
Devan menatapku, kali ini wajahnya yang biasanya tertawa riang terlihat serius seperti wajahku. Aku sangat ingin memeluk Devan lagi, mengizinkannya, sahabatku satu-satunya, menciumku sampai akhir dunia.
Aku tidak bisa melakukannya. “ Aku harus menemukannya,” bisikku. “ Aku harus melakukannya.”
Aku mundur satu langkah, mengangkat tanganku yang gemetar. Kulit di sekitar mata Devan berkerut saat mengernyit kebingungan. Air mata menggenangi sudut mataku saat memanggil kekuatanku, merasakannya bergulung di dalam diriku. Aku tahu mantraini, hatiku terasa hancur, pasti berhasil.
“ Maafkan aku,” desahku.
Cahaya putih menyala-nyala di atas telapak tanganku, meleset ke arah Devan dan membanjirinya dalam kecemerlangan. Devan bergetar dan memejamkan mata, kedua tangannya terangkat di depan wajahnya, dan semuanya berakhir. Aku menurunkan tangan bersama bahuku yang terkulai lemah.
__ADS_1
“ Apa itu?” Devan bertanya terengah-engah.
“ Sebuah mantra.” Aku nyaris tidak sanggup menatapnya. “ Untuk mencegahmu menceritakan Diana pada siapa pun. Kau takkan bisa membicarakannya, atau menuliskannya atau bahkan memberitahu seseorang soal mantranya. Itu sebuah penghalang, tapi hanya untuk masalah ini.”
Devan menelan ludah, matanya berkaca-kaca. “ Kau takkan menghilangkannya?”
Aku menggelengkan kepala. “ Tidak sampai aku menemukannya. Setelah aku menemukan Diana, mantranya akan berakhir dengan sendirinya.”
Tanpa Devan di sampingku? Tanpa Devan di sampingku yang selalu melindungiku, membuatku tertawa saat aku merasa putus asa? Rasanya pahit, seperti abu dan darah di lidahku.
__ADS_1
Devan maju mendekatiku dan memelukku. Aku punya firasat dia berusaha mengingatku, untuk mematrikan pelukanku di benaknya. Bibirnya bergerak di telingaku. “ Aku mencintaimu, maafkan aku. Kumohon, berhati-hatilah.
Kemudian Devan pergi, pintu terayun menutup di belakangnya, dan hatiku ikut pergi bersamanya.
Beberapa hari berikutnya berlalu dengan buram. Aku tahu seharusnya aku siaga, seharusnya mewaspadai serangan pembunuhan lain dari Melani, atau setidaknya, mata-matanya. Namun, mungkin dia merasa terlalu berbahaya atau terlalu cepat untuk melancarkan serangan berskala besar lagi, karena tidak ada keburukan yang menimpaku. Namun bahkan tanpa kekhawatiran mengenai itu pun, aku tahu seharusnya aku memikirkan Diana. Aku terpaksa menyelinap keluar Vivaskari tanpa sepengetahuan Melani dan mencarinya di tempat yang sangat berbahaya; Saremarch, kediaman pribadi Melani. Aku harus memikirkan cara untuk melindungi diriku dan menyelamatkan kerajaan.
Aku tidak bisa memikirkan apa pun selain Devan. Terkadang dalam marah, karena dia meninggalkanku. Kadang-kadang aku merasa Devan mengkhianatiku. Tetapi biasanya aku memahaminya. Aku sudah yakin dengan jalan yang kupilih, jalan yang memiliki kesempatan sangat kecil untuk berhasil. Bahkan sang peramal pun hanya memberiku kemungkinan selamat sebanyak satu banding tiga. Aku mengerti Devan tidak mau melihatku mati. Jadi aku tercabik antara merasa dikhianati dan ingin mengempaskan diriku ke dalam pelukan Devan dan menuntutnya agar mencintaiku selamanya.
Semuanya terasa berbeda saat aku masih menjadi putri. Saat itu aku harus menyaksikan kegenitan Devan dengan gadis-gadis lain dan setidaknya meyakinkan diriku bahwa hatinya ada di sana. Musah untuk memercayai bahwa, meskipun Devan selalu kembali padaku setelah rasa kasmarannya hilang, dia hanya ingin berteman denganku. Dan Devan pasti menyembunyikan perasaannya, memendam perasaannya sendiri, karena aku tidak akan diizinkan untuk menikahi seorang bangsawan Rithia kelas rendah, tak peduli apa pun harapan orangtuanya.
__ADS_1
Bersambung