PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 80


__ADS_3

Aku menurunkan dagu dan menopangnya di atas tangan, siku bertumpu di atas lutut. Kami terpaksa mencari petunjuk mengenai identitas sosok berperisai di tempat lain.


“ Dia pergi, apa kau yakin? Dan tak ada cara untuk masuk keruangannya?”


Sambil mengusap tetesan air yang ditinggalkan gelasku di atas meja, aku menganggukkan kepala. “ Setelah kuliah aku menyelinap pergi, memberitahu Paula aku ingin mencari udara segar selama dia mengobrol dengan temannya. Aku berlari melintasi kampus menuju ruangannya. Kubilang pada sekretarisnya aku mengirim pesan pada Omar, tapi pria itu menyuruhku pergi. Kisah yang sama, seperti yang diceritakan Arsen.”


Aku membungkuk, menjauhkan kedua pundak untuk meredakan ketegangan otot. Dua hari sudah berlalu sejak ke kampus penyihir, dan aku belum bisa tidur nyenyak. Aku terus-terusan bermimpi mengenai seorang gadis tanpa wajah yang memanggil-manggilku, dan meskipun sudah tersuruk-suruk melintasi ladang, jalan, dan pegunungan untuk menghampirinya, aku tidak berhasil.


Devan mengempas cangkirnya di atas meja dengan kesal. “ Apa kau yakin dia mengatakan hal yang sebenarnya? Bisa saja dia berbohong padamu.”

__ADS_1


“ Aku ragu seluruh kampus ikut terlibat. Jika pelakunya Omar, dia takkan memberitahu siapa pun.”


“ Yah, ini memang mencurigakan, ya kan? tanya Devan. “ Dia pergi tepat setelah peristiwa yang kau saksikan. Mungkin dia menggunakan terlalu banyak sihir saat memperbarui mantra dan ingin menyembunyikannya dari semua orang. Atau mungkin dia takut ada orang yang melihatnya dan ingin bersembunyi dulu untuk sementara.”


“ Bisa jadi.” Aku tidak tahu berapa banyak energi yang dibutuhkan untuk memperbarui mantra, terutama khusus untuk satu orang. Devan benar, ini terlihat mencurigakan.


Kaki depan kursi Devan terangkat dari lantai saat dia bersandar jauh ke belakang, dengan kepala menengadah ke langit-langit. “ Musim gugur. Pada saat itu apa pun bisa terjadi.” Kaki kursi menghantam lantai lagi saat Devan membungkukkan tubuh. “ Dan aku tidak berhasil mendapatkan apa pun dari Riana. Dia bahkan tidak ingat bermimpi aneh semalam.”


“ Bahkan tak ada seekor tikus pun yang melihatnya. Kau benar. Entah Omar atau Melani, mereka melakukannya dengan sangat hati-hati.”

__ADS_1


Devan mengaitkan jemari dan menekuknya hingga berderak. “ Yah, kalau kita tak bisa menggeledah ruangan Omar, bagaimana dengan ruangan Melani?”


Aku menggigit bibir, berpikir, tapi akhirnya menggelengkan kepala. “ Setidaknya di kampus, aku bisa membawakan sesuatu dari Paula, dan jika ketahuan mengaku mengantarkan benda itu untuk Omar. Kau tahukan, berpura-pura bodoh, seakan-akan aku tidak tahu bahwa aku tidak boleh masuk keruangannya.


Mungkin dia bisa menerimanya, terutama kalau aku menunggu sampai Paula benar-benar ingin mengirim sesuatu untuknya. Tapi apa yang bisa kukatakan jika tertangkap di ruangan Melani? Selain di acara istana, kau belum pernah mengobrol lebih dari tiga kata dengannya. Lagi pula, Melani memiliki seluruh keluarga Sare untuk di titipi barang bukti dalam rencana apa pun. Dia takkan membawanya ke istana, tempat para pelayan yang tidak terlalu dikenalnya membersihkan kamarnya setiap hari.”


Devan meringis. “ Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?”


Aku menyandarkan tubuh dengan lunglai. Di sekeliling kami penginapan terasa riuh dan terang benderang, cahaya kuning lentera berkelip di dinding, orang-orangnya lelah dan bahagia, hari panjang mereka sudah usai. Ini membuatku ingin merangkak ke bawah meja. Aku tidak tahu harus berkata apa pada Devan. Ini terlalu berat; aku harus melaporkannya pada Paula, atau raja dan ratu, atau orang dewasa mana pun yang mau mendengarkan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2