PUTRI PALSU

PUTRI PALSU
BAB 131


__ADS_3

Selain itu aku harus memikirkan Bella. Sang putri Thorvaldor, yang berhasil kutemuian.


Kesan pertamaku terhadap Bella terbukti sangat akurat. Dia memang secemas seekor rubah, mencurigai hampir semua orang, dan cepat bereaksi dengan ucapannya yang sering kali tajam dan kasar. Dia juga bisa setajam landak, membuatmu terluka akibat percakapan yang awalnya sederhana. Meskipun begitu, Bella merawat kudanya dengan kelembutan tak terduga, memanjakannya dengan memberikan sebagian makan malamnya selama dua malam yang kami habiskan di jalan. Bella menghadapi rasa sakit dan ngilu pada kakinya dengan tabah. Rasa sakitku sendiri cukup parah, tapi aku pernah berkuda secara teratur, jadi aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit Bella yang belum pernah menunggang kuda.


Namun, selain meringis setiap kali naik atau turun dari kuda, Bella tidak memperlihatkan tanda-tanda mengeluh. Dan Bella menyukai Devan, bahkan bercanda dengannya selama perjalanan. Tetapi kelihatannya dia belum yakin soal aku. Memang, dia sudah membantu menyelamatkan aku, tapi sepertinya dia menilaiku bagaikan angin yang meniupnya terlalu jauh dari rumah ke sebuah tempat yang belum tentu disukainya.

__ADS_1


Tidak mengherankan, aku berkata dalam hati. Selama ini Bella menjalani kehidupan yang berat, kalau dilihat dari beberapa kisah yang diceritakannya saat kami berhenti pada malam pertama di perjalanan, saat kami semua tidak bisa tidur. Bahkan, kisahnya sangat menyedihkan hingga aku agak malu saat memikirkan bagaimana aku mengeluhkan perubahan keadaanku. Setidaknya aku memiliki Paula, dan Devan, bahkan Bibi Vania, sedangkan satu-satunya orang yang menyayangi Bella dengan tulus adalah perempuan yang menerima Bella dari Melani.


Aku penasaran bagaimana Melani menyerahkan Bella pada perempuan itu, dan apa yang dikatakannya pada perempuan itu. Bella tidak mengetahuinya. Perempuan itu mengaku sebagai neneknya, dan sepertinya dulu Bella memang memercayainya. Mereka tinggal bersama di rumah mungil itu, susah payah bertahan hidup dengan mencari makanan di hutan dan membuat obat tradisional yang kadang-kadang bisa mereka jual di desa. Sebagian besar penduduk desa meremehkan mereka, dan Bella hanya punya sedikit teman. Itu membuatnya tangguh, tidak gentar, bersedia menilai sebuah keadaan dan mengatakan hal yang sebenarnya meskipun sangat menyakitkan.


Itu artinya dia ikut ke Vivaskari dengan sikap pasrah menerima takdir. Aku sudah memperingatkannya mengenai ramalan sang peramal, saat mendengarnya Bella hanya mendengus dan berkata bahwa dia memang tidak pernah berharap bisa hidup melebihi dua puluh tahun. Di satu sisi aku terkejut melihatnya setuju untuk ikut bersama kami. Namun, saat aku menanyakan hal itu padanya, Bella hanya mengedikkan bahu.

__ADS_1


“ Aku sudah mendapat kesempatan untuk memikirkannya, saat kami menunggu untuk membebaskanmu. Di luar sana ada orang lain sepertiku, orang-orang yang tidak pernah dipikirkan oleh raja atau ratu mereka. Pekerja keras, tapi tak beruntung. Kalau kalian bisa membuatku menjadi ratu, aku bisa membantu mereka.” Kemudian dia menyipitkan matanya padaku.


“ Mereka mengajarimu cara menjadi ratu, ya kan?”


Aku mengangkat alis dengan ekspresi datar. “ Selama enam belas tahun. Aku mempelajari semuanya, dan aku melakukannya dengan hebat. Tapi bukan berarti setelah itu ada gunanya.”

__ADS_1


pundak Bella terkulai. “ Yah, kurasa kau menganggapku konyol. Ikut dengan kalian hanya karena alasan itu.”


Bersambung


__ADS_2