PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 37


__ADS_3

“ Nah, besok ada kereta yang pergi ke arah sana. Dan…”


Bibi Vania berdiri sambil terus bicara, tapi tiba-tiba terdiam saat melihatku. Tatapannya beralih dari kakiku yang mengenakan sendal ke rambutku yang ku kepang lalu kulilitkan di sekeliling kepala. Lidahnya berhenti di antara bibirnya, & aku melihat lehernya bergerak saat menelan ludah.


“ Tapi kau mau pergi dari sini, ya kan?”


Aku sudah menyiapkan sebuah pidato, sebuah penjelasan panjang yang kupikir akan kubutuhkan saat menemuinya. Sekarang semua itu menghing, & aku kebingungan mencari kata-kata. Jadi, aku hanya mengangguk.


“ Kau akan kembali ke kota?” Anggukan lagi.


“ Hari ini, kalau bisa?” Anggukan


“ Kurasa kau punya uang untuk membayar sebuah kereta jika ada yang mampir ke sini?”


Sepertinya baru pada saat itulah aku ingat caranya bicara.


“ Maafkan aku. Mereka memberikannya padaku saat pergi. Untuk ‘ jasaku terhadap kerajaan.’ Aku tahu seharusnya kuberikan padamu, tapi kupikir….”

__ADS_1


Aku mengulurkan tangan & mengedikkan bahu.


“ Kupikir mungkin aku akan membutuhkannya .”


Bibi Vania hanya menyentakkan kepala, tapi aku tidak tahu apkah itu sebuah anggukan atau bukan.


“ Bisa dipahami. & itu milikmu. Lagi pula, aku tidak memghabiskan hidupku dengan menggantikan posisi seseorang yang bisa dibunuh kapan saja.”


Aku terenyak saat mendengar ucapan terus terangnya, bahkan meskipun aku tahu itu memang benar. “ Tapi kau menerimaku di rumahmu.”


Bibi Vania mengedikkan pundak kurusnya.


Bibiku duduk di atas tunggul pohon tempat Devan meletakkan peta kemarin.


“ Sikapku padamu tidak hangat, Amelia. Aku tidak menghiburmu, atau mempermudah adaptasimu, atau bahkan menyukai teman-temanmu.”


“ Dia bukan temanku,” aku cepat-cepat berkata, pipiku merona.

__ADS_1


Bibi Vania mengerjap saat mendengarnya, nyaris terlihat ingin menanyakannya, tapi dia hanya bicara,


“ Maafkan aku kalau aku membuat keadaanmu lebih sulit. Aku hanya bisa bilang aku tidak menduga kedatanganmu. Aku sudah terbiasa dengan kehidupanku, & aku tidak menyukai gangguan. Meskipun begitu, sekarang sudah dua kali aku memperlakukanmu dengan tidak adil. Aku tidak menyambutmu, bahkan saat aku tahu kau baru saja melalui masa sulit, & aku membiarkanmu menemukan sihirmu secara tidak sengaja, bukannya memperingatkan kemungkinannya. Maafkan aku atas semua itu.”


Aku tidak tahu harus berkata apa. Jarak di antara kami terlalu jauh, sangat jauh hingga aku merasa tidak akan pernah bisa mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. Namun, dia satu-satunya kerabatku yang masih hidup, & aku merasa ada sebuah sumur gelap yang terletak jauh di dalam diriku, kosong, padahal seharusnya penuh. Seandainya saja keadaannya berbeda, seandainya saja kami berbeda.


“ Terima kasih,” akhirnya aku berkata. “ aku juga minta maaf, karena tidak bisa menyesuaikan diri di sini.”


Tiba-tiba Bibi Vania mendengus. “ Jangan konyol. Tempatmu bukan di sini. Sejak dulu juga bukan. Mereka merusak kemungkinanmu untuk hidup normal. Itu bukan salahmu. Tak ada yang bisa kaulakukan.”


Bibi Vania mendesah, seperti seseorang yang berbaring di atas tempat tidur untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu.


“ Lebih baik kau tinggal di Vivaskari. Tapi apa yang akan kaulakukan di sana?”


Aku menggelengkan kepala. “ Entahlah. Kurasa aku akan mendatangi kampus penyihir & mencari tahu apa yang harus dilakukan agar diterima di sana. Kalau mereka tidak mau menerimaku, yah….”


Rasa takut yang sejak tadi berusaha kuabaikan mencengkeram kerongkonganku hingga sejenak aku tidak sanggup bicara.

__ADS_1


“ Aku akan mencari jalan. Aku mengenal kota; di sana aku merasa seperti berada di rumah sendiri.”


Bersambung


__ADS_2