutuskan untuk untuk masuk ke rumah saat gerbang belakang terbuka, dan Bella masuk.
“ Sudah kubilang aku akan mengunjungimu,” ujar Bella saat melihat ekspresi kagetku. “ Kaupikir aku akan lupa?”
Bella duduk di sampingku di tepian air mancur. Dia mengenakan gaun panjang berwarna hijau tua, dan kelihatannya pagi itu rambutnya dijepit rapi di sekeliling kepalanya. Namun Bella terus menarik-narik garis leher gaunnya, menjauhkannya dari kulitnya, dan ada beberapa helai rambut yang terleps di sekitar wajahnya. Beberapa kali tatapan matanya bergerak kesana kemari saat mengamati sekeliling taman, tetap seperti seekor rubah.
“ Mereka terus memanggilku Diana,” akhirnya Bella berkata. “ Aku tak bisa membiasakan diri dengan nama itu.”
__ADS_1
“ Aku mengerti,” ujarku.
Bella mengedikkan bahu. “ Setidaknya Devan tidak. Dan banyak sekali yang harus kupelajari, dan dua kali lebih cepat, itu yang sering dikatakan nenekku dulu. Berbagai tempat, orang, fakta, dan…. semuanya. Aku tidur dengan kepala dibanjiri semua itu.”
“ Aku yakin kau bisa mempelajari semua itu,” ujarku, tapi Bella mengangkat tangan untuk menyela.
“ Apa yang akan kaulakukan, Amelia?”
“ Dalam hidupmu. Kau berencana melakukan apa?”
__ADS_1
Aku menelan ludah, melutku tiba-tiba kering. “ Aku.. aku tidak tahu pasti. Aku akan terus belajar dari Paula. Aku ingin mengunjungi bibiku di Treb, untuk mencari tahu apakah… apakah kami bisa lebih akur. Kurasa aku akan….” Aku terdiam, ragu. Aku menghabiskan banyak waktu untuk menempatkan Bella diatas tahta hingga tidak pernah memikirkan apa yang akan terjadi sesudahnya. Meskipun akhirnya aku punya waktu untuk memikirkan hidupku sendiri selama hari-hari panjang yang berlalu setelah penobatan yang gagal, benakku dipenuhi hal lain. Namun, sepertinya sekarang kenyataan mendesakku seiring pertanyaan Bella. Apa yang akan kulakukan, setelah tidak perlu menyelamatkan sebuah negeri? Setelah aku lebih mengenal diriku, tahu apa yang sanggup kulakukan. Kehidupanku, aku tersadar, sudah berhenti, bagaikan sebuah lukisan yang belum selesai. Seakan-akan aku melayang-layang di atasnya sambil menggenggam kuas, tidak yakin harus melanjutkan ke mana. Aku sudah mencapai tujuanku, menyelesaikan petualanganku, dan aku tidak tahu harus berbuat apa untuk diriku.
“ Sudah kuduga kau tak punya banyak rencana. Dan itu bagus, karena aku membutuhkanmu,” Bella berkata singkat.
Aku tidak menduganya. “ Apa?”
Bella berbalik hingga sepenuhnya menghadapku, garis ketegangan muncul di antara kedua alisnya. “ Kau tahu semuanya, Amelia. Semua hal yang harus kupelajari. Kau bisa menjadi…. Konselor utamaku. Kau bisa tinggal di istana, atau kau bisa tetap tinggal di sini, terus belajar dari Paula. Pasti menyenangkan memiliki seorang penyihir yang bisa kupercaya. Aku hanya… “ Sejenak ekspresi waspada dan tangguh yang selalu terpancar pada wajahnya menghilang. Bella terlihat muda, dan ketakutan.
“ Mereka terus memanggilku putri—mereka ingin segera menobatkanku menjadi ratu.” Bella menghela napas melalui hidung. “ Yah, sebagian besar dari mereka. Ada beberapa yang terus menggerutu soal caraku ‘ dibesarkan ‘ dan berbisik-bisik mempertanyakan apakah aku bisa membaca. Kurasa mereka tidak yakin apakah seseorang yang tumbuh di sebuah pondok di tengah hutan benar-benar pantas menjadi ratu.”
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komen ya guys.🙏🥰😘🌹
Bersambung