PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 142


__ADS_3

Namun kami harus mendahului mereka, meskipun secara kasar aku tahu ke mana kami harus pergi, aku membutuhkan waktu untuk membaca peta dan mencari lokasi tempatnya.


Kami sudah tiba di Sapphire saat aku mengulurkan tangan untuk menarik Devan. Di sini kerumunannya semakin menipis, banyak penghuni Sapphire yang menghadiri penobatan. Jadi, kami berkerumunan di bawah bayangan sebuah pohon besar, Bella mengawasi para pengejar kami sementara aku dan Devan mempelajari peta.


“ Lihat,” aku berkata sambil menyentuh pelan petanya. “ Letaknya memang persis seperti dugaan kita dulu.”


“ Kita bisa melihat pohon besar di balik benteng, pohon dekat bangku tempat kita duduk saat… saat mereka memanggilmu,” Devan menyetujui. “ Kau yakin ini akan berhasil?”


Aku mengangguk, mengabaikan sengatan ragu di dalam diriku. “ Harus berhasil.”


“ Yah, kita akan mengetahuinya sebentar lagi,” tiba-tiba Bella berkata. “ Mereka berada di dasar bukit.”


Mereka sudah melihat kami tapi, beranggapan kami hanya memiliki sedikit tempat untuk bersembunyi, mereka menghampiri pelan-pelan, sama-sama melambat seperti kami tadi. Aku meringis saat membayangkan harus berlari lagi, tapi Bella dan Devan berlari dari balik pohon, aku menyusul mereka, sambil menggenggam peta.


Setelah menyusuri jalanan dan berbelok di sudut jalan, kami pun tiba di sana. Benteng istana terbentang di kedua arah, barat menuju gerbang istana dan timur menuju titik yang terhubung dengan benteng kota. Kami berlari pelan, aku dan Devan menatap ke depan mencari pohon yang terdapat di sisi dalam benteng yang menjadi penanda pintu. Aku tersandung karena terus mendongak, nyaris tersungkur di atas lutut, tapi Bella merenggut lenganku dan menarikku berdiri. Kemudian, tiba-tiba saja, aku melihatnya. Dedaunan hijau berayun di tengah embusan angin, bahkan dari atas dinding pun terlihat.

__ADS_1


“ Di sana,” desisku dan kami pun berhenti. Sebentar lagi anak buah Melani bisa menyusul kami.


“ Di mana?” tuntut Bella.


“ Seharusnya ada di sini,” aku berseru sambil membuka petanya. Ya, kami berdiri tepat di bagian luar tempat yang kutemukan bersama Devan berbulan-bulan yang lalu. “ Seharusnya ada di sini!”


“ Mungkin dia harus menyentuh dindingnya,” ujar Devan. Bella menyapukan tangan di atas dinding, menepuknya bagaikan seekor kuda, tapi tidak ada yang terjadi.


“ Dia ada di sini! Seharusnya pintu itu muncul untuknya,” erangku, merasa takut menatap ke balik pundak untuk melihat keberadaan para pria itu. “ Kau lihat?”aku menelusuri bagian bawah huruf rune. “ Perhatikan, siapa pun yang berusaha menemukan Pintu sang Raja. Ketahuilah bahwa pintunya hanya akan muncul untuk seseorang dengan darah kerajaan dan kalimat kerajaan.”


Aku menggelengkan kepala. “ Itu hanya omong kosong. Nama pembuat peta atau semacamnya.”


“ Tidak, bukan nama pembuat peta,” Bella berkata dari balik pundakku dengan suara aneh dan tegang.


“ Apa?” aku terkesiap, dan pada saat bersamaan Devan berkata, “ Kau bisa membacanya?”

__ADS_1


Bella mengangguk, matanya terbelalak.


“ Tapi aku tak bisa menerjemahkannya,” ujarku. “ Apa kau bisa membaca huruf rune kuno?”


Bella menggelengkan kepala. “ Tapi aku bisa membaca huruf itu.”


Darah kerajaan, batinku. Darah kerajaan dan…. kalimat kerajaan. Kalimat yang dieja sehingga hanya seseorang berdarah kerajaan yang bisa membacanya. “ Cepat! apa isinya?”


Bella menatapku, wajahnya memperlihatkan ekspresi yang sulit dibaca. “ Aku adalah Thorvaldor,” bisik Bella.


Cahaya terpancar dari dinding istana, sangat terang hingga aku harus mengangkat tangan untuk melindungi mataku sebelum cahaya padan.


Saat cahaya menghilang, aku merasa Devan merenggut tanganku dan mencengkeramnya erat-erat. Karena di depan sana, di tempat yang beberapa saat yang lalu berdiri sebuah dinding polos, terdapat sebuah pintu kayu kecil.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2