
“ Kita takkan merusaknya,” tegasku. “ Kita hanya akan melihat-lihat. Lagi pula, sejak kapan kau mengkhawatirkan penghujatan terhadap sang Dewa?”
Devan mendengus, tapi pelan. “ Kalau begitu, ayo.” Aku mengangguk, berharap Devan bisa melihatku di dalam gelap. Bulan berwarna perak pucat menggantung di langit, memancarkan cahaya redup, dan meskipun aku bersyukur atas perlindungannya, ini juga membuatku sulit melihat. Dan aku juga berharap bisa menggunakan sebuah versi lemah perisai pandangan pada tubuh kami—semacam mantra ‘jangan melihatku’. Tetapi aku tidak bisa, jadi kami terpaksa melintasi Siderros dengan cara kuno.
Kami berjalan pelan, mengendap-endap dari satu bayangan ke bayangan yang lain, berdoa tidak ada seorang pun yang memutuskan untuk menyelinap ke dapur mencari kudapan tengah malam atau melawan kesulitan tidur dengan jalan-jalan tengah malam. Jantungku bertalu-talu di dalam dada hingga aku merasa sedikit limbung. Ini lebih buruk dari mengendap-endap ke perpustakaan. Kami bisa mendapat masalah karena mengendap-endap ke perpustakaan, aku cukup yakin soal itu , tapi aku juga tahu itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang akan terjadi seandainya kami tertangkap mengganggu jasad peramal.
Gerbang pada pagar besi yang mengelilingi pemakaman kuil berderit saat kami mendorongnya hingga terbuka, hanya cukup lebar untuk kami lewati. Aku cepat-cepat mengintip ke belakang kami, yakin ada seseorang yang mendengarnya, tapi tak ada yang datang. Namun, ini tidak membuat kami merasa lebih baik, melainkan lebih buruk, seakan-akan nasib hanya menunggu sampai kami benar-benar mengabdikan diri pada jalan ini sebelum mencengkeram kami.
__ADS_1
Keringat sudah menetes-netes di punggungku saat kami tiba di monumen yang kami lihat tadi pagi, dinding batu pucatnya menjulang di atas kami. Kami merunduk di sisi seberangnya, berbelok di sudut dekat pintu, lalu Devan pergi memeriksanya.
“ Terkunci,” ujar Devan terengah-engah saat kembali. “ Benar-benar terkunci. Kita akan menimbulkan keributan yang cukup besar kalau berusaha membukanya dengan paksa. Apa kau yakin dia ada di dalam sana?”
“ Di salah satu jurnal yang kubaca hari ini ada yang membahas bahwa semua peramal dimakamkan di dalam sana. “ aku bertumpu di atas tumit dan menggigit bibir. “ Kalau begitu aku harus mencoba sebuah mantra.”
Aku memejamkan mata, berusaha mengabaikan perasaan gemetar akibat berdiri di sebuah pemakaman pada tengah malam buta, memaksa diriku untuk memikirkan apa yang akan dilakukan Paula. Namun, Paula mengetahui sebuah mantra sungguhan untuk membuka pintu, dan dia pasti bisa menggunakannya. Saat melihat ke dalam diriku, aku hanya merasakan kekuatan yang bergulung tak terkendali.
__ADS_1
Yah, baiklah kalau begitu, batinku. Kalau memang harus seperti itu….
Aku mengangkat tangan, dan meletakkannya di atas lubang kunci yang terpasang pada pintu kayu tebal. Kemudian aku memasrahkan diri, berusaha mengeluarkan energi berdenyut melalui tanganku dan mengempasku ke belakang hingga menabrak Devan. Kami tersungkur ke atas tanah dalam posisi bertumpukan saat terdengar suara letupan dan desisan kencang dari dalam lubang kunci.
Devan mendarat di atas tubuhku, sikunya menusuk tulang rusukku. Namun tak seorang pun dari kami berdiri; alih-alih, kami mendengarkan dengan seksama apakah ada orang lain yang mendengar kami. Saat tidak ada seorang pun yang datang, aku bergerak agar sikunya bergeser.
Bersambung
__ADS_1