
Aku berusaha menyingkirkan semua pikiran itu, tapi mereka menyedotku bagaikan sebuah rawa. Aku harus kuat, ujarku dalam hati. Aku harus memikirkan sebuah jalan keluar.
Namun di dalam sel Melani, tak peduli sekeras apa aku berusaha, aku tidak bisa melihat satu pun jalan keluar.
Aku sedang tertidur saat mereka datang. Langkah kaki berat di atas lantai batu koridor dan suara derakan rantai membangunkanku.
Aku bangkit dari dipan dengan bibir dan kerongkongan terasa kering. Mungkin tebakanku bahwa Melani akan membiarkanku hidup sampai dia menemukan Bella sala.
Langkah kaki itu terhenti, dan aku mendengar sebuah suara yang berkeras, “ Baroness bilang dia tidak perlu dipindah.”
__ADS_1
“ Baroness juga bilang dia harus dibiarkan hidup. Kalau kebakaran itu sampai ke sini…”
“ Mereka pasti bisa memadamkannya sebelum itu,” bantah suara pertama.
“ Aku tak mau mengambil resiko itu. Kau mungkin bersedia menemuinya sambil membawa gadis itu dalam keadaan hangus seperti arang, tapi aku tidak mau. Dia hanya seorang seorang gadis, apa yang bisa dilakukannya?
Kebakaran? Puri Sare kebakaran? Aku mengendus udara tapi tidak mencium apa pun. Namun, Puri Sare sangat luas, dan asapnya mungkin belum sampai… ke tempat mana pun aku berada.
Aku balas mengangguk pada pria itu dan tidak bergerak saat dia merengut lengan atasku dan menarikku. Pria lainnya memelototiku saat kami masuk ke koridor, lalu merengut tanganku yang lain. Bersama-sama mereka menarikku melewati sebuah koridor sempit menuju sebuah tangga. Melalui sebuah pintu yang terbuka, aku melihat botol anggur ditumpuk sampai ke langit-langit, dan aku menggelengkan kepala. Selama ini aku berada di sebuah ruangan di gudang anggur bawah tanah Melani yang dialihfungsikan.
__ADS_1
Menaiki tangga dan melintasi beberapa koridor lain. Kedua pria itu tidak bicara; cengkeraman mereka yang membuat lenganku memar sudah mengatakan banyak hal. Aku harus mengambil dua langkah untuk menyamai setiap langkah kedua pria ini, jadi aku tidak punya kesempatan untuk menyadari sekeliling. Akhirnya, mereka membuka sepasang pintu yang menghadap ke sebuah halaman istal, dan kekacauan.
Ternyata memang ada kebakaran. Api menyala-nyala di atap bangunan yang berada di seberang halaman istal, menyinari malam hingga aku bisa melihat semua yang ada di dalamnya. Barisan orang yang membawa ember air sudah terbentuk, tapi kelihatannya rencana mereka nyaris terlambat. Beberapa pelayan perampuan berusaha mengatur sekelompok gadis pekerja dapur dan bocah istal, menggiring mereka menuju gerbang yang mengarah ke taman dan hutan di belakang rumah. Para pria pekerja istal, tempat apinya menyala-nyala paling liar, menarik hewan-hewan yang ketakutan menuju gerbang. Seluruh penghuni rumah kelihatannya berada di halaman istal atau meninggalkannya.
“ Kita harus membawanya kemana?” tanya Elon.
“ Keluar gerbang,” pria lainnya berkata. “ Kita akan mengikatnya pada sebatang pohon, mengawasimya.” Setelah mengatakannya, mereka menarikku ke tengah kekacauan.
Halaman istal merupakan sebuah alun-alun luas, ketiga sisinya diapit bangunan rumah dan istal, sedangkan sisi ke empat oleh gerbang terbuka dan ke sanalah aku diseret. Api meraung-raung marah di langit malam, bergerak lebih cepat dari orang-orang yang berusaha menghentikanmya, dan hawa panas dari apinya terasa seperti angin gurun.
__ADS_1
Bersambung